Selaras Inspiring Class : Hand Lettering Workshop!

Sebelum cerita jalan-jalan singkat di Jogja kemarin, ceritain yang tadi pagi kejadian dulu ya.

Biasa, si ambisius, baru pulang dari Jogja dan sampai di Bandung pukul 5.30an padahal tapi tetap masuk kelas belajar menulis indah, dong, yang udah susah-susah disimpenin seat-nya sama Feni alias @besinikel yang jadi mentor di Selaras Inspiring Class hari ini.

11

Jadi ternyata kelas ini merupakan rangkaian dari perayaan HUT @Emeno_Nursing yang ke lima. Emeno membuat serangkaian acara bertema Empowering Mama, untuk menyemangati para ibu terutama ibu baru melahirkan dan menyusui yang terkadang merasa useless karena nggak ada kegiatan lain selain menyusui dan menyusui. Di Bandung, Emeno bekerjasama dengan Selaras, guest house yang nyaman banget dan ada di tengah kota Bandung, menggelar kelas singkat belajar menulis indah yang kekinian: Hand Brush Lettering!

Let’s take one step back first, saya harus akui kalau saya ini ingin sekali bisa berkesenian dengan tangan. Pas SD sudah pernah les menyulam dan scrapbooking. Lalu kemarin sempat ikut workshop menyulam, dan hari ini berkesempatan ikutan kelas pendek hand lettering. Ketika hand lettering ini menjadi tren, saya takjub dam gemas melihat kelihaian tangan orang-orang menggunakan kuas dan tinta. Jangankan menulis menggunakan kuas, mewarnai pakai cat air saja susah! Rasanya emang nggak jodoh sama cat dan kuas. Kecuali cat temboh rumah dengan roller brush yang tinggal sret-sreet!

Happy banget pas nemu pengumuman Feni di IG-nya. Dan rezeki, ya, walau last minute baru bisa konfirmasi, tetap kebagian satu seat. Tadinya, saya udah mau mengundurkan diri aja, mengingat jadwal kereta sampai di Bandung jam  5.21, tapi ada suara yang bilang “kesempatan tidak datang dua kali”, jadi cuss deh ke Selaras dalam keadaan trippy alias setengah sadar karena semalam di kereta hanya tidr sekitar 3 jam, hahahaha.

Kelas dibuka oleh Adenita, Anggi, dan Feni. Lalu langsung ke materi utama yaitu Basic Strokes! Kayak gini nih:

2

Gampang, ya? IYA, GAMPANG KELIHATANNYA! Ada teknik memutar, mengangkat, dan menekan kuas untuk bisa menghasilkan garis yang indah. Eh, sebelumnya dikenalin dulu, deng, sama alat-alatnya. Ada kuas, yang banyak jenis-merek-dan nomornya, tinta cina, dan cat air. Lalu ada kertas HVS 100 gram untuk berlatih dan dua watercolor paper untuk berkreasi di akhir kelas.

Feni mengajarkan cara membuat garis lurus, miring, meliuk, tebal, dan tipis. Setelah itu boleh, deh, mencoba belajar menulis sesuai keinginan masing-masing. Ketika membuat garis, saya merasa tidak ada kesulitan. Frustasi dimulai saat membuat garis tebal yang rupanya tidak semudah tangan-tangan di video yang bertebaran di Instagram. Ada cara menyapu kuas agar tidak terputus dan konsisten.

3

Oh iya, ternyata hand lettering ini merupakan salah satu terapi ketenangan, kalau memang bisa dinikmati. Menurut Feni, setiap orang memiliki kesukaan yang berbeda, dan Feni menemukan ketenangan saat duduk diam berkreasi bersama kuas dan catnya. Ya, mungkin sama seperti saya yang merasa tenang kalau bisa makan pisang goreng, bala-bala, dan kopi susu sepuasnya, HAUHUAHUAHUAA..

 

Happy sekali hari ini bisa ikutan Selaras Inspiring Class. Semoga ada banyak kelas pendek lainnya yang bisa membuka pengetahuan, pengalaman, dan menambah pertemanan tentunya. Selamat ulang tahun buat EMENO Nursing Wear, semoga dagangan makin laris, dan makin banyak memberikan inspirasi untuk perempuan di Indonesia.

4

**

All photos taken from Selaras Guest House Facebook Page, captured by @Niseng and his friend. :))

Advertisements

Botanina, Your Local Pure Essential Oil

Saya selalu suka produk dalam negeri. Biasanya kalau harga merek hipster mulai nggak masuk akal, saya coba cari produksi lokal.

Kayak essential oil ini, sebagai yang tinggal di negara kaya rempah, saya kaget sama harga essential oil yang lagi tren. Waktu itu nyari oil buat ibu yg sedang menjelang menopause. Tapi ciyus, rasanya saya kezelek waktu tau harganya. 😅😅😅

Lalu mulai cari Essential Oil produksi lokal, ada beberapa kandidat. Tapi karena ada satu merek yg dimiliki teman, jadi cobain yang ini dulu. Alasannya gampang: biar enak nanya sepuasnya.

Ketemu, deh, sama @Botanina_ID 😁 waktu tau, masih cuek, nggak langsung beli buat stock dll. Tapi pas kemarin Menik sakit, demam, tapi nggak ada batpil, khawatir virus jahat. Mana lagi pancaroba, makin parno. Cuss deh tanya, dan dikasih Thieves!

Enak dan ajaib. Menik bisa tidur nyenyak setelah dua malam tidur gelisah, harganyapun bikin kantong tetap senang. Jadi beli Cold & Flu spray buat jaga-jaga kalo batpil datang.

Cold & Flu Spray ini harganya 70rb.
Thieves Essential Oilnya 110rb.

Kalau mau minta katalog, coba ke Line: Botanina atau cek IG @botanina_ID deh. Selain Essential Oil, Botanina memang berkonsentrasi pada natural healing dan home remedy berbasis pure essential oil. Jadi mulai dari Pengharum Ruangan hingga Bugs Repellent juga ada.

Botanina membuat varian produk yang disesuaikan dengan kelompok umur konsumen. Jadiiii, meskipun essential oil adalah bahan alami, namun tetap saja tidak semua essential oil dapat digunakan untuk segala usia (sensitivitas tubuh pada tiap umur dapat berbeda-beda).

Lalu untuk ibu hamil dan menyusui, ada daftar essential oil yang sebaiknya dihindari dan hanya dapat menggunakan essential oil pada dosis rendah. Jika ingin menggunakan produk Botanina, bisa coba produk yang diperuntukkan bagi anak-anak atau deretan produk Botanina – Pregnancy Friendly Skincare.

Begitu kira-kira, ya. Sekali lagi, kalau mau tau lebih jelas, coba langsung tanya aja sama yang lebih ahli alias yang punya.

Stay healthy, peeps! – with Olva

View on Path

Local Crush #2 : Lipstick Wardah

Sudah baca review lipstick Wardah dari Ira? Sukses bikin saya mau ikut pamer koleksi (cieee koleksiii, padahal baru punya tiga biji :p) lipstik merek lokal ini. Pertama kali tahu Wardah ini dari nyokap, sih, karena kabarnya founder Wardah ini adalah alumni Kimia ITB. Secara nyokap juga selalu mendahulukan produk lokal dibanding interlokal, jadi pasti saya ngikut nyoba, namanya juga anak sholehah, kan! Nggak lama nyokap ngomongin soal Wardah, saya lihat di IG-nya Puche @Puchh upload foto pake Matte Lipstick Wardah yang Velvety Brown and I fell in love at that time.

wardah5

Sambil jalan ke counter Wardah, saya masih punya rasa, itu jangan-jangan bagus karena Puche yang pake! HAHAHAHA ya dese, kan, cantik bingit, ya. Apaan aja dipake pasti pantes, lah akoohh?

Sedikit informasi, selain skin care virgin, saya juga make-up virgin. Okay, bukan make-up, deh, tapi beauty tools. I really don’t care about what to put on my face everyday except when I have to go on stage for hosting an event. Sehari-hari saya cuma pakai bedak tabur marcks dan lipbalm body shop, selama 10 tahun. SERIUS. Bahkan pas kerja di sebuah majalah gaya hidup yang isinya gaya dan cantik semua, eike paling polos, deh. Sekitar setahun yang lalu, saya tiba-tiba terjebak dalam IG Feed sahabat baik sejak kuliah, yang lagi pamer lipstick andalannya. Nah, biasa kalo lagi browse IG, pasti nyasar ke akun-akun lainnya yang punya hestek serupa. Alhasil, mulailah saya gatel pengin cicip listik ini dan itu.

Masa’ nggak punya lipstik sama sekali, Ki? Err, ya punya. Tapi cuma sebiji, merek Revlon, tone nude. Pernah pengin beli MAC Russian Red setelah liat MUA Kiky Franky dandanin Fahrani (kan merasa kulitnya satu tone sama si model, HAHAHA) buat artikel saya, tapi nggak jadi-jadi karena rasanya nggak rela gesek debit diatas 200ribu buat sebuah lipstick yang bakalan habis akhirnya. (Walau sebetulnya saya belum pernah merasakan lipstick habis, hahaha, yang ada dibuang karena expired)

Okay, akhirnya saya sampai di gerai Wardah, Cihampelas Walk. Langsung tanya ke mbaknya, Matte Lipstick Velvety Brown #14. Saya cobain terus langsung beli lippen seharga Rp32.000,- itu. Ho-oh, harganya 32ribu aja. BAHAGIA, ya! Dan setelah seminggu memakai si nomor 14, saya memutuskan untuk menjadikan Velvety Brown ini sebagai lipstick harian. Teksturnya empuk, moist, tapi hasil akhirnya matte. Walau harus oles ulang kalau habis makan, tapi buat saya nggak jadi masalah.

wardah7

FYI, ini adalah lipstick pertama yang habis saya pakai, dan ini adalah tube yang kedua 😀

wardah2

Mulai, deh, mau cicip lipstick Wardah yang lain. Nyokap make yang seri Exclusive, dan entah kenapa, apapun yang dipakai beliau, pasti pantes (dan hampir selalu bikin si anak pengin ikutan lalu ngerasa kecele pas ngaca..) jadi pas nganter ibu beli, saya ikutan. Lipstick kedua yang saya miliki adalah Exclusive Lipstick Great Berry #35. Sebelum beli, saya lihat beberapa bibir berwarna pink-fuschia-berry seliweran di feed IG dan Path. Jadi sok ikut tren aja, hahaha. Seperti biasa, cek tiga warna yang saya pilih, cobain di bibir dan pilih satu yang paling pantes.

wardah4

Beda sama si Matte, kalau Exclusive ini akhirnya glossy. Karena kemakan tren Matte, saya ngerasa kurang oke dan nggak pantes aja make lippen mengkilap. Tekturnya moist dan mudah diaplikasikan. Tapi nggak full coverage, jadi harus tiga-empat kali pulas, blot sekali, trus pulas lagi biar full dan agak tahan lama. Harganya Rp37.000 ajah. Nah, karena nggak suka yang glossy, saya coba ngakalin. Pernah baca kiat ini tapi lupa dari mana, huhu. Jadi setelah dipoles dua-tiga kali, blot sekali pakai tissue, poles lagi kalau diperlukan, blot dikit, tepuk-tepuk bedak tabur sedikit, bersihkan, dan tadaaaa.. jadi matte, deh! 😉

wardah1

Lipstick Wardah terakhir yang saya punya, dan sempat jadi favorit dipake sebulan adalah seri Longlasting warna Cherry Glam #11. Ini keracunan Manda pas baca artikel di FD. Lagi-lagi merasa tone kulit sama, jadi pede kalau si merah ceri ini juga bakalan cocok di saya. Kebetulan banget pas beli lagi nggak bisa cobain, jadi langsung tancap minta ke SPG dan bayar Rp42.000,- di kasir.

wardah6

Sampai rumah, coba pulas dan omaigaatt, cucok, ya! Matte, teksturnya tidak kering, dan tahan lama. Kalau nggak mau kering, apply lipbalm dulu dikit sebelum pake Wardah Longlasting. Habis ini mau coba beli nomor 03 kayak yang pernah diliatin Noni.

wardah3

Foto-foto diatas tanpa filter, cuma pencahayaan aja yang beda-beda. Maklum, mengandalkan sinar alami alias matahari pagi hahaha.. Tiga lipstick Wardah ini selalu ada di pouch saya sekarang. Setiap hari sudah pasti pilihan pertama jatuh ke Velvety Brown. Tapi kalo mau centil dikit, pake si Great Berry, dan tolong abaikan penampakan si Great Berry yang udah bocel begitu. Itu akibat punya anak balita perempuan yang suka lupa minta ijin coba lipstick ibunya x’) Nah, kalau si Cherry Glam dipakai kalau pas mau pergi tiba-tiba ada perasaan ragu. Because when in doubt, wear red, khaan? 😀

Nah, seperti judul postingan ini, saya memang punya perasaan tersendiri tentang produk lokal untuk banyak hal. Entahlah, rasanya semacam bisa membuktikan, tanpa perlu produk luar yang harganya pasti nggak murah, produk lokal juga nggak kalah. Local crush #1 saya adalah tas dari Cagi hehee. Nanti cerita terpisah aja, ya!

Jadi saya kasih bintang 4 untuk serial lipstick Wardah. Harga cocok banget, saya sengaja beli di gerai resmi supaya harganya sesuai anjuran :p. Kekurangannya satu, nih, si Longlasting gampang patah. Baru dua kali diputer, tiba-tiba ‘plek’, LAH! Tapi masih bisa dipake, sih.

Yak! Gimana? Ada yang penasaran cobain Wardah juga? Atau punya lipstik lokal andalan yang lain? Coba bagi-bagi, dong 😀