Perfectly Perfect Life

Ada yang mengikuti serial Black Mirror? Saya mengetahui serial Netflix ini pertama kalinya dari Ajeng alias Miss Kepik. Penasaran karena biasanya yang ditonton Ajeng ini seru-seru dan berisi, gitu. Pas nonton rasanya stress, sih. YAWLA, INI SERIAL DITUJUKAN UNTUK BIKIN PENONTONNYA DEPRESI APA GIMANA? Cicipin, deh. Karena setiap episodenya, ya, nyambung banget sama kehidupan sehari-hari, kemajuan teknologi, dan media sosial. JRENG!

Anyway, salah satu episode yang paling relatable sama hidup saat ini adalah Nosedive, ada di season 3 episode 1.

nosedive1

See something familiar? Saat ini hidup kita udah begini, kan? Banyakan lihat ke ponsel atau gadget ketimbang melihat mata si lawan bicara. Settingan warnanya juga pastel mania gitu, pokoknya hidup di dunia Pinterest dan Instagram. Dan isinya tentang sentilan satir tentang citra yang ingin kita pajang di media sosial, bagaimana kita takut dinilai buruk oleh orang lain sehingga terkadang yang kita lakukan adalah palsu. Quoting the creator and writer, he said “it’s basically the world we living” -Charlie Brooker.

Terus kenapa, Ki?

Ya nggak apa-apa, sih, cuma ternyata ini bisa disambungin sama unggahan pendapat saya tentang seorang artis/penyanyi yang fotonya muncul di laman explore IG saya. Fotonya agak ganggu, buat saya yang juga menyusui anak saya. Mbaknya baru nyusuin 40 hari, saya waktu itu nyusuin 3.5 tahun :)) Fotonya memperlihatkan kalau mbaknya tidak bisa nyoblos sendiri karena sedang menyusui. Both hands were occupied and so her sister helped her to vote.

Tarik mundur dikit, saya mengalami kesulitan beradaptasi saat menyusui Menik. Butuh tiga bulanan untuk bisa ikut menyatakan kalau “menyusui itu mudah!” Tiga bulan pertama, sih, penyataan yang keluar “SIAPA YANG BILANG NYUSUIN ITU GAMPANG? HA?” x)) Nah, karena saya tahu menyusui (dan prosesnya) itu bersifat personal, saya coba cek IG mbaknya dulu, dan JRENGGGGGG… hehehehee.. Lah, kalau menurut mbaknya menyusui itu adalah hal yang natural dan mudah, kenapa susah-susah amat pas mau nyoblos? Petugas TPS juga kenapa bolehin, ya? Ceritanya pakai peraturan KPU nomor 31-32 (CMIIW) tentang keterbatasan fisik dan hak menyoblos. Yakali menyusui jadi keterbatasan fisiknya? Atau gimana?

Elena-Oliva-Photo-RS.jpg

Lihat, dong, Olivia Wilde. Nyusuin sambil makan? Not a problem!

Menyusui memang membutuhkan kekerasan kepala, menyusui memang boleh di mana saja, kapan saja, saya sering sekali menulis tentang hal ini. Ada tulisan saya untuk mendukung hal ini di sini. Lalu saya juga pernah menulis soal keputusan menyusui lebih dari 2 tahun, yup, I breastfeed my baby for 3.5 years! Dan masih banyak lagi, kenapa? Karena saya memang ingin semua ibu di Indonesia bisa menyusui, tapi menurut saya, ya nggak gitu-gitu amat, sih, hahahaha.. Memangnya mbaknya nggak mau merasakan nikmatnya menyusui sambil makan bakso, ya? Eh, itu mah saya aja kali, ya.. hauhauhaa.. skill dalam dunia ibu, tuh!

Saya nggak punya banyak foto menyusui pas Menik masih bayi, nggak ada yang motretin soalnya, HAHAHHA. Kalau yang ini, bahkan nggak pakai apron, dan saya bukan ibu-ibu pengguna daster. Saya geng kaos lebar, sih, hahaha.. but yeah, ini pilihan aja, yang penting bisa nyusuin di mana saja, kapan saja.

ebf

ebf2

Dan makin lama makin jagoan, nanti bisa gini: 


Nah, karena kaget dengan foto tersebut, saya otomatis nulis di Path. Saya cuma berbagi saran bahwasanya si mbak kudu latihan lebih giat, berbekal tangan yang sudah setrong, harusnya bisa nyusuin dengan satu tangan, hehehee.. di luar dugaan, yang komen BANYAK BANGET. I can say, that post was my top post so far in 2017, hahahaha.. Ya ampun, baru sekali itu ngepost di Path, komennya sampai 80-an. Belum lagi postingan selanjutnya dengan belasan komentar. Sampai saya bikin klaim bahwa saya nggak ada masalah apapun dengan mbak ini, tapi saya gerah dengan picture perfect di kehidupan IG-nya yang dipertontonkan ke banyak sekali followersnya.

Karena banyak sekali komentar, saya jadi scrolling ke bawah postingan mbaknya, kan. Di situlah saya jadi tahu kenapa BANYAK sekali yang ikut berpendapat di postingan saya. Hampir semua pernyataan si mbak di caption IG-nya ini terasa mengintimidasi dan snob. She even stated that baby blues doesn’t exist. Wow. I mean really wow. Mungkin baby blues-nya nggak mampir atau cuma selewat dalam hidup mbaknya, tapi jangan lupakan kasus-kasus baby blues di seluruh dunia bahkan post partus depression yang memang ada. Kalau saya mencoba jujur dan bercerita di sini. Bisa juga coba mampir ke www.scarrymommy.com  atau cek www.tovaleigh.com, deh. Bagaimana kehidupan nyata ibu-ibu di seluruh dunia ini ditulis dengan apik, dan ya.. apa adanya.

Maksudnya begini, kalau memang mau menampilkan kehidupan yang bahagia adem wangi sepanjang masa di IG-nya sih, nggak masalah, tapi yang bener aja, dong pencitraannya. Bikin deg-deggan ibu-ibu yang melahirkannya dalam jangka waktu berdekatan, loh. Nggak empati banget sama yang kena baby blues, kena seret ASI, payudara bengkak dan lainnya. Sebaik-baiknya kan saling mendukung dan berbagi, bukan membuat pernyataan snob yang mengakibatkan ibu-ibu lainnya gempeur.

Terus inti dari postingan ini apa?

Apa, ya? Hahahaha, sirik tanda tak mampu. Itu, sih kayaknya, hauauahuahaaa… Sirik karena lihat feed IG-nya sempurna banget, ibu-ibu lain mah, nggak ada seujung kukunya. Ibu-ibu yang mompa sambil ngetik di cubicle-nya atau ibu-ibu yang nyusuin sambil belanja di pasar buat masak makanan nanti di rumahnya, nggak ada apa-apanya. Pokoknya klean semua nggak ada apa-apanya karena hidup klean nggak seindah Instagram dan Pinterest. Begitu, tuh, kira-kira, ya.. rasa dari postingan foto dan captionnya.

dan saya jadi ingin mengajak mbaknya untuk nonton Nosedive dan akhirnya ingin mbaknya untuk ikut teriak “F*CK YOU WORLD” kalau memang selama ini ada banyak sekali kegundahan yang tersimpan dalam hati, dalam diri sendiri, karena tidak ingin orang lain melihat hal-hal yang sebenarnya terjadi. Lalu baca ini http://www.scarymommy.com/mothers-mental-health-is-everything/ ­čÖé Yup, because it’s okay to say “I am not fine!” because we are human, and we’re full of flaws. And it’s okay. Really.

Saya baru jadi ibu selama lima tahunan, saya cuma mau bilang ke ibu-ibu di luar sana bahwa kita boleh merasa sedih. Kita boleh merasa marah, bahkan boleh merasa “kok gini amat, ya, punya anak?” Kalau baca postingan Dewa kemarin di Path “pengin gue pites deh ini anak!” Tentunya Dewa nggak akan mites anaknya beneran, it’s just a feeling. And it’s good to release it. Beneran, deh. Nggak usah takut dengan penilaian orang lain. Karena sesungguhnya sibuk dengan urusan nilai di dunia ini nggak akan ada habisnya. Bagus kita nggak hidup di dunia Nosedive, di mana semua orang bisa menilai dengan gamblang citra yang  ditangkap olehnya. Kita nggak tahu apa yang mereka lihat, mereka akan menilai kita, dan kita juga melakukan hal yang sama. Tapi yang menjalani hidup kita kan kita sendiri. Bukan orang lain. People do judge, so what?

15826558_10154492045654145_3322795877660214602_n

Menjadi ibu adalah hal yang sifatnya seumur hidup. Tidak bisa ditanggalkan dan diabaikan. So be ourselves, be kind to ourselves. Menjadi ibu yang baik dan sempurna adalah impian semua perempuan yang melahirkan, tapi bukan berarti berlebihan dan menjadi jahat ke orang lain. Untuk mbak artis yang baik, jika memang yang ditampilkan di media sosial adalah nyatanya dalam hidup Anda, saya mau menyampaikan permohonan maaf karena salah memberikan penilaian. Karena saya juga seorang ibu dan selama ini hidup bersama dengan banyak ibu-ibu lainnya, dan selama ini belum pernah ketemu sama ibu yang nyoblos dengan bantuan orang lain hanya karena sedang menyusui, hehehe..

13516175_10153935302469145_7880854504923581145_n

So mothers, stay calm, and don’t worry about being a non-flawless mom.


Tambahan cerita nih, saat awal melahirkan, buat jawab pertanyaan yang datang soal “emangnya lo langsung jagoan, ya?”:

Kelihatan bagaimana Menik bisa saya gendong hanya dengan satu tangan, ya. Sering sekali Menik saya gendong atau susuin satu tangan, dan tangan yang satunya saya gunakan untuk makan, minum, mindahin saluran tv, masukin cucian ke mesin, dan lainnya. Menik adalah bayi bau tangan, alias maunya digendong melulu. Sekaligus saya tambahkan info, hehe, kalau Menik saya urus sendirian, nggak bisa nggak karena memang tidak ada bantuan. Saya hanya tinggal bertiga dengan suami dan Menik di apartemen kecil. Jadi Menik sudah saya mandikan sendiri sejak usia 3 hari alias sejak pulang dari RS ­čśÇ Bukan snob ya, ini, realita aja hahahaha.. dan emang sedih plus capek rasanya. Cerita bagaimana saya mendapat julukan “si susah nyusuin” sudah sering sekali saya ceritakan, online maupun offline. Cerita saya nangis di bawah blower AC?  Nanti ajalah, ya. Tapi iya, saya frustasi saat menyesuaikan diri menjadi ibu. Sampai sekarang masih, sih, hahahhaa! Dan percayalah, perjalanan masih sangat panjang ­čśÇ

 

 

Advertisements

My (in-Consistent) Weaning Story

Akhirnya, Menik berhasil tidur tanpa harus menyusu pada saya. Artinya MENIK SUDAH DISAPIH!

Usia Menik saat ini 3 tahun 4 bulan, dan statusnya masih menyusu langsung. Bukannya tidak ingin disapih, tapi saya sudah kehabisan akal. Sungguh, menyapih adalah salah satu hal tersulit dalam perjalanan saya menjadi orang tua. Bekal awalnya tentu membaca, namun mempraktikkan teori bukanlah hal mudah. Weaning with love gagal. Cold-Turkey Weaning juga gagal. Satu-satunya harapan adalah self weaning. Sayangnya, saya adalah seorang yang kurang percaya dengan kalimat afirmasi yang diucapkan berulang-ulang. Ujung-ujungnya dicoba juga, sih, namun sesuai ekspektasi, hasilnya nihil. Mungkin juga karena melakukannya setengah hati, ya, jadi sugesti positif yang katanya juga merupakan hipnosis, tidak berhasil.

BF2

Mari kembali ke tahun 2013, usia Menik 2 tahun. Dua bulan sebelumnya, saya sudah mulai sounding kalau usia 2 tahun berarti sudah saatnya berhenti menyusu pada Ibu. Mungkin saya kebanyakan baca cerita positif soal weaning, jadi saya menganggap enteng perkara yang satu ini. Kebanyakan cerita yang saya baca adalah anak-anak melepaskan sendiri dirinya dari ketergantungan terhadap susu ibu. Kenapa versi itu? Karena kebanyakan cerita sapih lainnya adalah menggunakan media pengganti, dengan┬ádot misalnya. Bukannya saya anti dot, tapi saya memang tidak pernah mengenalkan pada Menik. Jadi ketika ditawarkan dot sebagai media pengganti payudara ibu saat mau menyusu sebelum tidur, yang ada malah timbul perkara baru: Menik sibuk mainin dotnya. Opsi dot otomatis┬ásaya hilangkan, dan saya berusaha mengikuti success stories┬áibu-ibu lainnya. Setiap hari di-sounding kalau “Menik sudah 2 tahun, Menik sudah besar, sudah saatnya berhenti menyusu sama ibu.”

Tapi akhirnya saya capek sendiri, ketika sudah memasuki usia 2.5 tahun tidak ada tanda-tanda keberhasilan menyapih. Saya juga tidak ingin mendengar rengekan sebelum tidur, jadi akhirnya saya susui saja kapanpun Menik mau. Toh tubuhnya mungil, jadi tidak terlalu menarik perhatian ketika menyusui di tempat umum. Namun dalam hati, saya sebetulnya juga belum terlalu ingin berhenti menyusui. Hmm, mungkin sebetulnya saya clueless dan tidak ingin menghadapi drama weaning, haha. Jadilah saya melakukan extended breastfeeding!

Tapi ternyata keputusan saya melanjutkan menyusui Menik tidaklah mudah. Bisa dibilang ada pengaruh dan tekanan pihak luar.

BF1

Oh, sebetulnya di bulan Maret 2014, ketika kami pergi ke Hong Kong dan siap main di Disneyland, saya sempat bilang ke suami kalau mungkin ini waktu yang tepat untuk menyapih. Dengan mengarang cerita bahwa yang boleh masuk ke Disneyland adalah anak-anak yang sudah tidak menyusu pada ibunya, HAHAH, I know how ridiculous it is. :p Tapi ya, namanya juga usaha, ‘kan? Berhasil, nggak? Ya nggaklah, ‘kan lagi liburan. Ibunya (baca: saya) malas harus menambah rasa capek berusaha membuat anaknya tidur tanpa disusui dulu. Jadi ya gagal. Walau sepulang dari liburan itu, saya sering bilang ke Menik, “‘Kan sudah ketemu Mickey, sudah naik Slinky Dog, artinya sudah besar, jadi nggak susu lagi, dong!” Tapi omongan saya yang satu itu tidak pernah ditanggapi Menik. Kayaknya anak ini punya filter, kali, ya! Setiap bicara soal menyapih, pasti dicuekin. Jadi akhirnya saya yang menyerah dan berhenti mengirim sugesti positif soal menyusui. Dan Menik tetap menyusu seperti biasa.

Masuk ke bulan Oktober 2014, Menik merayakan ulang tahun yang ketiga. Sejujurnya, ya, tekanan dari pihak luar lebih besar dibanding dari dalam diri saya sendiri. Tekanan untuk berhenti menyusui anak balita.

“Ki, kayaknya elo, deh, yang sebetulnya nggak mau berhenti menyusui Menik!”

Bagaimana rasanya kalau kalimat tersebut terlontar dari teman sendiri? No hard feeling? Hmm, bohong kalau begitu, karena memang ada, sih, rasa kesal. Tapi karena terbiasa terlibat dalam perdebatan soal menjadi orang tua, jadi, ya, sudahlah. Sudah banyak juga mendengar kalimat lainnya yang menyinggung kebiasaan Menik menyusu, atau pertanyaan seperti kenapa Menik nggak ngedot atau nggak punya kebiasaan minum susu selain susu ibunya.

They have no idea bahwa sudah dua bulan terakhir Menik hanya menyusu saat mau tidur. Sejak ulang tahunnya yang ketiga, frekuensi Menik menyusu berkurang banyak. Menik hanya menyusu 2┬ákali┬ásehari, saat mau tidur. Ini terjadi tanpa usaha sama sekali. Karena inilah, saya mulai baca soal self-weaning. Seorang konselor laktasi, Jan Barger, menjawab pertanyaan “Do children naturally wean themselves?”┬ádengan┬á“Yes, they do. Some wean earlier, some later, but they all wean themselves eventually.”┬áDan sejujurnya, dari dalam hati saya, memang self-weaning inilah yang inginnya terjadi dalam hubungan menyusu antara saya dan Menik.

Setelah bulat dengan keputusan untuk menunggu self-weaning terjadi, saya benar-benar cuek dengan omongan miring yang terdengar soal saya masih memberikan ASI langsung padahal Menik usianya sudah 3 tahun. Tapi lucunya, sejak itulah Menik mulai berhenti menyusu di siang hari. Walau dengan situasi begini, jadwal tidur siang Menik jadi berantakan, tapi saya berusaha untuk tidak menjadikannya masalah besar. Konsekuensi dari tidak tidur siang adalah tidur malamnya jadi lebih cepat. Itu saja, jadi yang agak tricky adalah mengatur ulang jam makan malam.

Januari 2015, Menik benar-benar hanya menyusu saat mau tidur malam hari. Bahkan, saya bisa menolak permintaan menyusu di siang hari dengan “Loh, ini ‘kan siang. Masih terang. Bukannya Menik kalau nyusu sekarang pas sudah gelap. Malam sebelum tidur, ya, ‘kan?” Jadi tidak ada masalah. Terpenting adalah saya tidak perlu menghadapi raungan anak minta susu. Karena memang ini yang saya hindari.

Memasuki bulan Februari, saya iseng menawarkan Menik sepeda baru. Suami juga bilang, kayaknya sudah saatnya mengganti sepeda roda tiganya. Jadilah momen beli sepeda ini saya manfaatkan. Semoga nggak dihujat karena memberikan anak hadiah yang tidak ada hubungannya dengan weaning. :p Intinya saya bilang kalau kami akan membelikan sepeda baru yang boleh dipilih sendiri oleh Menik, kalau sudah berhenti menyusu. Lalu berpengaruh? Ya enggak! Hahaha, Menik ini hobinya adu argumen. Ketika saya tawarkan opsi tersbut, jawabannya adalah “Enggak, deh. Menik nggak ingin sepeda baru, kok. Susu ibu saja!”

Lagi-lagi karena alasan tidak mau mendengar anak cranky karena minta disusuin, jadi saya tidak mengancam Menik dengan kalimat “Nanti tidak jadi beli sepeda” saat Menik minta susu. Tanggal 9 Februari 2015, tiba-tiba Menik tidur siang dan malam sendiri. Awalnya minta dibacakan buku, lalu guling-guling sebentar, dan tertidur. Selanjutnya tanggal 10-13, begitu terus. Menik tertidur sendiri tanpa harus saya susui.

14 Februari, Menik tanya, “Bu, Menik udah nggak susu ibu, ya? Udah gede, ya? Beli sepeda, dong!” Hihii, saya iyakan. Esoknya,┬álagi-lagi dia minta baca buku, kali ini baca (lihat gambar) sendiri, terus ketiduran. Dan begitu seterusnya hingga akhirnya tanggal 17 Februari, tepat di usianya 3 tahun 4 bulan, saya menyatakan kalau Menik sudah berhasil menyapih dirinya sendiri.

unnamed (1)

Ritual sebelum tidur terbaru: selfie!

Mungkin karena prosesnya mulus, saya tidak merasakan perubahan menyakitkan pada payudara saya. Ketika terjadi penurunan frekuensi Menik tidak menyusu di siang hari saja, payudara terasa bengkak sedikit, namun sesudah itu hilang rasa sakitnya. Ada rasa kehilangan, tapi buru-buru saya hilangkan, daripada nanti timbul drama susulan, hihii.

Jadi, kenapa saya beri judul “in-consistent?”┬áKarena saya memang tidak konsisten pada perihal menyapih. Satu, saya kurang informasi. Dua, saya malas sekali kalau harus berjibaku dengan drama sebelum anak tidur. Saya ini sadar banget, kalau sudah ngantuk, saya bisa tidur di mana saja. Saya tidak ingin rasa ngantuk hilang karena harus menemani Menik yang tidak bisa tidur karena tidak disusui, dan akhirnya saya yang cranky. Saya juga tidak konsisten dalam memilih waktu dan metode menyapih. Pokoknya, saya seperti malas mencari tahu, deh.

Belakangan, saya baru baca di Kelly Mom, bahwa ada lima jenis proses sapih:

  1. Child-led weaning: proses sapih yang terjadi saat si anak merasa tidak lagi butuh disusui. Biasanya terjadi pada anak-anak di atas usia setahun. Jika memang benar-benar ikhlas anak yang menyapih dirinya sendiri, maka kebanyakan terjadi di antara usia 2- 4 tahun.
  2. Mother-led weaning: proses menyapih yang dilakukan oleh ibunya. Ada weaning with love, jika proses menyapih dilakukan dengan halus dan menunggu tanda bayi siap disapih, yang biasanya muncul mulai usia 18 bulan.
  3. Sudden weaning: berhenti menyusui dengan mendadak. Sebetulnya penyapihan mendadak ini distressing kedua pihak. Ibu bisa diserang plugged ducts, breast infection atau bahkan breast abscess. Pada anak bisa terjadi perubahan emosi yang bisa menuju ke mood swings dan depresi.
  4. Gradual weaning: melakukan sapih secara bertahap dan biasanya diberikan pengganti nutrisi, afeksi, dan atensi sebagai kompensasi anak tidak menyusu.
  5. Partial weaning: dilakukan oleh orang tua dengan keyakinan bahwa weaning is not an all-or-nothing process. Jadi Mommies bisa tetap menyusui sekali (atau lebih) dalam sehari. Kebiasaan menyusu di waktu lainnya dieliminasi.

Kalau saya, kayaknya melakukan nomor 1, 4, dan 5, hingga akhirnya beres juga menyusui. Awal menyusui berjalan tidak lancar, tapi alhamdulillah bisa diakhiri dengan mulus tanpa drama. Saya nggak mungkin berbagi kiat, karena saya juga nggak tahu kenapa anak yang posesif terhadap susu ibunya ini bisa melepaskan diri. Tapi satu hal, sih, pastikan perut anak kenyang sebelum ia tidur malam, dan pastikan energinya habis sebelum tidur siang. Thank you Menik for this wonderful journey. I love you! Now enjoy your new stage as little girl, not a baby anymore.

Mommies sendiri gimana? Ada yang masih berjuang menyapih anaknya? Santai dan lakukan yang sesuai dengan hati┬áMommies, ya! Pokoknya ingat, yang menjalankan proses ini adalah ayah, ibu, dan anak. Selebihnya tidak ada urusannya, kecuali urusan risih melihat balita disusuin :p┬á“Your baby, your rules!”