Membereskan Ruang Bermain

Saya udah janji lama, ya, terutama di Instagram pas posting berhasil membereskan kamar main Menik, tapi baru sempat sekarang nulisnya. Nggak apa-apa, yaa..

Jadi begini, loh, beberes adalah salah satu terapi kewarasan untuk saya. Sejak dulu, kalau ada hal yang mengganjal dalam hati dan perlu pelampiasan untuk mengeluarkan energi negatif pilihan saya ada tiga: ngosek kamar mandi, bongkar dan rapihkan ulang isi lemari pakaian, atau beresin kamar. Jadi bukan pencitraan, emang dasarnya jiwa beberesnya sangat kuat, HAHAHA!

Anyway, sudah beberapa kali sebetulnya saya merapihkan kamar main Menik. Menik ini rezekinya alhamdulillah banget, ada aja yang kasih atau beliin mainan. Bisa kakek-nenek, bisa saudara atau bisa juga sebuah brand yang nawarin untuk endorsement. Alhamdulillah, sih, mainan 80% dapat gratis. Tapi astaghfirullah juga kalau udah lihat Menik mainin semuanya. Sejak nggak punya jatah nonton TV dan main hape, Menik jadi lebih aktif ngacak-ngacak kamar mainnya. SEMUA DIMAININ! (T____T)

Sebagai ibu yang suka bersih-bersih, saya sedih banget kalau lihat keadaan kamar main Menik. Karena ada teori mendidik anak yang bilang “Children see, children do” Saya serasa ingin teriak “MANAAA? BEBERESNYA NGGAK RAPIHHH!!” hahahhaa.. Menik bisa dan selalu saya ajak untuk merapihkan mainannya, tapi ada saat-saat Menik keburu tidur, lupa beresin, dan saya keburu gatal untuk membereskan ruangannya. Walau belakangan ini, Menik makin rajin beresin mainannya, tetap saja masih harus diingatkan kalau setiap selesai bermain, harus dirapihkan.

Karena rezeki yang saya bilang cukup tadi, mainan Menik ini makin lama makin numpuk. Lah, ruangannya kan nggak ikut jadi besar, hasilnya? Mumet mata! Pusing banget lihat volume mainan, bahkan ada mainan yang sebetulnya udah nggak kesentuh sama Menik, jadilah saya mencoba mencari cara untuk merapihkan mainannya.

Sebelum sempat merapihkannya, saya sempat jadi MC dulu di acara OLX, dan biasa, deh, kalau jadi MC suka dapet ilmu yaa.. dan kali ini dapat dari Nadya sang Psikolog Rumah Dandelion yang bercerita tentang habit tukang tumpuk barang atau hoarder dan juga metode KonMari alias melepaskan barang-barang yang sebetulnya tidak ada koneksi lagi dengan diri kita dan cara menyimpan barang-barang agar lebih rapih dan teroganisir.

Jadi dapat ide, deh, untuk membereskan ruang bermain Menik dengan metode ini. Menik diajak nggak? Ya iya, dong, kan itu barang milik Menik hahaha.. biarin aja dia yang nentuin sendiri, jadi nanti kalo tiba-tiba keinget dan nanyain, gampang jawabnya. Metode KonMari ini awalnya emang bikin kita lihat semua barang yang kita miliki.

LOOK AT THOSE STUFF!! -____-

Tiga cara utama untuk beres-beres ala KonMari adalah:

  1. Ingat-ingat bahwa tujuan akhir membereskan barang bukanlah membuang atau menyumbangkan barang sebanyak-banyaknya, tapi menyortir dan menyimpan barang yang bisa membuat kita merasa terkoneksi dan bahagia. Jadi pas beres-beres, setiap megang barang tanyakan pada diri “does this spark joy?” Pas kemarin beresin mainan Menik, saya lihat kondisinya, saya ingat-ingat juga kapan terakhir ia mainkan. Kalau sudah lebih dari 3 bulan tidak pernah disentuh berarti saatnya masuk box buang atau box sumbangkan. Kalau masih pernah dimainkan, saya tanya ke Menik “ini masih mau digunakan? mainan ini bikin Menik merasa senang nggak? Kenapa?”
  2. Sortir mainan berdasarkan kategori. Saya mulai dari Lego, kertas, alat tulis dan menggambar, puzzle, princess figures, dough, boneka, buku, dokter-dokterran mainan lain-lain (HAHAHHA ini bingung beneran, jadi kayak mesin kasir, tea set, payung, stroller mainan, dan lainnya, ada di kategori mainan lain-lain).
  3. Atur kembali mainan di tempat yang sudah diberi label sesuai kategorinya. Menurut Marie Kondo, menyimpan barang sesuai kategori dan ditata agar mudah diambil akan menghindari kita dari hoarding alias menyimpang barang tanpa digunakan kembali. Mudah dicari, mudah diambil, dan mudah dikembalikan.

Sudah, deh! Hasilnya, hari itu saya berhasil menyingkirkan dua dus mainan yang ternyata sudah tidak pernah digunakan. Ada yang saya sumbangkan, ada juga yang saya buang karena memang sudah tidak bisa digunakan. Ini dia kondisinya setelah dirapihkan:

img_0415img_0466img_0467img_0475

Sejak diajak menyortir barangnya, Menik jadi lebih bertanggung jawab mengembalikan mainan ke tempatnya. Karena saya tidak mau menjadi ibu yang harus mengingat-ingat di mana si anak meletakkan mainannya. Prinsipnya: Menik yang main, Menik yang rapihkan. Jadi kalau Menik lupa menyimpan, ya Menik ya tanggung akibatnya x))

Yuk, mainan dan ruangannya dirapihkan! 😉

Advertisements

4 thoughts on “Membereskan Ruang Bermain

  1. PR 2017 ku adalah decluttering besar-besaran! Krn aku telah menjadi hoarder level kecamatan. Mau baca Konmari tp blm siap mental, hahaha. Seminggu yg lalu udah get rid of seember gede bajuku yg udah ga dipake. Lumayan skrg lemariku. Masih tetep pas-pas’an space nya. Tp plg gak, barang bs masuk lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s