What’s on my face?

Sebetulnya, saya malu mau cerita ini. Karena merasa nggak ada apa-apanya dibanding ciwik-ciwik lainnya yang perawatan mukanya berderet-deret. Yang kalo pagi ada 8 tahap dan malam ada 13 tahap. 

DA AKU MAH APAAN ATUH? Remah rempeyek, doang! Hahahaha 

Tapiiii sebetulnya, ya, ini (mungkin) ada hubungannya sama kulit yang cenderung normal tanpa masalah berarti. Jadi emang nggak pernah diperhatiin lebih. Jerawatan aja jarang banget, paling kalau mau menstruasi, itu juga cuma bakalnya. Pas mens, ya bakal jerawat akan kempes dengan sendirinya.

Satu-satunya masalah adalah kulit yang suka mendadak super kering di daerah tertentu, seperti selah hidung misalnya, saat musim hujan. 

Nah, saya juga punya kebiasaan tidak memakai sebuah merek secara terus menerus. Entahlah, menurut saya, paling lama waktunya 3 bulan untuk sebuah merek tertentu. Lalu setelah itu, sebaiknya ada ramgkaian yang diganti  Jadi kalau masih ada yang nanya “Kak, masih pake Erh*?” Jawabannya udah jelas, dong? Ehe ehe ehe :))

Tapi sekarang tetap mau cerita ulasan beberapa produk yang bikin jatuh cinta dan kulit wajah bisa terasa lembab. Ada 4 produk, nih, ya.

1. Sabun Walet


Sabun ini sebetulnya saran dari Ibu saya. Dan ternyata, setelah memakainya berbulan-bulan, kulit memang terasa lembab. Sabun ini beli di temannya ibu. Kayaknya, sih, MLM. Hahahahha…

2. Face Toner Botanina


Yup! Sebagi pecinta produk lokal, dan ini yang produksi teman sendiri, jadi tidak merasa khawatir dengan isi yang terkandung dalam botol tersebut. Setiap habis mandi dan sebelum tidur, setelah cuci muka, saya menyemprotkan Face Toner dan mendiamkannya hingga kering sendiri 😉

3. Face Oil Botanina


Nah, kalau Face Toner sudah terserap, baru, deh, diolesin Face Oil. Aroma alaminya juga berasa jadi terapi gitu, heheheheh.. dan face oil dari Botanina ini memanh mampu menjaga stabilitas kelembaban kulit 😉

4. Masker Malibu Miracle Jafra


Naaahh, sebagaeeee yang kulitnya kering di bagian tertentu, proses pelepasan kulit wajah jadi hal yang menyenangkan. Supaya sehat, sekalian aja maskeran pake Malibu Miracle Mask dari Jafra, seminggu sekali. Pas disaranin ini sama @JafraByNovita dan nyoba untuk pertama kalinya, langsung merasa cocok. Jadi masker yang mengandung scrub dan mint ini, berasa banget gunanya pas udah  sebulanan dipakai.

Seminggu sekali, selama satu bulan, kulit kering di sekitar hidung mulai hilang. Apalagi kalau setelah pakai masker ini, daerah kulit yang kering dioles Glysolid, beneran lembab, nggak kering-kering lagi. 


Iya, saya sedang tidak menggunakan krim pelembab apapun. Nggak pakai night cream atau serum juga, lagi percaya sama Face Oil Botanina aja. Tapi saya menyimpan Glysolid untuk dioles-oles saat kulit terasa kering. Bukan hanya di wajah tapi juga untuk seluruh tubuh. Irit! Hahahaha makasih Gege, udah ngenalin Glysolid x))

Oh iya, sejak mengurangi frekuensi mengeringkan kulit dengan handuk, kulit terasa lebih lembab juga. Ini karena baca tulisan @Deszell sih hehehehe.. jadi kulit dibiarkan kering dengan sendirinya, dan sesudahnya langsung dioles face oil, deh!

How about you? Berapa langkah ini morning and night routines-nya? 😉

Advertisements

#Menik5Tahun

And the birthday story continue! 

Karena udah masuk TK, jadi tahun ini syukuran ulang tahun Menik pindah ke TKnya x))

Enaknya, di TK Menik nggak ada yang aneh-aneh gitu, cuma tiup lilin, berdoa, dan bagi-bagi bingkisan. Nggak pakai dessert table. Bahkan yang ulang tahunpun tetap memakai seragam, karena merayakannya di lingkungan sekolah.

The thing is my ambitious hormones are screaming inside and out. I hate it but once it screamed out, I have to get rid of it. And by that, it means I have to do something really good that been running around my head, on and on.

Lalu akhirnya si ambisi berhasil memojokkan saya untuk buat apa?

Ini adalah nasi kuning buatan sendiri. Side dishnya ada perkedel, home made nugget kesukaan Menik, timun, tomat, selada, telur dan abon. 

Captured by Ayu dan Kresna yang tiba-tiba dateng dan mau bantuin bikin-bikin. Makasih yaaa.. 🙂

Laluuuu, ada ini nih. Yang bikin begadang, jari lecet, dan pening kepala.

Tas serut dari bahan belacu, yang bagian kantong depannya saya sulam satu persatu nama teman-teman Menik di TK A dan TK B. Blagu ya! Baru juga sekali ikut workshop udah bikin beginiaaann hahahahaha kesel sendiri ujungnya. Tapi hati berdebar kalo nggak selesai. Bagian belakangnya, saya stempel ucapan terima kasih dengan cat akrilik sebagai pewarnanya. 

Lalu yang di tas kertas dengan stiker itu isinya adalah snack kurang sehat kesukaan anak-anak hahahaha. Oh iya, tas serut belacu ini diisi buku gambar, buku mewarnai, kertas lipat, rautan, dan pensil warna isi 12.


Kuenya adalah carrot cake dengan cream  cheese frosting dan kacang. Lalu atasnya dikasih cake topper, lilin angka, dan lili  bunga-bunga. Backdropnya hadiah alias dibikinin sama Bu Guru. Terima kasih, Bu!


Sesudah berdoa, Menik bagi-bagi donat supaya nggak repot motong kue hahahaha *ambisi mulai turun, ntar cranky kalo nggak rata motongnya* dan selesai, deh, acara ulang tahun Menik di sekolahnya.

Semoga Menik senang, yaaaaa! 


Sepulang dari sini, sih, rasanya legaaaa banget! Akhirnya beres juga si ambisi yang kadang terasa ganggu. Pulangnya berasa ngantuk banget tapi happy. Walau ada drama balon terbang yang bikin Menik nangis tapi overall she’s happy with her bday party 🎈 yaayy!


Selamat ulang tahun, Menik! ❤️

Seandainya Saya Belum Punya Anak

 

Pernah nggak kepikiran hal-hal seperti ini. Hal-hal yang kadang bikin saya mempertanyakan rasa keibuan dalam diri sendiri. Saya, sih, jujur saja, sering terlintas dalam pikiran “seandainya belum punya anak, bisa…” :))

Lalu, apakah saya menyesali kehadiran anak dalam hidup saya? Apakah dia menjadi hambatan? Jawabannya “tidak juga!” Haha.

Namanya juga manusia, ada banyak rasa tidak puas yang muncul dalam setiap keputusan dan kejadian. Sering kepikiran hal-hal yang bisa terjadi kalau saya belum punya anak, bukan berarti saya tidak bersyukur dengan lima tahun terakhir hidup saya. Iya, sudah lima tahun menyandang status ibu. Sudah hampir enam tahun, tidak ada gelar titel pekerjaan, tidak pernah pergi ke kator full time, dan artinya tidak lagi punya gaji sendiri. Sudah lima tahun tidak pernah jalan-jalan sendirian.

And yes, sometime I feel exhausted. But I don’t want to quit. Kinda funny, right?

You want but  you don’t want.

Being a mom is not easy. Not to mention the outsider vibes, but also the struggle within yourself. Sometime you just want to give up. During the breakfast time, you feel content, but before you go to sleep, you feel empty. Once you know you’re happy, but then in a couple hours you really want to run away. And those kind of upside down feeling. That makes you a human. It is normal. Well, at least it is normal in my own opinion.

Jadi bagaimana seandainya saya belum punya anak? Well, mungkin saya sudah menyelesaikan S2, mungkin beberapa mimpi saya yang kembali saya gantungkan sudah terwujud, mungkin saya nggak akan belajar menyulam, mungkin saya belum tahu cara masak nugget sendiri. Mungkin juga saya masih sibuk bergadang, tenggelam dalam pekerjaan, dan tidak merasa bersalah setiap terbangun dari tidur di tengah malam karena ada beberapa pekerjaan yang keteter hanya karena ketiduran saat menemani anak menuju tidurnya.

So, are you sorry for all that happened in the past  five years?

The answer is clear. Absolutely not. Sudah lima tahun jadi ibu. Satu hal yang pasti dengan titel ini adalah sebuah rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada sesuatu yang magis diantara hubungan ibu dan anaka. Persis seperti yang saya rasakan di awal kehamilan, saat hanya saya dan si janin yang tahu bahwa ada kehidupan di dalam rahim. Sebuah rahasia antara kami berdua. Ambisi ini dan itu perlahan luruh, menjadi sesimpel ingin melihat anaknya bahagia. Ketika si anak bahagia, maka hidupnya akan terasa bermakna. Ketika tahu makna hidup, ia akan tahu kenapa dirinya ada di dunia.

Sudah lima tahun. Dan masih akan terus berlangsung. Tidak ada rasa sesal, yang ada hanyalah rasa syukur untuk semua kesempatan dalam hidup. Tidak hanya soal anak, tapi tentang semua yang terjadi dalam hidup. Dan rasa ini bisa muncul karena saya sudah punya anak.

Terima kasih, Menik, untuk lima tahun pertamanya. Semoga Ibu, Ayah, dan Menik bisa selalu berjalan beriringan, saling membimbing, dan menjaga satu sama lain sampai akhir hayat memisahkan.

img_0511

Selamat ulang tahun, Menik!

(17.10.2016)

Help Us Reach Germany!

Halo!

Beberapa hari lalu, saya dihubungi oleh Ibu Marintan Sirait, General Coordinator Yayasan Jendela Ide Indonesia, sebuah lembaga budaya anak & remaja yang memfasilitasi musisi dan seniman muda. Ibu Marintan bercerita tentang Bintang Manira Manik, seorang Music Director, berusia 24 tahun dari Jendela Ide yang diminta oleh kurator Endo Suanda untuk membuat rangkaian komposisi demi memenuhi undangan dari Frankfurt Buchmese pada bulan Oktober 2016. Kemudian Bintang membentuk Cakravala Mandala Dvipantara, yang terdiri dari musisi-musisi muda berbakat dari Bandung, Jakarta dan Surakarta. Grup musik ini giat berlatih setiap hari selama satu bulan terakhir agar bisa menampilkan performa terbaik.

cmd

Nah, untuk bisa berangkat dan berpartisipasi di eksebisi tersebut, tentunya dibutuhkan biaya. Beruntung pihak pemerintah Indonesia mendukung dengan mengeluarkan dana untuk tiket pesawat pulang pergi dan perdiem untuk kebutuhan selama teman-teman memenuhi undangan dari Frankfurter Buchmesse.

Namun ternyata, seiring dengan persiapan, banyak undangan yang datang untuk tampil di kota lain. Agenda di 3 kota, dengan 15 pertunjukan akan menghadirkan mereka di Frankfurter Buchmesse-Frankfurt, Jazz House Revivals-Wiesbaden dan UNDay-City Center, Bonn, Jerman. Mengingat biaya operasional persiapan dan agenda pertunjukan lanjutan, masih ada kekurangan biaya sebesar Rp374.850.000, dengan rincian:screen-shot-2016-09-27-at-4-36-59-pm

Teman-teman musisi ini akan berangkat tanggal 17 Oktober 2016 dan akan tampil sebanyak 15 kali di Frankfurt Bookfair, Wiesbaden, dan Bonn. Saya tergerak untuk menggalang dana dalam waktu yang singkat ini karena saya memiliki mimpi untuk memperdengarkan suara musik anak muda Indonesia di salah satu pameran buku tahunan paling prestisius yang diadakan di Frankfurt, Jerman. Undangan ini belum tentu datang dua kali dan tentunya akan menjadi hal yang sangat berharga untuk tumbuh kembang musik anak muda Indonesia.

Saya sangat berharap penggalangan dana ini bisa berjalan dengan lancar sehingga teman-teman dari Cakrawala Mandala Dvipantara bisa berangkat. Seluruh dana yang terkumpul akan saya sampaikan langsung ke Yayasan Jendela Ide Indonesia sebagai fasilitatornya. Saya ingin mengajak Anda semua untuk bisa membantu mewujudkan perjalanan budaya anak muda Indonesia.

Kalau mau bantu donasi, bisa langsung klik http://kitabisa.com/indonesianyouthbeat ya! Kalau mau bantu sebarin link-nya juga boleh banget.

Ini linknya, kalau mau dicopy: https://ktbs.in/sqyz7

Terima kasih banyak untuk waktu membaca, berdonasi, dan menyebarkan laman ini. Semoga segala kebaikan, dibalas dengan kebaikan yang lebih oleh Allah SWT 🙂

Aamiin!

Apa Gunanya Pendidikan?

Serius banget judulnya, shaaayyy!

Jadi gini, belakangan pekerjaan saya menuntut untuk bisa berpikir dan melihat sesuatu secara holistik. Beberapa kali saya melihat benang kusut dalam sebuah proyekan, dan pas dirunut ternyata berujung pada orang yang nggak punya pola berpikir secara spesifik untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Saya tumbuh dalam lingkungan yang percaya bahwa orang bisa jadi apapun yang ia inginkan, asal tekun mempelajari hal tersebut. Selain ketekunan, nggak bisa dipungkiri, kalau ada teori-teori dasar yang harus dikuasai, untuk bisa menjalani sebuah profesi. Walaupun ujungnya teori dasar tersebut dianggap kuno dan tidak bisa diaplikasikan lagi, tapi cara berpikir untuk bisa menyelesaikan pekerjaan sudah terpola dan akan sangat membantu untuk bisa bekerja secara profesional.

CMIWW, ya!

Tapi sungguh, saya sudah bosan sekali melihat orang memberikan applause kepada orang-orang berbakat yang bisa berhasil tanpa melewati jenjang pendidikan yang semestinya. I mean, they are talented. They have that super power brain.

Semestinya yang diberikan tepuk tangan itu mereka yang tekun belajar. Berusaha keras agar mengerti dan bisa mengerjakan hal dengan benar. Itu menurut pendapat pribadi, sih.

Saya mencoba memakai sepatu Menik. Saat Menik merasa malas belajar piano, saya merasa bersalah. “Am I those kind of tiger mothers? Yang nggak peduli perasaan anaknya, yang percaya nantinya si anak akan berterima kasih karena Ibunya udah strict banget demi dirinya menyongsong masa depan?” Tapi di lain sisi, saya ingin berhasil mendidik anak saya menjadi seseorang yang percaya bahwa ketekunan akan membuahkan hasil yang baik dan menyenangkan.

I am not talking about those super talented kids who can play piano on their 4th birthday without getting any formal education. They don’t need the theories. Their super talented hands will play along on that piano. Atau anak usia 10 tahun yang diterima di fakultas kedokteran karena memang sejak usia 18 bulan, anak ini sudah mampu berbicara selayaknya anak usia 3 tahun. Yang begitu adalah spesial case. Keren, tapi mereka didukung oleh kemampuan spesialnya yang tidak dimiliki semua anak.

Lalu bagaimana dengan anak yang tidak lahir dengan bakat spesial? Don’t they deserved the world too?

Kembali ke pentingnya pendidikan dan ketekunan, sebetulnya tulisan ini lahir karena saya sedang kesal dengan seseorang yang menganggap dirinya berbakat tapi ternyata nggak punya kemampuan untuk menterjemahkan keinginan klien, simply because he didn’t  go to learn those old theories. Sampe kuda balik gigit besi, komunikasi visualnya nggak akan dapet karena dia nggak belajar how to do visual communication. Saya bisa photoshop, saya bisa ngedit video, but I won’t called myself a photo/video editor. Untuk beberapa jenis pekerjaan, dibutuhkan ilmu yang mumpuni untuk bisa bekerja dengan baik dan maksimal.

Jadi menurut saya, pendidikan itu penting, seiring dengan bakat, dan harus didukung oleh ketekunan, agar bisa mencapai satu titik kemampuan yang diakui semua orang. By this, I blamed those corporates who don’t want to give a good rate for people with good educational background. Hanya demi keuntungan belaka. Padahal, kalau hire orang yang beneran ngerti, waktu dan tenaga akan bisa dihemat. Nggak perlu revisi berulang kali karena output nggak sesuai. It will be far more efficient if you hire competent people.

Nah, gimana kalau sekarang, kita apresiasi juga orang-orang yang tekun belajar dan loyal terhadap pekerjaannya. Mereka yang bertahun-tahun terus memperbaharui kemampuan dan pengetahuan agar dirinya bisa mengikuti perkembangan zaman di bidangnya. Menjadi orang yang tekun itu tidak mudah, loh, and that’s why beside applauding to those talented kids, we should cheering those perserverance kids too!

Dan lembaga pemberi beasiswa juga harusnya selain mengukur kemampuan dari nilai, dilihat juga setekun apa anak ini? Sebesar apa keinginannya? Sekuat apa dia mempertahankan ilmu yang ingin dipelajari?

Menurut kalian, penting nggak sih pendidikan? 🙂

Main Ibu-Ibuan

Waktu kecil pada pernah main ibu-ibuan nggak? Dalam bayangan saya dulu, main ibu-ibuan adalah hal yang paling menyenangkan. Gendong boneka bayi pake kain, masak, ke pasar, dan menyiapkan makanan. Sesekali memarahi (atau menasihati) boneka-boneka pendukung, atau memberikan uang untuk jajan si anak, sebagai tanda kekuasaan seorang ibu x)) Role playing as a mother is the best!

Sekarang pas udah jadi ibu beneran gimana rasanya?

HAHAHA! Ketawa dulu biar hepi ceritanya :p

Is it that bad? Well, to be honest, it is not that bad. It’s intriguing, if I may use that word.

391748_2662232115400_377682691_n

Well, sejak jadi ibu beneran, hidup saya sebagian besar habis seperti gambar di atas : ketiduran saat ngelonin si anak. Awalnya karena menyusui. Kebiasaan ini jadi terus terbawa sampai sekarang, pokoknya kalau saya ngelonin Menik, potensi ketiduran naik 80%! Dulu sih katanya karena salah satu hormon menyusui yang membuat ibu merasa rileks, sehingga ibu ikut istirahat saat anaknya istirahat. TAPI SEKARANG SAYA KAN UDAH NGGAK NYUSUIN! Kok tetap rileks dan ketiduran? x))

Ternyata yang lupa dimainin dan dibayangin pas kecil itu adalah peran ibu itu melelahkan, gaes!

Bayangin aja, ada tanggung jawab nyawa seumur hidup. Dipercayakan untuk dibesarkan jadi manusia sholeh. Capek bingit dari mulai hamil, melahirkan, nyusuin, nyiapin makanan, mikirin menu MPASI, jagain 24 jam, ngajarin jalan, nanggepin omongan bayi yang cuma ibu seorang yang mengerti, mandiin, nyawein, makein baju, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.

Eh, berarti ibu saya dulu nggak pernah keliatan capek kali ya, di depan saya? Jadi saya pas main peran gitu, anggapannya jadi ibu itu ya gitu aja.

Ya bener juga sih tapi, gitu aja tiap hari.

Sekarang anaknya udah mau lima tahun. Makin banyak akalnya, makin banyak energi yang harus disiapin buat menghadapinya.

Terus berarti saya mengeluh? Haha.. Namanya juga manusia, ada saat positif, ada saat negatif. Kalo positif sama positif, mental dong nanti! I am just saying that being a mother is not as good as you those Instagram’s pictures. Tapi nggak usah dibayangin segitu jauh juga, sih. Nggak segitu parahnya juga, kok. Apalagi kalo punya support system berisi ibu-ibu sepantaran, sealiran yang siap siaga berempati dan mendukung apapun yang perlu didukung. Plus menjadi pengingat saat ada sesuatu yang harusnya tidak dilakukan atau sekadar memberikan saran jika dirasa ada yang kurang benar untuk dilakukan.

Nah, berarti siap-siap geng-gengan, gaesss! Geng apa, nih, Saz? Geng nyinyir yang menganggap nyinyir itu salah padahal anggapan tersebut juga disampaikan secara nyinyir? *lah, ribet* Ini mah geng nero SMA rasanya, bukan geng ibu-ibu. Situ ngerasa masih SMA? *eh*

:))

Kalo ibu-ibu, tuh, biasanya soal pilihan. Geng ASI x SUFOR, Normal x Caesar, MPASI Konvensional x BLW, Tiger x Elephant Mom, dan masih banyak lagi kategori-kategori yang cukup bikin sakit kepala dan sakit hati kalau enggak kuat mental ngadepin nyinyiran grup yang saling bersinggung. Padahal, mah, yang namanya keyakinan ya jalanin aja sendiri, kan? Ambil keputusan dan nikmati hasil dari keputusan tersebut. Salah ambil keputusan? Perbaiki aja, namanya juga manusia.

Iya, namanya juga manusia. Ibu juga manusia. Nggak selamanya ibu itu sempurna. Human being make mistakes. We are all flawed, right? Jadi nggak usah merasa nggak sempurna ketika kita merasa capek menjalani peran sebagai ibu. We can not escape, for sure, but we are allowed to feel exhausted. Jadi boleh, lah, sesekali bilang “pengin kopi enaaakk!” di sosial media, entah iya beneran nantinya (di)beli(in) kopi atau akhirnya hanya sekedar tulisan belaka. Tapi sedikit meneriakkan rasa atau keinginan yang ada dalam hati saat lagi merasa di titik terendah dalam menjalankan suatu peran, adalah hal yang wajar.

“Hayati lelah, gaes!”

Biarin aja, sih, dia ngeluh. Daripada depresi trus berakibat yang fatal? Kan, nggak lucu, gaes! Main ibu-ibuan nggak akan jadi hal yang lucu lagi. Padahal supposed to dijalankan dengan hati senang dan ikhlas, katanyaaaa, agar menghasilkan bibit-bibit unggul generasi penerus bangsa.

Satu hal yang pasti, sih, yaaa.. salah satu dari banyak hal yang paling menakjubkan dari jadi ibu beneran adalah ketika menyadari ada manusia yang tumbuh dalam pegangan kita. Dari 3.3 kg jadi 15 kg. Dari cuma bisa nangis sampe bisa berargumentasi. Kayak gini, nih, misalnya:


Kalau lihat begini, rasanya beruntung banget bisa menjalankan peran jadi ibu beneran. Walau ada rasa capek bahkan rasa frustasi yang (sering) menghampiri, tapi dapat anugerah untuk bisa begini tuh, susah dijelaskan dengan kata-kata. Terkadang juga rasanya bertanya-tanya “kenapa gue bisa ngerasa gini banget ya ke anak?” :))

Word to describe? Beyond amazing!

Anyway, gimana main ibu-ibuannya selama ini? Banyakan senengnya apa sedihnya? banyakan nyinyirnya atau banyakan ilmunya? x))

One Month Later

Been a month (plus 6 days) since my last post. Too many stories to tell, but have no idea how to start OR which one should I write as the first story. Cliche.

Fortunately, a couple days ago, I found something interesting. It’s a lil bit fishy, but it was interesting :p

Check this one out:

img_1827

How does it feel when your friend send you a message telling that someone is talking bad about you?

At that exact time, I feel sad and really mad. Like “what is wrong with her?” To be honest, the thing that she’s been talking about was nothing important. I don’t event want to write it down here. But to be very honest, a couple days after that, I feel relieved. Like, Thank You God For Letting Me Know!

But you know, some people are like pennies, two faced and worthless. Because this kind of people are a part of life. We can not avoid them. But, we can keep them in separated pocket, and put it away.

df5d885a5aa7b7273a298f627addb1e7

Moral of my story : just fear the fake friend who hug you 😉