The Toilet Training Story

Cerita detail Toilet Training (TT) Menik sudah pernah diunggah di Mommies Daily. Nah, karena kemarin ada beberapa pertanyaan soal TT di email karena cerita di sini kurang lengkap, saya repost aja, ya. Anyway, cerita ini mungkin nggak bisa jadi acuan, haha, karena sejujurnya, ini terjadi tanpa rencana. Ya kan awalnya mau nyapih dulu, eh malah lepas pospak duluan! Oh iya, list perlengkapannya juga saya masukkan di sini, jadi biar sekali baca😀

***

potty

Satu-satunya resolusi di awal tahun 2013 adalah Menik bebas pospak. Resolusi cuma satu, dan tidak terwujud. *Face Palm*

Nah, karena berencana konsentrasi ke weaning with love di tahun 2014, jadi saya dan suami mengesampingkan niat melakukan potty train sampai Menik berhasil disapih. Karena konon kata beberapa dokter anak, weaning dan potty train adalah hal yang berat untuk balita, maka sebaiknya tidak dilakukan bersamaan. Jadilah jampi-jampi kami setiap hari hanya seputar sapih. Dari mulai iseng bertanya “Menik, memang susu ibu masih ada?” hingga menunjukkan kalau semua tokoh favoritnya tidak ada yang masih menyusu, adalah kegiatan kami setiap saat.

Hingga sampai ke seminggu yang lalu. Jadi sebetulnya, Menik memang sudah biasa memakai training pants-nya jika sedang berada di rumah. Ya tapi hanya sekedar pakai saja tanpa penjelasan tambahan kalau mau BAK atau BAB harus ke toilet, jadinya Menik akan ribut sendiri bilang “Buuu, basaaahhh!” Dan baru saya giring ke toilet, kasih tau sedikit bahwa pipis pasti basah, jadi ya kalau tidak mau basah harus ke toilet karena Menik tidak pakai pospak. Karena merasa tidak ada konsistensi dalam hal memberi informasi, jadi saya benar-benar santai dan cenderung tidak terlalu memperhatikan soal potty train. Hingga akhirnya saya menyadari kalau sudah tiga hari ini, Menik mulai memberi tanda yang jelas jika mau BAK. Jadi saya otomatis membawa Menik ke kamar mandi, alasannya? Capek ngucek celana dalamnya yang basah. Iya itu alasannya, bukan karena mau melatih Menik. Hahahaha.. Dan karena konsentrasi mulai tertuju pada urusan ke toilet, kami lupa soal obrolan menyapih dengan Menik. Tapi karena tanpa rencana, jadi ini semua berjalan tanpa acuan, tanpa ada mengosongkan jadwal demi kelancaran potty train si Menik. Misalnya hari ini kami stay di rumah, karena memang tidak ada urusan keluar rumah, maka Menik akan bebas pospak. Tapi kalau keesokan harinya saya harus pergi, ya Menik akan pakai pospaknya, tanpa edukasi apapun.

Sampai akhirnya saya kepentok momen, yang menyadarkan diri saya kalau tampaknya Menik sudah siap berpisah dengan pospak, tapi ibunya yang malas repot :p Jadi, hari itu saya harus ke supermarket karena stok sayuran habis, saya pergi berdua Menik saja dan ia menggunakan pospak. Tiga jam kemudian kami sampai di rumah, dan saya langsung menggiring Menik ke kamar mandi untuk cuci-cuci. Apa yang saya membuat saya sadar? Pospak kering, dan Menik terlihat lega melihat toilet seater Sesame Street, kemudian bilang “pipis, bu! Horeee!!”. Berarti Menik mungkin menahan pipis ketika kami keluar dari rumah. Akhirnya mulai saat itu, mau tidak mau, saya bilang “Menik, kalau mau pipis, bilang sama ibu, ya! Kita ke kamar mandi. Kalau pipis di celana, nanti celananya basah, nggak enak! Jangan ditahan pipisnya, nanti sakit. Okay?” Ini adalah kalimat yang terus saya ulang setiap saat. Tiga hari pertama, Menik tidak pernah bilang kalau mau pipis, saya yang menawarkan setiap 30 menit sekali. Hasilnya? Tidak ada insiden ngompol. MAGIC!!

Memasuki hari keempat, ada kemajuan, Menik mau bilang jika ingin pipis. Walau baru sekali atau dua kali, tapi setidaknya Menik mulai mengerti. Di hari kelima, kebetulan Menik harus ke dokter untuk imunisasi, saya dan suami memutuskan untuk tidak memakaikan pospak ke Menik. Beberapa pertimbangan seperti toilet rumah sakit yang bersih dan nyaman, serta jarak tempat tinggal ke rumah sakit relatif dekat, membuat kami yakin kalau hari tanpa pospak di luar rumah ini akan berjalan lancar. Oh iya, saya membawa portable toilet seat cover dari Mommy’s Helper yang sudah lama saya miliki (karena seperti yang saya bilang di atas, cita-citanya Menik sudah lulus toilet training di tahun 2013 heeheee..) Nah, siapa yang sangka, percobaan membawa Menik tanpa pospaknya keluar rumah berjalan lancar, tanpa kejadian ngompol sekalipun. Celana cadangan dan juga pospak yang saya bawa tidak terpakai sama sekali. Akhirnya mulai hari itu, saya dan suami menyatakan selamat tinggal pada pospak, dan selamat datang celana dalam cilik!😀

Tanpa drama, ya? Iya, nih! Saya juga bersyukur sekali. Tanpa rencana, malah bisa berjalan lancar. Mungkin karena tidak ada rencana, maka tidak ada target kali, ya, jadi saya benar-benar merasa santai. Mungkin juga karena Menik dapat dipastikan tidak pernah ngompol saat tidur dari sejak baru lahir, maka proses melepas pospak ini juga terasa lebih mudah. Iya nih, untuk yang satu ini saya yakin sekali, Menik akan BAK atau BAB saat ia sadar dari tidurnya. Menik tidak pernah terbangun dari tidurnya karena popok basah. Begitu matanya dibuka, baru Menik akan pipis atau pup, dan kebiasaan ini terus berlangsung hingga sekarang. Makanya saat memutuskan untuk mulai toilet training, saya lebih khawatir Menik ngompol saat bermain ketimbang saat ia tidur.

Saya jadi merasa harusnya saya juga bisa lebih santai untuk berbagai hal, agar bisa berjalan lancar, tanpa beban. The unplanned potty train story ini semacam membuktikan saran almarhum Bapak soal menjadikan anak bagian dari diri dan tubuh kita.  Ketika segala sesuatu berjalan tanpa beban, rasanya ringan dan tidak mudah marah, deh! Anyway, buat Mommies yang berencana untuk mulai mengajarkan anak berurusan dengan toilet, saran utamanya adalah santai. Kedua, percayalah bahwa anak yang mungkin masih belum lancar berbicara ini ternyata mengerti betul apa yang kita bicarakan. Sama seperti banyak hal dalam hidup kita, repetisi atau pengulangan, akan menjadi hal yang paling ampuh untuk diingat dan dimengerti.

Setelah yakin anak bisa lepas dari pospak, pertanyaan lanjutan yang muncul adalah ketika pergi yang kondisinya tidak selalu bisa menemukan toilet bersih dan nyaman. Jadi akhirnya beberapa kali keluar rumah, Menik masih pakai pospak. Untuk mengakali, saya bilang saja ini celana dalam tapi kertas, dan boleh pipis di celana kertas kalau nggak ketemu toilet. Tapi sebaiknya Menik tetap bilang kalau mau pipis, ada portable potty yang stand-by di mobil. In case anaknya nggak bisa disuruh pipis di pospak karena mungkin toiletnya jorok, saya akan membawa Menik ke Mobil untuk pipis di potty tersebut.

Jadi PR selanjutnya adalah memberitahu kenyataan pada Menik bahwa di Indonesia tidak selalu bisa menemukan toilet yang bersih tapi tetap saja anaknya tidak boleh menahan pipis atau pup karena bisa menyebabkan penyakit😦

***

Jawaban untuk PR tersebut adalah melengkapi diri dengan beberapa senjata.

1. Mommy’s Helper Cushie Traveler

1008-812012153133

Karena bisa dilipat dan dikasih janji ‘no more pinched bottom’ maka saya langsung bungkus. Ternyata benda ini berguna sekali jika kita mengunjungi suatu tempat yang tidak menyediakan toilet khusus anak-anak. Menurut saya, ini jadi problem utama, loh! Jika tidak ada toilet khusus anak, bisa saja anak dipegang dan bertumpu pada kita, tapi kan pegal, ya? Dan untuk orang tua yang hobi keluar rumah, proses potty train ini bisa terganggu hanya karena tidak tersedianya toilet khusus anak. Makanya portable toilet seater ini cocok dan lumayan ringkas untuk masuk ke dalam tas. Nilai plus lainnya adalah hampir selalu cocok dengan berbagai model toilet duduk yang ada di Indonesia. Pernah satu kali, potty seat ini tidak bisa dipasang dengan pas, tapi tetap bisa digunakan, kok! Jadi sifatnya cukup universal.

Terpenting juga, nih, sesuai janjinya di cover, Alhamdulillah, Menik belum pernah kena insiden kejepit pas duduk disini, malahan ini menjadi lapisan kedua ketika ‘terpaksa menggunakan toilet cover yang kotor dan banyak jejak kaki. Lapisan pertamanya,saya memang sudah selalu membawa disposable paper toilet seat cover, Hygienex mereknya.  Terserah, deh, mau dibilang sok bersih, tapi ya ngeliat jorok aja sudah malas, apalagi tahu kalau dudukan toilet umum itu mengandung 1600 kuman per 100 centimeter persegi! (sumber: www.health.kompas.com) Jangan lupa untuk mengeringkan bagian bawah setelah digunakan dengan tissue agar tidak menyimpan kotoran yang berpotensi menjadi jamur karena disimpan. Satu-satunya kekurangan dari portable seat ini adalah bulky. Tapi kalau terbiasa membawa tas ukuran sedang atau besar, memasukkan kantung putih gemuk ini sebetulnya tidak akan menjadi masalah.

2. Pottete Plus Portable Potty

2in1-portable-potty-bisa-di-tumpuk-di-closet-atau-di-taruh-dilantai-hrg130rb1

Nah, satu barang lagi yang jadi teman baik kami saat Menik sudah lepas dari pospak adalah portable potty dari Pottete Plus! Sekali lagi saya beritakan, hehehee, perangkat ini juga sudah saya beli dari tahun 2013. Lagi-lagi karena tingkat percaya diri tinggi soal Menik akan berhasil ke toilet sendiri sejak tahun lalu, hehe. Kalau potty yang ini saya simpan di dalam mobil dan berguna sekali ketika sudah empat kali pergi dengan Menik dan selalu menemukan pospak kering, yang artinya anak ini menahan pipis selama bepergian. Sejak saat itu, saya selalu menawarkan Menik untuk pipis setiap 30 menit sekali. Jadi walaupun Menik tetap saya pakaikan pospak (sambil bilang kalau ini celana juga tapi terbuat dari kertas) tapi saya tetap menaturnya. Kenapa? Saya tidak ingin Menik terserang ISK karena sering menahan pipis.

Portable potty ini stand by saja di dalam mobil, gunanya sebagai toilet Menik di dalam mobil. Saya letakkan di bagian tengah mobil, agar Menik leluasa ketika ingin BAK atau BAB. Saat baru memberi Pottete Plus, ada bonus setumpuk degradable plastic bagyang dilengkapi dengan pad, fungsinya untuk menampung pipis atau pup anak. Tapi tenang saja, jika plastik bonusnya sudah habis, plastik biasa tetap bisa digunakan. Jadi sedia plastik dalam mobil atau tas ya, yang juga berguna untuk menyimpan celana kotor misalnya anaknya kebablasan ngompol atau keburu pup di celana😀 Psst, jikacushie traveler tertinggal, si pottete plus ini juga bisa dijadikan penggantinya! Makanya jangan dipindah, biarkan saja ada di dalam mobil.

Wah, ternyata printilannya tetap banyak, ya! Sebelum memulai potty train, saya termasuk orang yang tidak mau repot membawa banyak barang anak, cukup menggunakan bag in bag organizer untuk menyimpan pospak, tissue basah, dan baju ganti secukupnya. Saya kira, setelah bebas pospak, bawaan saya akan lebih ringkas dan ringan. Ternyata salah! Hahaa, pospak tetap saya bawa satu untuk jaga-jaga, dan bertambah bawaan dalam tas, yaitu si cushie traveler.

Gimana? Sudah siap memulai toilet training?😀

3 thoughts on “The Toilet Training Story

    • Menurut aku, potty nggak begitu ngaruh, sih. Abis nanti kan ujungnya yang dipakai toilet beneran x)) mendingan pakai penambah dudukan yang lucu-lucu itu sih hehee

      Semangat, Cemplu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s