Bintang Delia

“If ever a couple will feel like they fit one another like a pair of old-comfortable shoes, this would be the right combination”

***

“Hai bintang, tadi kita hampir berpelukan namun hujan terlalu cepat datang” Delia bergumam sambil merangkul kedua lututnya dan menangis dalam hati. Bintang terus tersenyum melihat perempuan yang ternyata selalu menunggunya di Bumi. Bintang yang tidak pernah bisa menginjakkan kakinya di bumi, yang selalu terhalang hujan jika ingin melihat Delia sedang menatap langit menunggu Bintang-nya muncul.

***
Suatu malam, Delia membuka jendelanya kemudian tersenyum melihat sekumpulan bintang yang membentuk satu rasi kesukaannya, Cancer. Lama sekali Delia menatap ke langit sampai tiba-tiba ia melihat cahaya jingga terang yang mengikuti kemana arah matanya pergi. Kemudian Bintangnya seperti turun sampai kedepan mukanya. Delia tidak ingat selanjutnya. Apa yang terjadi malam itu dan bagaimana akhirnya ia bisa sampai di tempat tidurnya. Delia hanya teringat sekilas ia merasa beranjak dari bumi menuju langit dan Bintang mengenalkan ia ke bintang-bintang lainnya. Terbangun ketika pagi dan Delia sudah ada di tempat tidur, memeluk boneka beruang coklat sambil merasakan senyuman di wajahnya.

Delia tidak pernah menyangka kalau ia akan suka dan kemudian jatuh cinta pada Bintang. Bintang yang tiba-tiba muncul dengan cahaya yang berbeda dengan yang lain. Menurut Delia, Bintang memancarkan sebuah cahaya aneh berwarna jingga. Bintang muncul pada malam ketiga di bulan Desember dan seketika menemaninya setiap malam selama seminggu dan setelah itu Bintangnya menghilang. Hari ketujuh dan seterusnya, hujan selalu membasahi bumi. Langit mendung tidak memungkinkan Bintang muncul. Delia pun sadar hati, kalau mendung yaa Bintang Jingga-nya tidak akan keluar.

***
Malam ini Delia seperti melihat beberapa titik terang di langit, samar-samar, tidak terlalu jelas. Delia berlari mengambil teropong dan sekotak choco-chips. Tersenyum tipis melihat Bintangnya semakin jelas, Delia memohon dalam hati agar Bintang Jingga-nya bertahan lama malam ini. Delia dapat merasakan Bintang semakin mendekat. Delia mengangkat tangannya, telapaknya seperti hampir bersentuhan dengan telapak tangan Bintang yang mulai terasa nyata. Hangatnya mulai ada namun seketika petir menyambar, Bintang hilang. Hujan turun dengan derasnya. Delia menyingkirkan teropong, membuang choco chip dan menangis di pinggir jendela untuk kesekian kalinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s