Gadget Free!

Sudah hampir satu tahun terakhir ini, Menik terbebas dari alat elektronik. Sengaja? Emm, enggak juga, sih. Hal ini sebetulnya jadi bonus dalam hidup saya sebagai Ibu. Mau nulis ini dari beberapa minggu lalu, tapi maju mundur. Biasa, takut dinyinyirin, HAHAHAHA. Takut dibilang sombong.

Monmaap kalo terbaca sombong, ini mah sebenernya beneran cuma mau berbagi.

16406517_10154579114599145_1623365554998752683_n

Tahun 2013, saya menulis bagaimana saya berusaha untuk mendetoks Menik dari gadget. This thing was totally my fault, and believe me, I’m trying to fix it. Detoks gadget ini berhasil, sih, tapi lalu ujungnya saya terlalu langsam terhadap Menik. Saya membiarkan Menik main iPad atau nonton TV, hanya saja saya batasi waktunya. Kayaknya 2013-2016 itu jadi rentang pembenaran terhadap patahnya idealisme saya sebagai ibu.

Mundur dikit, ya. Waktu Menik baru satu tahun, untuk pertama kalinya Menik mendengarkan lagu anak-anak via YouTube! Lalu karena saya punya iPad, jadi seperti anak bayi kebanyakan zaman sekarang, Menik senang sekali melihat cahaya YouTube! yang keluar dari si iPad. Perlahan tapi pasti, frekuensi menonton jadi makin sering. Belum lagi bonus “anaknya jadi anteng” ketika sedang nonton, jadi ENAK. Ya kan?

Keenakan ini bablas, hingga akhirnya saya sadar kalau Menik mulai tergantung dengan YouTube! Menik hafal lagu anak-anak yang hits di playlist YouTube! dari mulai Fingers Songs, Children Lullaby, hingga lagu wajib Sesame Street dan Barney. Selain nonton di YouTube! Menik juga mulai mengoleksi DVD!! yup, you read it right. She has her own DVD collections. And I am not proud of it. Lagi-lagi ini sebetulnya balik ke keyakinan masing-masing, ya. More about it later. Nah, selain YouTube! dan DVD, Menik juga punya aplikasi games semacam puzzle dan kumpulan lagu di iPad saya. Jadi lengkap, deh, hidupnya. Belum lagi setiap jam 8 pagi, pasti nonton Cbeebies. Seru bener kan, kontak sama alat elektroniknyaaa…

Lalu, tahun 2013, saya mencoba mendetoks Menik. Banyak yang bilang saya lebay, tapi bodo amat. Toh, yang saya lebay-in anak saya sendiri :p Bukan anak orang lain. Setelah dirasa anaknya tidak lagi ketergantungan ke gadget, saya mulai melonggarkan aturan. Menik boleh nonton dan main gadget 1-2 jam sehari. Atau biasanya ketika saya tinggal meeting. Supaya tidak rewel dan bikin capek kakek-neneknya, bolehlah main gadget. Menik memang tidak lagi tergantung pada gadget. Kalau saya bilang “tidak boleh”, maka anaknya akan biasa saja. Paling sedikit keki kalau lihat ada temannya yang main hape orang tuanya. Kalau udah melas, saya cuma bilang “Menik anaknya siapa? Ibu punya aturan, jadi ikuti aturan ibu, ya!” Lalu anaknya kesal. Bisa sebentar, bisa juga lama, tergantung suasana hatinya. Tapi biasanya kalau ada teman mainnya, kesalnya tidak akan terlalu lama.

Tahun 2016, Menik mulai sekolah, TK-A tepatnya. Sejak sekolah, saya bilang, Menik boleh nonton kalau hari libur. Alhamdulillah, sekolahnya Menik ini hari Sabtu juga masuk, HAHAHA. Jadi kesempatan nonton hanya hari Minggu. Tapiiii, sudah satu bulan ini, Menik les berenang setiap hari Minggu pagi, jadinya keburu capek, dan biasanya lupa minta nonton tv. Kalau iPad, alhamdulillah, iPad saya rusak. Nggak ada niat pengin benerin. Biarin aja rusak. This is blessing in disguise, literally. Nggak susah cari alasan, nggak perlu bohong, karena memang alatnya rusak. Kalau YouTube! bagaimana? Alhamdulillah, udah nggak pernah minta.

img_7496

Saya juga terpicu sama seorang teman baik yang bercerita bagaimana sunyi di rumahnya karena jarang menyalakan TV, anaknya juga tidak main gadget. ‘Kalau teman saya bisa, kenapa saya tidak?’  ya nggak?

Jadilah saya percaya, kalau ada banyak hal yang bisa dilakukan anak-anak selain duduk diam bercengkrama dengan gadgetnya. Saya juga percaya kalau anak-anak pasti nggak bisa duduk diam di restoran kalau lagi makan bareng teman-temannya kecuali dikasih gadget. Tapi lebih baik, saya kasih pengertian dulu kalau restoran adalah tempat makan bukan tempat teriak-teriak atau berlarian. Bisa cuma dikasih tau sekali? Emm, kalau Menik tergantung moodnya, HAHHAA. Tapi masih bisa dikendalikan-lah.

Lalu kenapa saya, kok, segitunya sama gadget, padahal kerja di dunia digital? Well, yang perlu digaris bawahi adalah ketergantungan pada gadget yang sudah tidak sehat ini akan menjadi hal yang tidak baik untuk perkembangan anak-anak. Urutin satu-satu, coba, ya.

Kesehatan mata

Yup, ini nggak bisa dipungkiri, dong? Kesehatan mata akan terganggu. Coba lihat sekeliling, ada berapa anak yang sudah menggunakan kacamata sejak usia 4-5 tahun? Menurut Anda itu normal, nggak?

Perkembangan bicara.

Gadget memberikan hiburan satu arah. Anak-anak nggak diajak ngobrol. Bolehlah ada developer yang mengklaim “aplikasi ini interaktif kok”, memangnya seinteraktif apa jika dibandingkan saat anak ngobrol dan main bersama kita?

Keterampilan tangan

Anak masih susah menggunakan gunting? Bisa melipat kertas dengan baik, nggak? Kalau sedang menggambar atau mewarnai, sekuat apa tekanan tangan si anak? Apa hubungannya sama gadget? Biasanya kalau lagi main gadget, tangan dan jari-jari nggak perlu bekerja keras. Cukup cubit dikit, kertas ceritanya terangkat. Cukup slide kanan kiri untuk mewarnai atau ceritanya menggunting.

Ketangkasan koordinasi mata dan tangan

Karena terbiasa melihat satu arah ke layar gadget, dan bermain menggunakan sedikit usaha, koordinasi mata dan tangan tidak terlatih dengan baik. Menik itu kesulitan bermain tangkap bola, hingga saat ini. Gurunya sudah bilang dalam 6 bulan ini ada perkembangan yang signifikan, namun koordinasinya masih kurang baik, dan ini berhubungan dengan rentang konsentrasi.

Rentang konsentrasi

Yup, anak akan mudah terditraksi jika sudah tergantung dengan gadget. Konsentrasi penuh hanya terjadi saat sedang bermain dengan gadgetnya. Kalau bukan gadget, anak tidak akan bisa konsentrasi penuh, dan berujung dengan rentang konsentrasi yang pendek.

Adult content.

Nah, ini juga jadi konsentrasi saya. Sejak membantu yayasan JaRI yang memang berkutat dalam hal KDRT dan kekerasan seksual, saya mendapatkan banyak sekali data soal konten digital anak. Bagaimana jahatnya para pemburu anak ini menyusupkan konten yang tidak sesuai untuk anak-anak walaupun parental lock, age lock, or whatever protection you name it, mereka tetap punya selah dan targetnya. Nyata dan menakutkan.

Kesehatan jiwa

Menik, tuh, zaman tergantung sama gadget, mudah sekali marah. Sumbunya pendek banget, cyin. Dan kalau ada keinginan yang tidak dipenuhi, maka akan susah sekali untuk memberi pengertian kenapa keinginannya tidak bisa diwujudkan. Karena apa? Karena terbiasa hal instan via gadgetnya. Ini ada pendapat ahli jiwa soal ketergantungan pada gadget. ‘When people feel an uncomfortable sense of withdrawal when not online, we know that the relationship with technology is not being managed properly,’ (Dr Graham from the Capio Nightingale Hospital, a mental health hospital based in central London). Dan ini tidak berlaku pada anak-anak tapi juga orang dewasa.

Kalau merujuk pada artikel di Daily Mail ini, untuk bisa melakukan detoks gadget, cukup dilakukan selama 72 jam. Treatmentnya mirip dengan para pecandu narkoba, karena dasarnya adalah sama-sama kecanduan. Cut the cord, deal with all distres, and heal together.

Kalau Menik bagaimana?

Seperti yang saya ceritakan di atas, sejak sekolah, mungkin karena sekolahnya setiap hari, Menik tidak ada waktu untuk bisa main gadget. Pulang sekolah biasanya Menik akan bermain di kamarnya. Bisa menggambar, mewarnai, main lego, tea party, make-up session, atau (pura-pura) baca buku.

Sekarang, saya selalu membawa buku gambar dan crayon, terkadang sama buku cerita juga, di dalam tas. Supaya kalau ada waktu kosong dan Menik terlihat bosan, maka saya akan menyarankan Menik untuk menggambar. Jadi pengganti kegiatan bersama gadgetnya adalah menggambar. Sekarang selain sekolah, Menik juga les piano, les menggambar, dan berenang.

Drama distres tanpa gadget terjadi saat detoks pertama kali tahun 2013 itu. Kalau yang sekarang memang beneran mendadak lepas tanpa drama. Ya itu tadi, mungkin karena sekolah dan gak ada kesempatan plus akses ke gadget atau tv, jadi udah aja. Sekarang kalau ditawarin nonton tv juga nggak bertahan lama. Paling 30 menit, udah gitu balik ke kamar mainnya. Lega rasanya si anak bisa enjoy dengan mainan nyata yang ada kamar mainnya. and of course, I am proud. Susah, loh, menghilangkan ketergantungan anak pada gadget, boleh ya bangga dikit sama keberhasilan ini. HAHAHA.

Sekali lagi, saya mohon maaf, kalau artikel ini terbaca menyebalkan dan sok-sok-an. Saya beneran maju mundur mau publikasi cerita ini. Kalau ada yang ngecap syombong, ya udah gapapa, hauhauhauaa. Emang nasib aja, haha! Oh iya, saya juga nggak anti sama gadget, ya gimana dong hidup akohh tanpa smartphone kesayangan. Tapi tidak anti kan bukan berarti boleh ketergantungan, kan? 

Semoga kalau ada yang sedang berusaha menghilangkan ketergantungan pada gadget, usahanya dimudahkan dan cepat berhasil, ya! Semangaaatt 😀

Advertisements

#Menik5Tahun

And the birthday story continue! 

Karena udah masuk TK, jadi tahun ini syukuran ulang tahun Menik pindah ke TKnya x))

Enaknya, di TK Menik nggak ada yang aneh-aneh gitu, cuma tiup lilin, berdoa, dan bagi-bagi bingkisan. Nggak pakai dessert table. Bahkan yang ulang tahunpun tetap memakai seragam, karena merayakannya di lingkungan sekolah.

The thing is my ambitious hormones are screaming inside and out. I hate it but once it screamed out, I have to get rid of it. And by that, it means I have to do something really good that been running around my head, on and on.

Lalu akhirnya si ambisi berhasil memojokkan saya untuk buat apa?

Ini adalah nasi kuning buatan sendiri. Side dishnya ada perkedel, home made nugget kesukaan Menik, timun, tomat, selada, telur dan abon. 

Captured by Ayu dan Kresna yang tiba-tiba dateng dan mau bantuin bikin-bikin. Makasih yaaa.. 🙂

Laluuuu, ada ini nih. Yang bikin begadang, jari lecet, dan pening kepala.

Tas serut dari bahan belacu, yang bagian kantong depannya saya sulam satu persatu nama teman-teman Menik di TK A dan TK B. Blagu ya! Baru juga sekali ikut workshop udah bikin beginiaaann hahahahaha kesel sendiri ujungnya. Tapi hati berdebar kalo nggak selesai. Bagian belakangnya, saya stempel ucapan terima kasih dengan cat akrilik sebagai pewarnanya. 

Lalu yang di tas kertas dengan stiker itu isinya adalah snack kurang sehat kesukaan anak-anak hahahaha. Oh iya, tas serut belacu ini diisi buku gambar, buku mewarnai, kertas lipat, rautan, dan pensil warna isi 12.


Kuenya adalah carrot cake dengan cream  cheese frosting dan kacang. Lalu atasnya dikasih cake topper, lilin angka, dan lili  bunga-bunga. Backdropnya hadiah alias dibikinin sama Bu Guru. Terima kasih, Bu!


Sesudah berdoa, Menik bagi-bagi donat supaya nggak repot motong kue hahahaha *ambisi mulai turun, ntar cranky kalo nggak rata motongnya* dan selesai, deh, acara ulang tahun Menik di sekolahnya.

Semoga Menik senang, yaaaaa! 


Sepulang dari sini, sih, rasanya legaaaa banget! Akhirnya beres juga si ambisi yang kadang terasa ganggu. Pulangnya berasa ngantuk banget tapi happy. Walau ada drama balon terbang yang bikin Menik nangis tapi overall she’s happy with her bday party 🎈 yaayy!


Selamat ulang tahun, Menik! ❤️

#SepertinyaKualat Part Deux!

Sudah lihat videonya? Di sini, Menik bercerita tentang Three Little Pigs and The Big Bad Wolf. Menik ini mudah menghafal cerita yang saya bacakan. Cukup dibacakan 2-3 malam berturut-turut, besoknya pasti sudah hafal.

Nah, sebetulnya duluuuu waktu lagi hamil, saya suka mengernyitkan dahi setiap mendengar anak kecil di Indonesia, yang orang tuanya pure orang Indonesia, ncusnya juga orang Indonesia, tapi anak ini berbicara bahasa Inggris. Dan dicampur-campur. Misal:

“Sus, ayo kita kasih makan fishnya! Ikannya hungry, Sus!!”

“Hai cat! Look, cat-nya cute banget, Mom!”

*Rolling Eyes*

Dan karena waktu itu saya hamil, saya mengusap perut dan bilang “Duh, kalau nanti punya anak, nggak mau kayak gitu!” *nada nyinyir*

Lalu dihardik suami “Sstt, nggak boleh gitu. Kualat, nanti!”

“Iyaaa, maksudnya semoga anak kita bisa ngomong bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau mau ngomong bahasa asing juga ya, yang bener. Nggak dicampur gitu..” *nada kalem*

Waktu berlalu, dan anak yang tadinya ada di dalam kandungan sudah hampir berusiang 5 tahun. Senang dibacakan buku, dan alhamdulillah ada rezeki untuk membeli berbagai buku anak-anak. Bukunya ada yang bahasa Inggris, ada juga yang bahasa Indonesia. Campur gitu aja. TAPI, lagi-lagi sepertinya saya kualat ini. Karena udah kenalan sama YouTube dan NickJr, jadi anak ini seneng berbicara pakai bahasa Inggris! Walau kalau saya tantangin balik, lalu dia rikues “Bu, pake bahasa Indonesia saja, ya!” tapi kalau lagi main sama temennya, mereka main sambil ngobrol pake bahasa Inggris. AJAIB tapi kesel dalam hati. “Yailah, Menik. Ngemeng apaan??”

Tapi ini murni selera pribadi, sih. Menurut saya, baiknya memang anak-anak ini berbahasa ibu dulu dengan lancar. Baru setelahnya, belajar bahasa asing sebanyak-banyaknya. 🙂

Lagi-lagi kualat, gaesss!

#SepertinyaKualat

kualat/ku·a·lat/Jw a1 mendapat bencana (karena berbuat kurang baik kepada orang tua dan sebagainya); kena tulah; cak celaka; terkutuk

Wah, kalau lihat arti kata ‘kualat’ di KBBI, lumayan menyeramkan, ya! Kata ini sering sekali digunakan untuk mengancam atau menakuti seseorang setelah perbuatan yang kurang menyenangkan atau negatif. “Awas, loh, nanti kualat!!” Begitu, ya, biasa terdengar di telinga, sebagai sebuah peringatan setelah melakukan suatu hal yang dianggap jahat atau kurang baik.

Back to 2006, status saya single, belum punya suami. Life was about fun! Bekerja di sebuah radio anak muda nomor 1 di Bandung, berusaha menyelesaikan kuliah, dan menyelaraskan mulut yang nggak ada saringannya. Untuk yang satu ini, saya akui, saya memang kehilangan filter di mulut (dan mata. Dan wajah) Hahaha. Entahlah, seringkali kata-kata yang meluncur dari mulut saya, kabarnya menyebalkan bahkan menyakitkan. Duluuuu, malahan ada seorang kerabat yang menegur ibu saya dan bilang “Anak kamu kenapa sama saya? Kok mukanya jutek gitu?” Ibu saya bingung karena melihat saya tidak melakukan apapun, dan karena saya anaknya, ya, Ibu saya tahu bahwa raut wajah yang anaknya perlihatkan itu adalah raut asli tanpa emosi. IYA. DILAHIRIN JUTEK, maksudnya! x))

Anyway, saat saya sering sekali makan malam di luar bersama teman-teman. Makan atau sekadar ngobrol sambil ngopi. But we did that quite often.Dan jika sedang ngumpul sama teman-teman, saya sebal kalau ada anak kecil laril-lari dan berisik di seputar restoran. Ganggu! “Hih! Anak siapa, sih, ini? Ibunya di mana?” dengan pandangan tajam dan berusaha mengatur emosi, “namanya juga anak-anak!” Situasi ini membuat saya berjanji pada diri sendiri, “Kalau nanti punya anak, saya akan berusaha mendidiknya dengan baik. She or he will behave! But you know that talking is cheap, right?

Tahun 2011 saya melahirkan seorang anak perempuan, tahun ini usianya hampir 5 tahun. Dan anak perempuan saya ini ternyata membuat saya merasa #SepertinyaKualat !! HAHA! Jadi, Menik ini punya teman dekat, yang nggak tahu kenapa kalau setiap ketemuan, pasti reaksinya lebayatun alias berlebihan. Bisa pelukan lama dan saling menyapa rindu, seolah sudah puluhan tahun tidak ketemu. Lalu lanjut dengan teriak-teriak dan lari-larian.Kayak begini:

HADEEEEUUUUHHHH! Anak siapa sih itu?? Kebayang kan, gimana ganggunya mereka di sana? *salim satu-satu*

Bener-bener, deh. Rasanya malu. Saking malunya dan karena susah ngasih taunya (abis dikasih tau, diem 3 menit. Terus diulangi lagi), kami udah berusaha cuek. Dan kalau ada tatapan mata menghardik, kami cuma bisa melemparkan tatapan “punten, ya!” Ehe.. ehe.. ehe! Sepertinya saya beneran kualat ini, sih. Karena dulu, sebelnya luar biasa.. Haha!

Pernah merasakan kualat juga? x)

 

 

Workshop Ibu Kardus

Sekitar setahun lalu, saya menemukan akun IG @Maliyanti di halaman Explore IG. Waktu itu saya tercengang dan bilang “omaigaaddd, rajin banget!” di dalam hati.

Tanpa disangka karena keterlibatan menjadi relawan di Pustakalana, saya bisa kenalan dengan Nur Maliyanti atau yang sering disapa dengan Ibu Kardus. 

Hari Sabtu, 12 Maret 2016 lalu, Pustakalana mengadakan workshop bersama #IbuKardus dengan judul DIY Busy Playbox. Kabarnya, Nur terinspirasi dari Polly Pocket dan akan berbagi ilmu kreasi kardus bersama Pustakalana. 

  
Di bagian belakang BCCF, Nur berbagi cara membuatnya. Seru banget, sih, karena biasanya saya cari tutorial bikin-bikin ini di Pinterest atau Youtube, nah kalau sekarang, salah satu jagoannya yang kasih tutorial langsung! Ada dua tema yang bisa dipilih: Busy Firehouse atau Busy Restaurant. 

   
    
   
Saya dan Menik memilih untuk membuat Busy Restaurant. Awalnya Menik masih semangat gunting tempel kardus. Tapi lama-kelamaan Menik mulai bosan. Akhirnya Menik mewarnai, saya melanjutkan gunting tempel.

Jadi Ibu Kardus sudah menyediakan seperangkat alat prakarya yang siap pakai. Peserta tinggal menempel dan menggunting untuk detailnya. 

   
   

Dan inilah hasil Busy Box saya dan Menik! 😁

Workshopnya ditutup dengan dongeng dari Kak Mita alias @perempuangimbal tentang Pemadam Kebakaran yang membantu memadamkan api di Restoran. 

Seru, deh! Jadi kepikiran pengin bikin beberapa playbox, nanti dijejerin di atas rak dan siap dimainkan kapanpun. Oh iya, figur yang bisa dipakai itu Lego, lik figurines hadiah dari Egg Surprise, atau ya bikin sendiri dari kardus tapi membutuhkan kesabaran dan keterampilan.

Busy Playbox ini bisa jadi pilihan untuk dibawa dan dimainkan di dalam mobil semasa perjalanan. A well spent Saturday morning. Thanks Nur, Mita, Chica, dan Pustakalana. Nanti bikin-bikin lagi, yuk!

The Disposable Diapers

Beberapa hari ini saya ketemu sama beberapa bayi yang berhasil bikin Menik nggak pengin punya adik lagi :p Nope, it’s not an issue. Tapi kami maunya memang belum menambah anak dalam waktu dekat. Intinya menurut Menik, ternyata bayi itu adalah manusia cilik yang berisik dan nggak bisa bicara yang benar *HAHAHHA -gayanya kayak yang udah bener aja*

Pas ketemu bayi-bayi ini, saya sempat memperhatikan pospak yang mereka kenakan. Ada beberapa yang sudah terlihat penuh, ada yang masih terlihat ringan. Ringan, tuh, maksudnya nggak gembal-gembol gitu. Nggak tau, ya, rasanya kasihan aja kalau lihat anak pakai dispo tapi udah berat. Artinya kan dispo itu udah penuh. Sekering apapun, it carry a lot of pees, so you -mothers, need to change it.

422531_4397954707380_871231681_n

Anyhow, saya jadi merasa masuk ke lorong waktu dan kembali ke masa saat Menik memakao dispo. Menik ini baru kenalan sama disposable diapers di usia 3 atau 4 bulan, setelah sebelumnya selalu memakai popok kain atau cloth diapers (clodi). Karena saat itu, saya dan Menik akan ke Bandung untuk pertama kalinya, dan saya merasa khawatir kalau harus menggunakan popok kain. Akhirnya, sehari sebelum berangkat, saya turun ke supermarket di bawah apartemen, dan berdiri cukup lama membaca keunggulan yang ditawarkan oleh masing-masing merek. Hasilnya? Clueless! HAHAHAHA. Akhirnya beli yang lagi promo aja, antara Huggies atau Mamipoko kalau nggak salah. *ujungnya hukum ekonomi*

Sejak itulah, saya merasakan kemudahan hidup sebagai ibu. Bagai merasakan kenikmatan instan dari mie kemasan, ini juga kan instan banget enaknya! Beban hidup cucian berkurang drastis. Hidup lebih ringan. Jadi perlahan tapi pasti, saya mulai memasukkan dispo ini ke list belanjaan bulanan. Saya jadi sering cari info merek apa yang lagi promo di mana. Selama diapers ini memiliki daya serap tinggi dan slim design, it’s going to be fine.

Salah satu hal juga yang jadi perhatian adalah soal frekuensi mengganti diapers ini. Soalnya kalau telat ganti, daerah sekitar kulit kelamin jadi lembab, ujungnya bakal terjadi iritasi, lecet, yang pasti bikin si anak nggak nyaman. Jadi saya tetap mengira-ngira frekuensi pipis Menik. Jika sedang di luar rumah, saya bisa mengganti diapersnya 2-3 kali. Kalau di rumah paling sekali ganti, karena saya masih menggunakan celana kain dan clodinya.

clodi2

Nah, karena si Menik ini bayi yang mungil, jadi selama pemakaian disposable diapers (usia 4-18 bulan) saya hanya menggunakan diapers ukuran S lalu naik ke M. Belum pernah beli yang L, karena pasti kegedean. Biasanya, sih, saya pakai Mamipoko (karena banyak promosi diskonnya), Huggies, atau Merries. Merries ini enak soalnya cuttingnya slim, jadi pas untuk badan Menik yang nggak montok, sedihnya Merries ini halmahera alias mihil, bok, hahaha. Kalau Huggies itu dulu karena merek tersebut juga jadi pilihan ibu untuk saya waktu masih bayi, hehe. Tapi akhir-akhir pemakaian, sekitar usia 14 bulan, saya sering beli Goon. Goon ini juga punya cutting yang slim dan kering. Terpentingnya harganya lebih murah dibanding Merries, jadi saya beralih ke Goon ini.

Kalau sekarang, disposable diapers yang jadi idola apaan, sih? Jadi penasaran, hahahaa. Soalnya setiap belanja bulanan, pasti lewat deretan diapers, kan. Kalau lihat merek baru atau promosi tertentu, rasanya pengin nyobain. Ada diantara ibu-ibu yang make merek-merek yang tadi saya cobain? Masih megang gitu, nggak? Hahaha, maksudnya apakah harganya masih terjangkau, desainnya masih lucu, cuttingnya pas buat bayi Indonesia yang kurang montok, punya daya serap baik, lembut, dll?

402923_10150505858739145_1420010977_n

Kalau boleh, mau tahu, dong. Sekalian buat opsi beli diapers yang mau dikirim ke panti asuhan. Jadi nggak salah pilih, sekalian juga buat kasih masukan ke beberapa saudara saya yang punya baik soal frekuensi penggantian diapers dan pemilihan merek. Karena saya gemas lihat anak yang jalan-jalan bawa gembolan pipis -____-“. Kalau bisa cari yang bikin anak nyaman, kenapa enggak? Ya kan? 😉

 

 

Ke Dokter Gigi, Yuk! 

Senin lalu, Menik ke dokter gigi. Untuk pertama kalinya. Jadiiii, sebetulnya saya sudah niat membawanya sejak 6 bulan setelah gigi pertamanya tumbuh. Tapi karena ada aja halangannya, jadi baru bisa ketemu dokter gigi sekarang 😅 (yup, my bad ✌🏽️)

Anyhow, ketik berangkat, saya sempat bimbang apakah Menik mau dibawa ke RSIA Limijati yang punya klinik gigi sendiri dan medrec Menik ada di sana, atau ke RSGM Maranatha atau Sekeloa atau Riau. Tapi hati saya memutuskan untuk jalan ke RSGM Unpad di Sekeloa. Dan alhamdulillah, pilihan ini tidak salah.

((( sayup-sayup terdengan hymne UNPAD )))

img_0865

Jadi begini, karena saya kuliah di Unpad, jadi saya tahu bagaimana kualitas FKG dan mahasiswanya. Saya sendiri pernah beberapa kali menjadi pasien percobaan teman. Maklum, namanya juga mahasiswa, jadi kalau bisa scalling (membersikan karang gigi) gratis kenapa enggak, yekaann?! Nah, karena itulah kenapa hati saya dengan sigap membantu si otak untuk memtuskan belok ke Sekeloa.

Setelah mengambil karcis parkir, kami langsung menuju ke belakang, ke gedung RSGM. Di sana, kami daftar dulu di meja depan. Isi formulir, bayar Rp5000 dan ditanya “apakah mau ke residen atau dokter spesialis?” Awalnya saya minta ke Dokter Gigi Spesialis, tapi rupanya perawat menjelaskan, kalau Dokter Gigi Spesialis hanya bisa ditemui setelah bikin janji. Jadi hanya bisa ke Dokter Gigi Residen. Dokter Gigi Residen ini adalah Dokter Gigi Umum yang sedang mengambil spesialis. Seluruh tindakan akan melalui acc dosen alias dokter spesialis yang jaga saat itu. Jadi insya Allah aman, ya!

Setelah menunggu sekitar 30 menit setelah beres mendaftar, akhirnya kami dipanggil ke atas oleh suster lalu menunggu jatah dokter gigi residen. Dan hari itu, Menik berkenalan dengan drg. Rizka. Pertemuan pertamanya dengan dokter gigi ini berjalan mulus. Entah karena moodnya memang sedang baik, over excited, atau memang pembawaan dokternya yang ceria, yang membuat Menik merasa nyaman dan santai. Tapi satu hal yang membuat moodnya semakin baik adalah rasa ‘wuaahhh’ ketika tahu kursi tempat dia duduk, bisa naik turun secara otomatis x))

img_0844

Sebelum Menik membuka mulut, drg. Rizka menanyakan soal kebiasaan makan Menik. Apakah suka makan yang manis? Makannya diemut atau tidak? Sampai ke ritual sikat gigi setiap hari. Kemudian pemeriksaan lanjut ke acara buka mulut “aaaaa…” 😀 Setelah diperiksa dengan seksama, gigi Menik ini secara keseluruhan dalam keadaan baik. Namun ada karies di 4 gigi serinya. Dokter Gigi Rizka menawarkan untuk menambal. Kenapa harus ditambal? Karena saat ini usia Menik baru 4 tahun, jika karies ini didiamkan saja hingga gigi susu ganti ke gigi permanen, nantinya bisa terjadi kerusakan jaringan gigi yang lebih parah. Jadi lebih baik ditambal untuk menghentikan pelebaran karies.

img_0849

Karena akan dilakukan tindakan, drg. Rizka konsul ke dokter spesialis, dan ketika kembali dengan lembaran acc, Menik penasaran dengan pembuatan bahan tambalnya. “Kenapa gigi Menik harus ditambal?”. “Kok bisa karies?”. “Karies itu apa?”. “Itu dokter bikin apa?” daaaannn masih banyak lagi pertanyaan yang terlontar dari mulut Menik. Dan ternyata dengan sabar, dokter Rizka menjawab dengan simpel hingga Menik puas dan tetap merasa nyaman duduk di kursi dokter gigi. Proses tambal berlangsung sekitar 15 menit, setelah itu Menik dipersilahkan kumur dan diingatkan untuk jangan lupa menyikat gigi dua hari sekali dan minum air putih setiap habis makan yang manis.

Beres, deh! Kunjungan perdana ke dokter gigi ini berlangsung sukses karena tidak ada trauma dan drama sama sekali. Dompet ibunya juga nggak trauma karena biaya konsultasi ke residen hanya Rp15.000 dan biaya tambal 4 gigi adalah Rp100.000 *TRING* hemat, kan? Oh iya, di RSGM Sekeloa ini juga menerima pasien BPJS, tapi saya kurang jelas soal prosedur dan lainnya.

img_0862

Yuk, bawa anak kita ke dokter gigi, dan biarkan mereka merasakan serunya memeriksa dan memelihara kesehatan gigi & mulut. Salam senyum 3 jari! 😀

 

RSGM UNPAD

Senin-Jumat : 08.00-16.00

Sabtu-Minggu: 09.00-15.00

Jalan Sekeloa Selatan I, Coblong, Jawa Barat 40132