(Mencoba) Hidup Sehat

Selama 4 tahun terakhir, saya membebaskan diri dari olahraga rutin. Pokoknya olahraga semaunya. Berenang kadang-kadang. Jalan pagi kadang-kadang. Basket dan lari sudah tidak pernah sama sekali. Padahal pasca melahirkan, 6 bulan pertama saya masih rajin jalan pagi sekalian jemur si bayi. Belakangan semangat mengendur, rasa malas dimanjakan, jadi saya terbebas dari olahraga. Tambahan buruk lainnya, saya juga tidak mengatur pola makan dengan baik. Iya, di rumah, kami mengonsumsi nasi merah. Sayur tidak pernah lupa, tapi jajan sembarangan juga sering. Selingan gorengan atau martabak sore-sore dan mie instan tengah malam-pun tidak pernah terlupakan.


Hasilnya bisa ditebak, ya? Setelah masa menyusui selesai di awal tahun 2015, berat badan saya naik terus hingga saya sendiri takut melihat angkanya. Tujuh puluh empat kilo, sodara-sodara! Yup, 74 kg dengan tinggi 168 cm. Artinya saya kelebihan 16 kg kalau mengikuti cara hitung massa tubuh secara tradisional (Tinggi badan – 110 = massa tubuh ideal).

Trimester akhir 2015, teman saya dengan baik hati mengirimkan email workout plan. Saya sempat mencobanya sekali, lalu berhenti setelah pre-training pertama, karena RASANYA KAKI MAU PUTUS!! Akhirnya saya cerita ke teman saya lainnya yang ternyata suka olah raga. Lalu tiba-tiba dirinya mengirimkan foto perubahan tubuh setelah 4 minggu rutin menjalankan plan tadi. SAYA  IRI! x)) Iya, iri. Lalu saya mulai menguatkan niat untuk mulai melakukannya. Dimulai dengan lari pagi.

Lari pagi saya lakukan untuk mengajak jantung beradaptasi dengan ritme olahraga yang akan saya lakukan. Tanggal 28 Desember 2015, setelah merasa siap, saya mulai melaksanakan Pre-Training yang berlangsung selama 4 minggu. Lanjut dengan training setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Selain itu, saya juga mengatur makanan yang saya konsumsi.

Lalu bagaimana hasilnya?


Dari 74.1 kg jadi 67.7 kg. Nggak drastis karena nggak instan, tapi saya happy lah lihat foto begini. Baju juga yang tadinya kekecilan, bisa dipakai lagi! Plus,badan beneran terasa lebih ringan dan bugar.

Langsung, deh, banyak yang nanya. Ngapain apa? Diet Mayo? Minum obat apa? Dan seterusnya. Tadinya, saya juga nggak percaya kalau saya akan menjawab ini dengan satu kata: OLAHRAGA. Emang susah pasti awalnya. Apalagi kalau sudah lama tidak pernah olahraga rutin. Niat adalah yang utama, karena memulai sesuatu yang membutuhkan tenaga ekstra bukan perkara mudah. Jangan lupa kenakan pakaian yang nyaman dan konsultasi pada ahlinya sebelum memilih jenis olahraga. Kalau saya sudah pernah konsultasi pada zamannya jadi atlet basket pas masa kuliah, jadi sudah tahu kemampuan tubuh dan bagian mana saja yang cedera.


Tahun 2016 menjadi tahun tanpa resolusi. Udah malu sama diri sendiri, nulis resolusi, tapi cuma jadi pajangan di blog dan notes. Eh, giliran nggak pakai resolusi, malah ada satu progress dalam hidup: mengubah gaya hidup dengan cara olahraga. Ada yang salah satu resolusinya melakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat? Udah ngapain aja?😀

 

10 thoughts on “(Mencoba) Hidup Sehat

      • Kayla Itsines itu trainer Freelatic, Non. Buat yang waktu olahraganya sempit, 30 menit udah cukup banget dan nggak ngabisi banyak waktu. Tapi tentunya harus konsul dulu ya ke dokter sebelum olahraga, karena ada beberapa gerakan Freelatic yg nggak boleh dilakukan orang dengan cedera tertentu.

        Workout pake e-book Kayla bisa dari rumah, jadi nggak repot ninggalin Menik hehehe :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s