Gadget Free!

Sudah hampir satu tahun terakhir ini, Menik terbebas dari alat elektronik. Sengaja? Emm, enggak juga, sih. Hal ini sebetulnya jadi bonus dalam hidup saya sebagai Ibu. Mau nulis ini dari beberapa minggu lalu, tapi maju mundur. Biasa, takut dinyinyirin, HAHAHAHA. Takut dibilang sombong.

Monmaap kalo terbaca sombong, ini mah sebenernya beneran cuma mau berbagi.

16406517_10154579114599145_1623365554998752683_n

Tahun 2013, saya menulis bagaimana saya berusaha untuk mendetoks Menik dari gadget. This thing was totally my fault, and believe me, I’m trying to fix it. Detoks gadget ini berhasil, sih, tapi lalu ujungnya saya terlalu langsam terhadap Menik. Saya membiarkan Menik main iPad atau nonton TV, hanya saja saya batasi waktunya. Kayaknya 2013-2016 itu jadi rentang pembenaran terhadap patahnya idealisme saya sebagai ibu.

Mundur dikit, ya. Waktu Menik baru satu tahun, untuk pertama kalinya Menik mendengarkan lagu anak-anak via YouTube! Lalu karena saya punya iPad, jadi seperti anak bayi kebanyakan zaman sekarang, Menik senang sekali melihat cahaya YouTube! yang keluar dari si iPad. Perlahan tapi pasti, frekuensi menonton jadi makin sering. Belum lagi bonus “anaknya jadi anteng” ketika sedang nonton, jadi ENAK. Ya kan?

Keenakan ini bablas, hingga akhirnya saya sadar kalau Menik mulai tergantung dengan YouTube! Menik hafal lagu anak-anak yang hits di playlist YouTube! dari mulai Fingers Songs, Children Lullaby, hingga lagu wajib Sesame Street dan Barney. Selain nonton di YouTube! Menik juga mulai mengoleksi DVD!! yup, you read it right. She has her own DVD collections. And I am not proud of it. Lagi-lagi ini sebetulnya balik ke keyakinan masing-masing, ya. More about it later. Nah, selain YouTube! dan DVD, Menik juga punya aplikasi games semacam puzzle dan kumpulan lagu di iPad saya. Jadi lengkap, deh, hidupnya. Belum lagi setiap jam 8 pagi, pasti nonton Cbeebies. Seru bener kan, kontak sama alat elektroniknyaaa…

Lalu, tahun 2013, saya mencoba mendetoks Menik. Banyak yang bilang saya lebay, tapi bodo amat. Toh, yang saya lebay-in anak saya sendiri :p Bukan anak orang lain. Setelah dirasa anaknya tidak lagi ketergantungan ke gadget, saya mulai melonggarkan aturan. Menik boleh nonton dan main gadget 1-2 jam sehari. Atau biasanya ketika saya tinggal meeting. Supaya tidak rewel dan bikin capek kakek-neneknya, bolehlah main gadget. Menik memang tidak lagi tergantung pada gadget. Kalau saya bilang “tidak boleh”, maka anaknya akan biasa saja. Paling sedikit keki kalau lihat ada temannya yang main hape orang tuanya. Kalau udah melas, saya cuma bilang “Menik anaknya siapa? Ibu punya aturan, jadi ikuti aturan ibu, ya!” Lalu anaknya kesal. Bisa sebentar, bisa juga lama, tergantung suasana hatinya. Tapi biasanya kalau ada teman mainnya, kesalnya tidak akan terlalu lama.

Tahun 2016, Menik mulai sekolah, TK-A tepatnya. Sejak sekolah, saya bilang, Menik boleh nonton kalau hari libur. Alhamdulillah, sekolahnya Menik ini hari Sabtu juga masuk, HAHAHA. Jadi kesempatan nonton hanya hari Minggu. Tapiiii, sudah satu bulan ini, Menik les berenang setiap hari Minggu pagi, jadinya keburu capek, dan biasanya lupa minta nonton tv. Kalau iPad, alhamdulillah, iPad saya rusak. Nggak ada niat pengin benerin. Biarin aja rusak. This is blessing in disguise, literally. Nggak susah cari alasan, nggak perlu bohong, karena memang alatnya rusak. Kalau YouTube! bagaimana? Alhamdulillah, udah nggak pernah minta.

img_7496

Saya juga terpicu sama seorang teman baik yang bercerita bagaimana sunyi di rumahnya karena jarang menyalakan TV, anaknya juga tidak main gadget. ‘Kalau teman saya bisa, kenapa saya tidak?’  ya nggak?

Jadilah saya percaya, kalau ada banyak hal yang bisa dilakukan anak-anak selain duduk diam bercengkrama dengan gadgetnya. Saya juga percaya kalau anak-anak pasti nggak bisa duduk diam di restoran kalau lagi makan bareng teman-temannya kecuali dikasih gadget. Tapi lebih baik, saya kasih pengertian dulu kalau restoran adalah tempat makan bukan tempat teriak-teriak atau berlarian. Bisa cuma dikasih tau sekali? Emm, kalau Menik tergantung moodnya, HAHHAA. Tapi masih bisa dikendalikan-lah.

Lalu kenapa saya, kok, segitunya sama gadget, padahal kerja di dunia digital? Well, yang perlu digaris bawahi adalah ketergantungan pada gadget yang sudah tidak sehat ini akan menjadi hal yang tidak baik untuk perkembangan anak-anak. Urutin satu-satu, coba, ya.

Kesehatan mata

Yup, ini nggak bisa dipungkiri, dong? Kesehatan mata akan terganggu. Coba lihat sekeliling, ada berapa anak yang sudah menggunakan kacamata sejak usia 4-5 tahun? Menurut Anda itu normal, nggak?

Perkembangan bicara.

Gadget memberikan hiburan satu arah. Anak-anak nggak diajak ngobrol. Bolehlah ada developer yang mengklaim “aplikasi ini interaktif kok”, memangnya seinteraktif apa jika dibandingkan saat anak ngobrol dan main bersama kita?

Keterampilan tangan

Anak masih susah menggunakan gunting? Bisa melipat kertas dengan baik, nggak? Kalau sedang menggambar atau mewarnai, sekuat apa tekanan tangan si anak? Apa hubungannya sama gadget? Biasanya kalau lagi main gadget, tangan dan jari-jari nggak perlu bekerja keras. Cukup cubit dikit, kertas ceritanya terangkat. Cukup slide kanan kiri untuk mewarnai atau ceritanya menggunting.

Ketangkasan koordinasi mata dan tangan

Karena terbiasa melihat satu arah ke layar gadget, dan bermain menggunakan sedikit usaha, koordinasi mata dan tangan tidak terlatih dengan baik. Menik itu kesulitan bermain tangkap bola, hingga saat ini. Gurunya sudah bilang dalam 6 bulan ini ada perkembangan yang signifikan, namun koordinasinya masih kurang baik, dan ini berhubungan dengan rentang konsentrasi.

Rentang konsentrasi

Yup, anak akan mudah terditraksi jika sudah tergantung dengan gadget. Konsentrasi penuh hanya terjadi saat sedang bermain dengan gadgetnya. Kalau bukan gadget, anak tidak akan bisa konsentrasi penuh, dan berujung dengan rentang konsentrasi yang pendek.

Adult content.

Nah, ini juga jadi konsentrasi saya. Sejak membantu yayasan JaRI yang memang berkutat dalam hal KDRT dan kekerasan seksual, saya mendapatkan banyak sekali data soal konten digital anak. Bagaimana jahatnya para pemburu anak ini menyusupkan konten yang tidak sesuai untuk anak-anak walaupun parental lock, age lock, or whatever protection you name it, mereka tetap punya selah dan targetnya. Nyata dan menakutkan.

Kesehatan jiwa

Menik, tuh, zaman tergantung sama gadget, mudah sekali marah. Sumbunya pendek banget, cyin. Dan kalau ada keinginan yang tidak dipenuhi, maka akan susah sekali untuk memberi pengertian kenapa keinginannya tidak bisa diwujudkan. Karena apa? Karena terbiasa hal instan via gadgetnya. Ini ada pendapat ahli jiwa soal ketergantungan pada gadget. ‘When people feel an uncomfortable sense of withdrawal when not online, we know that the relationship with technology is not being managed properly,’ (Dr Graham from the Capio Nightingale Hospital, a mental health hospital based in central London). Dan ini tidak berlaku pada anak-anak tapi juga orang dewasa.

Kalau merujuk pada artikel di Daily Mail ini, untuk bisa melakukan detoks gadget, cukup dilakukan selama 72 jam. Treatmentnya mirip dengan para pecandu narkoba, karena dasarnya adalah sama-sama kecanduan. Cut the cord, deal with all distres, and heal together.

Kalau Menik bagaimana?

Seperti yang saya ceritakan di atas, sejak sekolah, mungkin karena sekolahnya setiap hari, Menik tidak ada waktu untuk bisa main gadget. Pulang sekolah biasanya Menik akan bermain di kamarnya. Bisa menggambar, mewarnai, main lego, tea party, make-up session, atau (pura-pura) baca buku.

Sekarang, saya selalu membawa buku gambar dan crayon, terkadang sama buku cerita juga, di dalam tas. Supaya kalau ada waktu kosong dan Menik terlihat bosan, maka saya akan menyarankan Menik untuk menggambar. Jadi pengganti kegiatan bersama gadgetnya adalah menggambar. Sekarang selain sekolah, Menik juga les piano, les menggambar, dan berenang.

Drama distres tanpa gadget terjadi saat detoks pertama kali tahun 2013 itu. Kalau yang sekarang memang beneran mendadak lepas tanpa drama. Ya itu tadi, mungkin karena sekolah dan gak ada kesempatan plus akses ke gadget atau tv, jadi udah aja. Sekarang kalau ditawarin nonton tv juga nggak bertahan lama. Paling 30 menit, udah gitu balik ke kamar mainnya. Lega rasanya si anak bisa enjoy dengan mainan nyata yang ada kamar mainnya. and of course, I am proud. Susah, loh, menghilangkan ketergantungan anak pada gadget, boleh ya bangga dikit sama keberhasilan ini. HAHAHA.

Sekali lagi, saya mohon maaf, kalau artikel ini terbaca menyebalkan dan sok-sok-an. Saya beneran maju mundur mau publikasi cerita ini. Kalau ada yang ngecap syombong, ya udah gapapa, hauhauhauaa. Emang nasib aja, haha! Oh iya, saya juga nggak anti sama gadget, ya gimana dong hidup akohh tanpa smartphone kesayangan. Tapi tidak anti kan bukan berarti boleh ketergantungan, kan? 

Semoga kalau ada yang sedang berusaha menghilangkan ketergantungan pada gadget, usahanya dimudahkan dan cepat berhasil, ya! Semangaaatt 😀

Advertisements