Perfectly Perfect Life

Ada yang mengikuti serial Black Mirror? Saya mengetahui serial Netflix ini pertama kalinya dari Ajeng alias Miss Kepik. Penasaran karena biasanya yang ditonton Ajeng ini seru-seru dan berisi, gitu. Pas nonton rasanya stress, sih. YAWLA, INI SERIAL DITUJUKAN UNTUK BIKIN PENONTONNYA DEPRESI APA GIMANA? Cicipin, deh. Karena setiap episodenya, ya, nyambung banget sama kehidupan sehari-hari, kemajuan teknologi, dan media sosial. JRENG!

Anyway, salah satu episode yang paling relatable sama hidup saat ini adalah Nosedive, ada di season 3 episode 1.

nosedive1

See something familiar? Saat ini hidup kita udah begini, kan? Banyakan lihat ke ponsel atau gadget ketimbang melihat mata si lawan bicara. Settingan warnanya juga pastel mania gitu, pokoknya hidup di dunia Pinterest dan Instagram. Dan isinya tentang sentilan satir tentang citra yang ingin kita pajang di media sosial, bagaimana kita takut dinilai buruk oleh orang lain sehingga terkadang yang kita lakukan adalah palsu. Quoting the creator and writer, he said “it’s basically the world we living” -Charlie Brooker.

Terus kenapa, Ki?

Ya nggak apa-apa, sih, cuma ternyata ini bisa disambungin sama unggahan pendapat saya tentang seorang artis/penyanyi yang fotonya muncul di laman explore IG saya. Fotonya agak ganggu, buat saya yang juga menyusui anak saya. Mbaknya baru nyusuin 40 hari, saya waktu itu nyusuin 3.5 tahun :)) Fotonya memperlihatkan kalau mbaknya tidak bisa nyoblos sendiri karena sedang menyusui. Both hands were occupied and so her sister helped her to vote.

Tarik mundur dikit, saya mengalami kesulitan beradaptasi saat menyusui Menik. Butuh tiga bulanan untuk bisa ikut menyatakan kalau “menyusui itu mudah!” Tiga bulan pertama, sih, penyataan yang keluar “SIAPA YANG BILANG NYUSUIN ITU GAMPANG? HA?” x)) Nah, karena saya tahu menyusui (dan prosesnya) itu bersifat personal, saya coba cek IG mbaknya dulu, dan JRENGGGGGG… hehehehee.. Lah, kalau menurut mbaknya menyusui itu adalah hal yang natural dan mudah, kenapa susah-susah amat pas mau nyoblos? Petugas TPS juga kenapa bolehin, ya? Ceritanya pakai peraturan KPU nomor 31-32 (CMIIW) tentang keterbatasan fisik dan hak menyoblos. Yakali menyusui jadi keterbatasan fisiknya? Atau gimana?

Elena-Oliva-Photo-RS.jpg

Lihat, dong, Olivia Wilde. Nyusuin sambil makan? Not a problem!

Menyusui memang membutuhkan kekerasan kepala, menyusui memang boleh di mana saja, kapan saja, saya sering sekali menulis tentang hal ini. Ada tulisan saya untuk mendukung hal ini di sini. Lalu saya juga pernah menulis soal keputusan menyusui lebih dari 2 tahun, yup, I breastfeed my baby for 3.5 years! Dan masih banyak lagi, kenapa? Karena saya memang ingin semua ibu di Indonesia bisa menyusui, tapi menurut saya, ya nggak gitu-gitu amat, sih, hahahaha.. Memangnya mbaknya nggak mau merasakan nikmatnya menyusui sambil makan bakso, ya? Eh, itu mah saya aja kali, ya.. hauhauhaa.. skill dalam dunia ibu, tuh!

Saya nggak punya banyak foto menyusui pas Menik masih bayi, nggak ada yang motretin soalnya, HAHAHHA. Kalau yang ini, bahkan nggak pakai apron, dan saya bukan ibu-ibu pengguna daster. Saya geng kaos lebar, sih, hahaha.. but yeah, ini pilihan aja, yang penting bisa nyusuin di mana saja, kapan saja.

ebf

ebf2

Dan makin lama makin jagoan, nanti bisa gini: 


Nah, karena kaget dengan foto tersebut, saya otomatis nulis di Path. Saya cuma berbagi saran bahwasanya si mbak kudu latihan lebih giat, berbekal tangan yang sudah setrong, harusnya bisa nyusuin dengan satu tangan, hehehee.. di luar dugaan, yang komen BANYAK BANGET. I can say, that post was my top post so far in 2017, hahahaha.. Ya ampun, baru sekali itu ngepost di Path, komennya sampai 80-an. Belum lagi postingan selanjutnya dengan belasan komentar. Sampai saya bikin klaim bahwa saya nggak ada masalah apapun dengan mbak ini, tapi saya gerah dengan picture perfect di kehidupan IG-nya yang dipertontonkan ke banyak sekali followersnya.

Karena banyak sekali komentar, saya jadi scrolling ke bawah postingan mbaknya, kan. Di situlah saya jadi tahu kenapa BANYAK sekali yang ikut berpendapat di postingan saya. Hampir semua pernyataan si mbak di caption IG-nya ini terasa mengintimidasi dan snob. She even stated that baby blues doesn’t exist. Wow. I mean really wow. Mungkin baby blues-nya nggak mampir atau cuma selewat dalam hidup mbaknya, tapi jangan lupakan kasus-kasus baby blues di seluruh dunia bahkan post partus depression yang memang ada. Kalau saya mencoba jujur dan bercerita di sini. Bisa juga coba mampir ke www.scarrymommy.com  atau cek www.tovaleigh.com, deh. Bagaimana kehidupan nyata ibu-ibu di seluruh dunia ini ditulis dengan apik, dan ya.. apa adanya.

Maksudnya begini, kalau memang mau menampilkan kehidupan yang bahagia adem wangi sepanjang masa di IG-nya sih, nggak masalah, tapi yang bener aja, dong pencitraannya. Bikin deg-deggan ibu-ibu yang melahirkannya dalam jangka waktu berdekatan, loh. Nggak empati banget sama yang kena baby blues, kena seret ASI, payudara bengkak dan lainnya. Sebaik-baiknya kan saling mendukung dan berbagi, bukan membuat pernyataan snob yang mengakibatkan ibu-ibu lainnya gempeur.

Terus inti dari postingan ini apa?

Apa, ya? Hahahaha, sirik tanda tak mampu. Itu, sih kayaknya, hauauahuahaaa… Sirik karena lihat feed IG-nya sempurna banget, ibu-ibu lain mah, nggak ada seujung kukunya. Ibu-ibu yang mompa sambil ngetik di cubicle-nya atau ibu-ibu yang nyusuin sambil belanja di pasar buat masak makanan nanti di rumahnya, nggak ada apa-apanya. Pokoknya klean semua nggak ada apa-apanya karena hidup klean nggak seindah Instagram dan Pinterest. Begitu, tuh, kira-kira, ya.. rasa dari postingan foto dan captionnya.

dan saya jadi ingin mengajak mbaknya untuk nonton Nosedive dan akhirnya ingin mbaknya untuk ikut teriak “F*CK YOU WORLD” kalau memang selama ini ada banyak sekali kegundahan yang tersimpan dalam hati, dalam diri sendiri, karena tidak ingin orang lain melihat hal-hal yang sebenarnya terjadi. Lalu baca ini http://www.scarymommy.com/mothers-mental-health-is-everything/ 🙂 Yup, because it’s okay to say “I am not fine!” because we are human, and we’re full of flaws. And it’s okay. Really.

Saya baru jadi ibu selama lima tahunan, saya cuma mau bilang ke ibu-ibu di luar sana bahwa kita boleh merasa sedih. Kita boleh merasa marah, bahkan boleh merasa “kok gini amat, ya, punya anak?” Kalau baca postingan Dewa kemarin di Path “pengin gue pites deh ini anak!” Tentunya Dewa nggak akan mites anaknya beneran, it’s just a feeling. And it’s good to release it. Beneran, deh. Nggak usah takut dengan penilaian orang lain. Karena sesungguhnya sibuk dengan urusan nilai di dunia ini nggak akan ada habisnya. Bagus kita nggak hidup di dunia Nosedive, di mana semua orang bisa menilai dengan gamblang citra yang  ditangkap olehnya. Kita nggak tahu apa yang mereka lihat, mereka akan menilai kita, dan kita juga melakukan hal yang sama. Tapi yang menjalani hidup kita kan kita sendiri. Bukan orang lain. People do judge, so what?

15826558_10154492045654145_3322795877660214602_n

Menjadi ibu adalah hal yang sifatnya seumur hidup. Tidak bisa ditanggalkan dan diabaikan. So be ourselves, be kind to ourselves. Menjadi ibu yang baik dan sempurna adalah impian semua perempuan yang melahirkan, tapi bukan berarti berlebihan dan menjadi jahat ke orang lain. Untuk mbak artis yang baik, jika memang yang ditampilkan di media sosial adalah nyatanya dalam hidup Anda, saya mau menyampaikan permohonan maaf karena salah memberikan penilaian. Karena saya juga seorang ibu dan selama ini hidup bersama dengan banyak ibu-ibu lainnya, dan selama ini belum pernah ketemu sama ibu yang nyoblos dengan bantuan orang lain hanya karena sedang menyusui, hehehe..

13516175_10153935302469145_7880854504923581145_n

So mothers, stay calm, and don’t worry about being a non-flawless mom.


Tambahan cerita nih, saat awal melahirkan, buat jawab pertanyaan yang datang soal “emangnya lo langsung jagoan, ya?”:

Kelihatan bagaimana Menik bisa saya gendong hanya dengan satu tangan, ya. Sering sekali Menik saya gendong atau susuin satu tangan, dan tangan yang satunya saya gunakan untuk makan, minum, mindahin saluran tv, masukin cucian ke mesin, dan lainnya. Menik adalah bayi bau tangan, alias maunya digendong melulu. Sekaligus saya tambahkan info, hehe, kalau Menik saya urus sendirian, nggak bisa nggak karena memang tidak ada bantuan. Saya hanya tinggal bertiga dengan suami dan Menik di apartemen kecil. Jadi Menik sudah saya mandikan sendiri sejak usia 3 hari alias sejak pulang dari RS 😀 Bukan snob ya, ini, realita aja hahahaha.. dan emang sedih plus capek rasanya. Cerita bagaimana saya mendapat julukan “si susah nyusuin” sudah sering sekali saya ceritakan, online maupun offline. Cerita saya nangis di bawah blower AC?  Nanti ajalah, ya. Tapi iya, saya frustasi saat menyesuaikan diri menjadi ibu. Sampai sekarang masih, sih, hahahhaa! Dan percayalah, perjalanan masih sangat panjang 😀

 

 

Advertisements

Main Ibu-Ibuan

Waktu kecil pada pernah main ibu-ibuan nggak? Dalam bayangan saya dulu, main ibu-ibuan adalah hal yang paling menyenangkan. Gendong boneka bayi pake kain, masak, ke pasar, dan menyiapkan makanan. Sesekali memarahi (atau menasihati) boneka-boneka pendukung, atau memberikan uang untuk jajan si anak, sebagai tanda kekuasaan seorang ibu x)) Role playing as a mother is the best!

Sekarang pas udah jadi ibu beneran gimana rasanya?

HAHAHA! Ketawa dulu biar hepi ceritanya :p

Is it that bad? Well, to be honest, it is not that bad. It’s intriguing, if I may use that word.

391748_2662232115400_377682691_n

Well, sejak jadi ibu beneran, hidup saya sebagian besar habis seperti gambar di atas : ketiduran saat ngelonin si anak. Awalnya karena menyusui. Kebiasaan ini jadi terus terbawa sampai sekarang, pokoknya kalau saya ngelonin Menik, potensi ketiduran naik 80%! Dulu sih katanya karena salah satu hormon menyusui yang membuat ibu merasa rileks, sehingga ibu ikut istirahat saat anaknya istirahat. TAPI SEKARANG SAYA KAN UDAH NGGAK NYUSUIN! Kok tetap rileks dan ketiduran? x))

Ternyata yang lupa dimainin dan dibayangin pas kecil itu adalah peran ibu itu melelahkan, gaes!

Bayangin aja, ada tanggung jawab nyawa seumur hidup. Dipercayakan untuk dibesarkan jadi manusia sholeh. Capek bingit dari mulai hamil, melahirkan, nyusuin, nyiapin makanan, mikirin menu MPASI, jagain 24 jam, ngajarin jalan, nanggepin omongan bayi yang cuma ibu seorang yang mengerti, mandiin, nyawein, makein baju, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.

Eh, berarti ibu saya dulu nggak pernah keliatan capek kali ya, di depan saya? Jadi saya pas main peran gitu, anggapannya jadi ibu itu ya gitu aja.

Ya bener juga sih tapi, gitu aja tiap hari.

Sekarang anaknya udah mau lima tahun. Makin banyak akalnya, makin banyak energi yang harus disiapin buat menghadapinya.

Terus berarti saya mengeluh? Haha.. Namanya juga manusia, ada saat positif, ada saat negatif. Kalo positif sama positif, mental dong nanti! I am just saying that being a mother is not as good as you those Instagram’s pictures. Tapi nggak usah dibayangin segitu jauh juga, sih. Nggak segitu parahnya juga, kok. Apalagi kalo punya support system berisi ibu-ibu sepantaran, sealiran yang siap siaga berempati dan mendukung apapun yang perlu didukung. Plus menjadi pengingat saat ada sesuatu yang harusnya tidak dilakukan atau sekadar memberikan saran jika dirasa ada yang kurang benar untuk dilakukan.

Nah, berarti siap-siap geng-gengan, gaesss! Geng apa, nih, Saz? Geng nyinyir yang menganggap nyinyir itu salah padahal anggapan tersebut juga disampaikan secara nyinyir? *lah, ribet* Ini mah geng nero SMA rasanya, bukan geng ibu-ibu. Situ ngerasa masih SMA? *eh*

:))

Kalo ibu-ibu, tuh, biasanya soal pilihan. Geng ASI x SUFOR, Normal x Caesar, MPASI Konvensional x BLW, Tiger x Elephant Mom, dan masih banyak lagi kategori-kategori yang cukup bikin sakit kepala dan sakit hati kalau enggak kuat mental ngadepin nyinyiran grup yang saling bersinggung. Padahal, mah, yang namanya keyakinan ya jalanin aja sendiri, kan? Ambil keputusan dan nikmati hasil dari keputusan tersebut. Salah ambil keputusan? Perbaiki aja, namanya juga manusia.

Iya, namanya juga manusia. Ibu juga manusia. Nggak selamanya ibu itu sempurna. Human being make mistakes. We are all flawed, right? Jadi nggak usah merasa nggak sempurna ketika kita merasa capek menjalani peran sebagai ibu. We can not escape, for sure, but we are allowed to feel exhausted. Jadi boleh, lah, sesekali bilang “pengin kopi enaaakk!” di sosial media, entah iya beneran nantinya (di)beli(in) kopi atau akhirnya hanya sekedar tulisan belaka. Tapi sedikit meneriakkan rasa atau keinginan yang ada dalam hati saat lagi merasa di titik terendah dalam menjalankan suatu peran, adalah hal yang wajar.

“Hayati lelah, gaes!”

Biarin aja, sih, dia ngeluh. Daripada depresi trus berakibat yang fatal? Kan, nggak lucu, gaes! Main ibu-ibuan nggak akan jadi hal yang lucu lagi. Padahal supposed to dijalankan dengan hati senang dan ikhlas, katanyaaaa, agar menghasilkan bibit-bibit unggul generasi penerus bangsa.

Satu hal yang pasti, sih, yaaa.. salah satu dari banyak hal yang paling menakjubkan dari jadi ibu beneran adalah ketika menyadari ada manusia yang tumbuh dalam pegangan kita. Dari 3.3 kg jadi 15 kg. Dari cuma bisa nangis sampe bisa berargumentasi. Kayak gini, nih, misalnya:


Kalau lihat begini, rasanya beruntung banget bisa menjalankan peran jadi ibu beneran. Walau ada rasa capek bahkan rasa frustasi yang (sering) menghampiri, tapi dapat anugerah untuk bisa begini tuh, susah dijelaskan dengan kata-kata. Terkadang juga rasanya bertanya-tanya “kenapa gue bisa ngerasa gini banget ya ke anak?” :))

Word to describe? Beyond amazing!

Anyway, gimana main ibu-ibuannya selama ini? Banyakan senengnya apa sedihnya? banyakan nyinyirnya atau banyakan ilmunya? x))

My Antidepressants

wrz

You know, sometime life doesn’t go as we planned. That reality bites, and that sweet happy moments are only on Instagram. That super clean houses are only on Pinterest. Yup, that moment when you realize that reality is suck, but we have to suck it up. And to help us to sucked it, we need people who will hold our hands and say “damn! That’s sucks, but that is what we called life!” No-sugar-coated. Those people are our real friends.

I wrote once about my new friends that turned to be my silver lines, and yesterday, I found this article on Scary Mommy, about Mom Squads. It speaks me x)) Let me quote:

“Mom Squads do more than give you someone to hang out with as you ignore your kids murdering each other over Legos. Mom Squads are more than a venting ground or a way to avoid staring at the microwave clock willing it to change from 3 p.m. into 9 p.m. Mom Squads are your nonjudgmental sanity, solace, and the reassuring voice calling the pile of laundry on your coffee table “decorative art” (because hello, they have one too!).

Mom Squads are antidepressants in person form. They’re free, they’re reliable, and they make everything a lot more fun—even potty training.

Mom Squads don’t expect perfection or the appearance of trying to be perfect. If you don’t have snacks for play groups, they’ll bring some, and if your house looks like the aftermath of a Jurassic Park invasion, they’ll help you clean, and vice versa. When it’s New Year’s Eve, they’ll bring the whole family (plus booze) over at 7 p.m. for a halfway-to-Ball Drop pizza party ending in synchronized tantrums at 10 p.m.

Mom Squads give you the freedom to complain about feeling like a loser as your childless friends post Facebook photos of their fabulous Japanese vacation. Meanwhile, you took an unfabulously atrocious trip to Disney on Ice (which was an adult-beverage-free zone, and they were checking purses!). Hell, next time your Mom Squad will go too, because no one should suffer alone.

Mom Squads remind you that you’re still your own person, despite the fact that part of your DNA is currently spitting chunks of Play-Doh out of their mouth, screaming, “I’m vomiting boogers!” Mom Squads understand that sometimes you just need leggings to be considered pants, or boxed mac and cheese to be considered a healthy dinner, and because your husband is able to poop in peace, you sometimes don’t love him.

Best of all, while your childless friends are just eating dinner at 8 p.m., Mom Squads are ready to go out for a drink or, better yet, come over in their pj’s to relish being able to guzzle cheap wine, chat, and stuff your faces without being interrupted to break up fights, change a diaper, peel someone’s banana, or counsel them through the rage of being unable to cram a life-sized plush Elmo into a Little People airplane.” 

I know, right? You do feel the same. We are on the same page, that we need this squad as our antidepressant and to make us stay sane in between. Because as we know, we have husband to be with us till death do us apart, but sometime they just don’t get it. We need our squad to laugh hysterically together about things that our husband could not relate. So yes, we need to be in one squad. Find or built one for your own sake! 🙂

Have a nice Monday!

 

First Post in 2016: Dear Luminim…

Saya pernah baca sebuah artikel parenting, yang bilang bawah support group untuk ibu itu penting. Waktu baca itu, saya tertawa remeh dan menganggap itu hanyalah bisa-bisanya si psikolog. Menurut saya, support yang paling dibutuhkan dalam menjalankan peran sebagai ibu adalah suami alias pasangan kita sendiri.

image

Hingga akhirnya saya bertemu dengan beberapa orang yang awalnya berada dalam grup WA untuk memberikan update keberadaan Almh. Alma yang waktu itu hilang di Nepal. Grup ini berisi ibu-ibu yang kebetulan masuk di kelas hari Rabu Jejakecil, plus satu yang anaknya masuk hari Sabtu. Si sempilan ini masuk karena doi yang punya akses vip ke almh. Alma.

image

Ternyata grup ini berlanjut hingga sekarang. Berganti nama dari #UpdateAlma menjadi #AgakWaras 😅 I know, such a lame name. But our profile picture says it all.

image

Tanpa sengaja, grup WA ini menjadi support group yang baik. We talk about everything. Not almost. But every single thing. Apapun kami bicarakan. Kadang grup jadi tempat sampah untuk membicarakan rekan kerja yang menyebalkan, tagihan yang membumbung, makanan yang enak, bagi-bagi kredit gojek, sampai warna dan merek lipstick terbaru. Tentunya pembicaraan seputar anak, ya, ada. Dari mulai tantrum, kebiasaan makan, hingga pilihan odol. Supportive juga soal nyinyir. Supportive soal kesehatan *hello #workoutbuddy* 💪 dan masih banyak lagi pembicaraan yang kami support.

image

Lalu, kenapa first blogpost di tahun 2016 ini untuk mereka? Teruntuk Amie, Anya, Ayu, Bundi, Olva, dan Serungke. Terima kasih untuk pengetahuan seru yang selalu dibagi dan terkadang membuat saya tertawa sendiri. Terima kasih untuk bisa apa adanya. Terima kasih untuk omelan, teguran, dan tawaran solusi untuk membuat semua lebih baik. Untuk membuat hidup sebagai ibu terasa lebih tenang. Untuk membuat hidup sebagai perempuan terasa lebih nyaman.

image

Terima kasih juga untuk kehaluannya, ya. Halu bener kita claiming nama Luminim. Seolah-olah badan dan bengeut model kita teh, ya! 😂

image

Happy new year to all of you. Peace, love, and gawl! 💋

Mother, You Gotta Be Strong!

image

Masih ingat beberapa hari lalu, saya tulis obituary untuk Air Aksara Maulida? Tulisan tersebut, setelah dibaca berulang, membuat saya merasa, teman saya yang satu ini punya kekuatan sebagai seorang ibu. Membuat saya tersadar, ketika jadi ibu, ada kekuatan yang harus disiapkan untuk mengatasi kesulitan. Membuat saya menanamkan pada diri: kalau ada hal buruk terjadi, saya harus bisa kuat seperti dirinya.

Kekuatan ini rasanya pertama kali muncul saat ibu akan melahirkan anaknya. Terlepas dari teriakan menahan rasa sakit saat kontraksi atau rintihan menahan sakit jahitan sesuai di operasi, tapi ada kekuatan yang muncul untuk berjuang mengantar anak ke bumi. It hurts like hell but mother done that, bahkan berulang kali, kan?

Saat anak sakit misalnya, ada kekuatan yang membantu mata dan tubuh tetap terjaga agar bisa memantau suhu tubuh, membantu mengambil minum, atau menggendong dan mengantarnya ke kamar mandi.

Olva memang galau, sedih, bingung, tapi ada kekuatan yang mendorong dirinya untuk berpikir mencari pertolongan secara maksimal. In her case, she poked me on Whatsapp.

Ini sudah kesekian kalinya saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana seorang ibu mencoba untuk kuat saat menghadapi cobaan berat soal si anak: anak kecilnya berjuang untuk hidup namun ternyata gagal dan akhirnya meninggalkan dunia lebih dulu daripada ibunya.

Terbayang bagaimana beratnya hati yang mungkin terasa seperti jatuh ke dalam bumi hingga lutut lemas namun harus bisa berdiri, menggunakan akal sehat, agar tidak ada hal-hal negatif lainnya yang terjadi.

Olva, thank you for being a good role for young mother like me. Terima kasih sudah memberikan contoh bahwa rasa dan akal sehat harus dipegunakan dengan baik. Terima kasih untuk memberikan contoh bahwa meraung, meratapi kematian tidak ada artinya. Yang berarti adalah kiriman doa untuk nyawa yang sudah diambil kembali oleh sang pencipta.

Mungkin ada yang tanya, tahu darimana kalau Olva itu kuat? Well, foto diatas diambil hari Rabu kemarin tanggal 15 April, 4 hari setelah duka terjadi. Olva dan suaminya pergi mengantar Biru, anak pertamanya ke kelompok bermain seperti biasa. Jahitan bekas operasi masih sakit, payudara penuh air susu masih membengkak, tapi senyumannya ada terutama untuk Biru dan suaminya.

(Untuk Olva.. Yogjakarta, 19.04.2015)

Peer Pressure

Any of you realize that living as a mother will stressed you out? Especially about kid’s milestone. Well, I know exactly I can not compared. I shall not compared. Because every kid is unique. But I can not hold myself when I found out about my kid’s friend who can read already while the kid is just 1.5 year.

path1 path2

and after reading all comments popping up on my notification icon, I can’t stop giggling. Because I know, this kind of pressure won’t stop until you die. So what you really need is a bunch of friends who eventually know how to put you back on the ground and don’t let that looking too green grass bother you up. Thank you, friends! =*

Have a good Sat!

Feature image from here

Perkenalan Menik Dengan Makanan Padat

Akhirnya, salah satu fase yang saya tunggu-tunggu datang juga: NGASIH MAKAN MENIK! hehehee..

Setelah enam bulan hanya mengkonsumsi ASI, tiba saatnya Menik mendapatkan asupan tambahan lewat makanan padat, atau biasa disebut MPASI (Makanan Pendamping ASI). Dibanding menyiapkan alat-alatnya (ini heboh juga sih, liat aja postingan saya yang ini), saya juga jungkir balik membaca kanan kiri, konsul dengan DSA soal pemberian MPASI. Beberapa hal yang saya terapkan adalah:

  1. Four Days Rule: Aturan memberikan makanan yang sama selama empat hari berturut-turut untuk mengenalkan jenis makanan dan melihat reaksi tubuh si anak, apakah ada alergi atau intoleran terhadap makanan tersebut. Tidak perlu takut “aduuh ntar anak saya bosen gak nih dikasih makanan yang sama aja selama 4 hari berturut-turut” karena bayi belum mengenal rasa apapun.
  2.  Cerealia diawal MPASI. Sebetulan ‘aliran’ MPASI ini buanyaaaaaaaaaaak banget, tapi karena keluarga saya ternyata adalah penganut ‘aliran’ cerealia, maka ketika dokter Wati bilang “kenalkan dengan bubur susu terlebih dahulu”, saya langsung ‘klik’. Golongan beras-berasan ini dipercaya paling rendah resiko menimbulkan alergi.
  3.  Homemade food is good. Saya ini anaknya seneng jajan, tapi buat saya masakan ibu (yang jarang-jarang ada) itu tetap yang paling enak. Mengikuti apa yang ibu saya lakukan buat saya ketika saya masih bayi, maka saya memutuskan untuk memasak sendiri makanan untuk Menik. Bahkan tepung beras yang saya sajikan untuk Menik-pun saya buat sendiri: bawa beras ke tukang giling, dijemur, disangrai, kemudian dimasukkan ke tempat yang kedap supaya lebih tahan lama. Untuk mendukung ini, saya gabung di milis mpasirumahan.
  4. Eating is fun. Ya, saya mau membuat sesi makan ini adalah sesi yang menyenangkan. Dengan begitu, mudah-mudahan Menik tidak perlu didistraksi dengan mainan, televisi, dan jalan-jalan untuk menghabiskan makanannya. Ibu bisa mendidik saya seperti itu, kenapa saya tidak? 😉

Dan setelah meyakinkan plus memperkaya diri, akhirnya hari ini saya mulai praktek, deh. Iya.. 17 April 2012 adalah hari pertama Menik makan.. saya senang dan cenderung over excited! hahahaa

MPASI Weapons!

Dimulai dengan memasak bubur susu (tepung beras, campur pake air, masak sampe mateng. Ambil sebanyak 2 sendok makan penuh, saring, encerkan pake ASIP), menggelar perlak, memasang tray di bumbo seat, menyiapkan satu mangkok+sendok untuk Menik, dan menyiapkan dua lap serta satu bib.

"Hello Solid Food, nice to meet you!"

How was it? I think, me and Menik did a good job! Bayangin, kata ‘bahan bacaan’, paling banyak, bayi hanya akan makan 2-5 sendok kecil saat pertama kali makan. Bagaimana dengan Menik? Habis satu porsi yang saya buat! 😀 Tidak pakai acara tutup mulut, setiap sendok yang saya suapin, masuk sempurna. Menik sibuk masukin sendok yang suda saya sediakan, sambil memukul-mukul tray didepannya. Minum air putih plus ASIP pun lancar dengan Doidy Cup tanpa gangguan berarti. Dalam hati sambil tersenyum bangga dan lega, saya bersyukur atas kelancaran acara makan pertama kali ini hahahaha.. Mudah-mudahan acara makan akan terus lancar, dan Menik tidak perlu kenalan sama yang namanya ‘Gerakan Tutup Mulut’ :p (Ngareeepp)

Enjoy solid food, my daughter!