Sebuah Tanda Mata Untuk Disa

“Saya mendapatkan tandanya”, ucap Disa dalam hati.
Setelah sekian lama Disa menunggu semuanya, akhirnya tanda bahwa Teguh tidak lagi berjuang keras untuk mempertahankan hubungannya. Teguh yang selama 10 tahun terakhir menemani Disa dengan label pacar ternyata merasa lelah untuk meneruskan hubungan yang menurut neneknya Disa seharusnya disahkan secara agama dan negara. Disa segera mengambil jaket dan menerobos hujan yang sangat deras malam itu.

***
Mendung yang mengikuti Jakarta beberapa hari belakangan ini membuat Teguh selalu tertidur dalam lemburnya dan tidak pulang ke flat. Sebuah flat yang sengaja dibeli dan suratnya diatasnamakan Ardisa Pramewari. Teguh harus segera menyelesaikan proposal terakhirnya untuk di email malam ini ke supervisornya dan kemudian akan berangkat ke rumah Disa. Teguh tidak bisa lagi menahan rindunya. Empat hari lamanya Teguh dan Disa berkelahi dan Disa seperti keras kepala tidak ingin menerima maafnya. Telponnya tidak pernah diterima, SMS tidak pernah dibalas apalagi email pendek yang biasanya menjadi kesukaan Disa tidak lagi pernah ada balasannya.
***
Disa membungkus rambutnya kemudian menyalakan sebatang rokok di dalam kamarnya. sembari menunggu mbok Irah membawakan es batu untuk mengompres matanya. Menerobos hujan ketika pulang ke rumah ternyata tidak menghapus air yang keluar dari matanya langsung. Disa lelah memperjuangkan cintanya. Lelah harus terus mengingatkan Teguh soal menjaga perasaan sayang mereka. Teguh terlalu sibuk dengan proposal yang diberikan oleh supervisor perempuannya. Seorang perempuan bernama Kartika yang pernah mendekati Teguh karena status Teguh yang belum menikah. Disa sering marah kalau Teguh mengingkari janjinya karena dipaksa menemani Kartika untuk meeting yang sebetulnya tidak membutuhkan kehadiran Teguh. Di teras kamarnya, Disa memikirkan hubungannya dengan Teguh. Seluruh 10 tahun terakhir yang dihabiskannya bersama, beberapa laki-laki dan perempuan yang datang mengganggu hubungan mereka sampai email pendek kesukaan mereka berdua yang sering dikirimkan ketika jam kerja.

Pikiran Disa melayang-layang mencari jawaban atas pertanyaan : Kenapa Ibu dan Bapak bisa mencintai sampai sekarang tanpa terlihat bosan? Kenapa 10 tahun ini tiba-tiba menjadi regang karena pekerjaan Teguh? Kenapa Bapak yang sering pergi meninggalkan ibu bisa menjaga perasaan sayangnya? Kenapa Teguh terlihat datar dalam menghadapi masalah yang datang? Kenapa Teguh jarang sekali memberikan kejutan seperti dulu? Kenapa..Kenapa..Kenapa? Banyak sekali ‘kenapa’ yang hadir di depan mata Disa.

Disa menyesap teh hangatnya kemudian masuk ke dalam kamar. Mengeringkan rambutnya kemudian berganti piyama dan membuka laptopnya. Ada 17 email yang masuk, 4 diantaranya dari Teguh. Dengan perasaan tidak tentu, Disa menyentang 4 email tadi dan membuangnya. Sebelum membuka email lainnya, terdengar ketukan lembut di pintu kamar. Mbok Irah ternyata dan membawa kalimat “Ada mas Teguh di luar, kasian kehujanan, jadi saya suruh masuk saja”

***

“Kenapa kamu gak ada usaha sama sekali?” kata Disa.

“Gak ada usaha gimana sih, dear?” Teguh bertanya balik.

“Don’t answer my question with question!!”

“Iya maaf, tapi aku bingung sama pernyataan kamu..”

“Empat hari, guh! kamu butuh 4 hari untuk datang kesini? sibuk banget??” Disa tidak bisa menahan emosinya.

“I wrote you emails, sent you messages. aku telfon kamu.. kamu gak ada kabar sama sekali! siapa yang ga ada usahanya! dan aku harus berusaha untuk apa?? apa salah aku sih?”

“Apa salah kamu?? shiiit!! you don’t know what is wrong with us??”

Air mata Disa mulai keluar dan Teguh tidak tahan untuk tidak memeluknya. “Please Disa.. I love you! I don’t wanna see you cry. I want you happy, I need you to be happy”

“kalo emang kamu gak suka liat aku nangis, kenapa kamu begini? kenapa kamu susah banget buat ngeluangin waktu kamu? kenapa kamu harus nginep di kantor berhari-hari hanya karena proposal itu? kenapa kamu jarang banget ngabarin ke aku? dan kenapa kamu sekarang udah gak pernah berusaha keras untuk baikan secepetnya kalo kita lagi ada masalah?”

“Astaga Disa.. proposal itu semua kerjaan aku, tanggung jawab aku. Aku harus kerja untuk cari uang. Kenapa kamu masalahin soal kerjaan aku. Aku coba untuk ngabarin kamu, tapi kalo kamu udah jutek gitu ngangkat telfon aku atau kamu ga bales sms aku, gimana caranya aku komunikasi sama kamu? dan terus terang aja, aku pikir kita udah lama banget pacaran, udah 10 tahun.. kenapa kamu nanyain soal usaha keras??”

“Iya Teguh.. kamu ga pernah berusaha keras kayak dulu. Kamu sekarang lebih milih untuk diem daripada gangguin aku terus-terusan sama sms permintaan maaf kamu. Bahkan kamu lebih milih untuk meneruskan proposal kamu yang sebetulnya udah selesai dibanding mikirin gimana caranya baikan!!!”

“Disa…” Teguh kehabisan kata-kata. Teguh tidak pernah menyangka, pekerjaan ini ternyata menguras otaknya habis-habisan dan revisi yang datang dari Kartika selalu membuat Teguh mengenyampingkan Disa sebentar demi pekerjaannya. Teguh merasa bersalah namun tidak dapat membantah Disa.

Kalau Teguh tidak bisa menjelaskan bahwa uang lemburnya bisa dipakai untuk menambah uang cicilan flat atas nama Disa. Flat ini adalah kejutan untuk Disa. 10 hari lagi di hari ulang tahunnya. Kunci flat dan cincin untuk melamarnya. Namun kotak birunya sudah ada di kantung celana Teguh. Teguh akan meminta maaf kemudian melamarnya. Berharap adegan yang terjaid kemudian seperti di film romantis kesukaan Disa.

Disa membelai kepala Teguh kemudian bilang “I got the sign. The-I’m not fighting for us anymore-from you. It hurts”

Teguh terdiam. Teguh tau kelanjutannya. Dan Teguh hanya bisa meremas kantung berisi kotak biru tadi.

“Aku rasa gak ada gunanya kita mati-matian berantem kalo memang kamu gak ngerasa ada yang salah diantara kita berdua. Kamu dan aku itu seperti pasangan yang pas. Diskusi sama kamu sangat menyenangkan. Dicium sama kamu juga bisa membuat aku tenang. Tapi kalo memang kamu ngerasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, tidak ada masalah yang perlu diselesaikan dan kamu memang merasa nyaman dengan apa yang kita jalani sekarang, sepertinya jalan yang terbaik adalah kita putus. Tidak perlu in a relationship tapi kita bisa berteman baik”

“Disa…” Teguh tidak meneruskan kata-katanya.

“Aku ngerasa kamu berubah 3 tahun belakangan ini, aku ngerasa kamu bener-bener nothing to lose ngejalanin hubungan ini. Kamu kayak yang dataaarr banget ngadepin aku. Aku minta maaf tapi aku ga bisa kalo harus begini”

“Aku minta maaf.. tapi aku ga mau putus.. gak bisa diomongin baik-baik? aku ga bisa hidup tanpa kamu. aku mau nikah sama kamu”

“Gak usah ngomongin pernikahan. kita akan lebih baik kalo jalan sendiri-sendiri. Aku sayang banget sama kamu dan cara sayang aku adalah dengan tidak pacaran sama kamu. ini juga cara aku menyayangi diri aku sendiri. Aku gak mau juga capek-capek sendirian berjuang buat hubungan kita berdua. ibaratnya kalo ada lubang di depan mata, aku sibuk ngingetin kamu dan pas kita jatoh berdua, kamu yang dari awal ga mau dengerin aku soal lubang itu-pun gak berusaha untuk keluar dari lubang tersebut. Aku sendiri yang berusaha keluar sambil narik kamu. Aku gak mau berusaha sendirian. Aku mau berusaha berdua untuk kita”

Teguh terdiam dan kemudian bilang “Aku sayang banget sama kamu. Call me back please setelah kamu tidak lagi emosi. Dan ini untuk kamu” Teguh menyerahkan sebuah kotak biru ke tangan Disa. Teguh keluar dari ruang tamu, menyalakan motor dan menerobos hujan.

Disa terdiam. Menggigit bibirnya keras dan membuka kotak tersebut.

***

“Pak Mul, ini tolong dikirim lewat Tiki yah.. makasiiihh” Disa menyerahkan sebuah amplop coklat berisi sebuah kotak ke alamat yang beratas nama : TEGUH PRAWIRA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s