Belanja Sebelum Melahirkan

 
Beberapa minggu ini, setidaknya ada empat teman yang bertanya ke saya perihal belanja persiapan melahirkan. Lucunya, nggak hanya ibu baru, ibu yang sudah hamil kedua pun sempat bertanya karena sudah lupa katanya. Lah, situ aja lupa, gimana saya yang udah hampir 5 tahun nggak main-main sama newborn dan perintilannya?
Tapi saya teringat, beberapa bulan setelah saya melahirkan, saya menjadi MC di Women Wired Weekend saat Mommies Daily meluncurkan buku perdananya: PREGNANCY CHECKLIST BOOK. Ini lumayan membantu banget, lengkap sama kiat-kiat khusus menghadapi momen saat dan sesudah melahirkan.

Anyway, belanja saat hamil ini memang jadi salah satu hal yang menyenangkan kok. Tapi jangan sampai kalap. Terus terang, dulu saya memilih ditemani Ibu dibanding teman karena pasti sama-sama kalap kalau lihat printilan yang lucu tapi nggak esensial. Dan pas pertama kali menginjakkan kaki ke sebuah toko perlengkapan bayi, saya malah jengah melihat list yang begitu banyak. 

Dompet saya, sih, yang kayaknya jengah x)) YA IYA, KENAPA LISTNYA PANJANG AMAT?
Memangnya segitu banyaknya, ya, kebutuhan bayi yang baru lahir?
To be honest, sebetulnya enggak, loh. Apalagi bayi ini akan tumbuh setiap harinya, dan kebutuhannya akan bertambah atau berubah. Tapi memang sih, kalau habis melahirkan, ruang gerak menjadi terbatas. 

Dari mulai mitos 40 hari nggak boleh keluar sampai terhadapi kenyataan yang nggak asyik (baca: cucian popok numpuk, anak minta nyusu melulu, suami tetap harus kerja, nggak bisa mandi dengan tenang, dan lainnya!) :p Hahahaha, kesannya susah amat, ya, habis melahirkan? 

Ya gitu aja sih kenyataannya, walau tetap saja ujungnya bahagia karena si bayi tadi. Jadi mungkin kalau sudah belanja dari awal, nggak repot nyari atau harus beli pas tiba-tiba dibutuhkan.

Tapi tetap saja menurut saya, karena banyak keyakinan dan aliran tentang tata cara mengurus bayi, mendingan belinya disesuain saja sama kebutuhan dasar manusia: sandang, pangan, papan.

SANDANG : ini kebutuhan baju, ya. Nggak usah beli banyak-banyak. Bisa beli ukuran 0-3 bulan, baju & celana, masing-masing 1 lusin. Nanti pas udah lahir, cocokkin sama postur tubuh si anak. Kan ada bayi yang pas lahir mungil, ada juga yang besar. Siapa tahu berat anaknya mencapai 4 kilo, yang ukuran 0 bulan, bisa nggak terpakai. Saya nggak terlalu suka beli jumper, sih. Selain nanti bakalan banyak yang kadoin, haha, jumper ini nggak terlalu kooperatif untuk newborn yang kerjaannya pipis melulu.

Lalu sandang berikutnya adalah selimut dan kain alas yang bisa sekaligus jadi bedong. Ini juga tergantung aliran. Kalau aliran yang nggak mau pakai bedong, kain ini bisa dipakai jadi alas atau selimut tipis saat bepergian. Tapi yang pasti kain ini dibutuhkan. Beli 1/2 lusin aja cukup, sih. Nanti kalau kurang bisa beli lagi.

Untuk sarung tangan dan kaki, saya lebih mementingkan sarung kaki untuk menjaga kehangatan tubuh. Kalau sarung tangan, selama bisa memotong kuku dengan baik dan rutin, tidak terlalu dibutuhkan kecuali tangannya terasa dingin.

Selanjutnya adalah popok. Nah, ini lagi-lagi tergantung aliran atau kebingungan hati. Ada tiga pilihan, nih, buibu. Popok kain biasa (yang mendingan jahit daripada beli, karena kalau beli jadi, kelamin anak malah kemana-mana), Cloth Diaper atau popok kain moderen, dan Pospak atau popok sekali pakai. Dulu saya tahunya cuma clodi dan popok kain biasa, karena saya pikir pospak itu bisanya dipakai mulai dari usia 3 bulan, haha. Kalau mau cari tahu mana yang cocok, beli aja popok kain 1 lusin, clodi 3 biji, dan pospak ukuran newborn se-pak. Nanti tinggal dirasain aja, mana yang paling memudahkan hidup Anda.

PANGAN: kebutuhan perut bayi baru lahir apa? Yup, ASI! Jadiii, alat tempur yang perlu dibeli adalah breast pad (dispo/reuseable) karena di awal masa menyusui, ASI bakalan ngucuuurrrr, jadi sumpelan payudara ini adalah salah satu yang paling penting menurut saya. Kalau Breast Pump, gimana, Ki? Saya nggak beli, karena waktu itu yakin bisa menyusui langsung. Walau kenyataannya, saya mengalami banyak kesulitan, dan nyesel kenapa nggak beli pompa sendiri. Jadi, sebetulnya di rumah sakit atau rumah bersalin, biasanya ada pompa yang disediakan. Tapi namanya milik bersama, jadi antri kalau mau pakai.
Untuk dot, saya nggak beli, karena lagi-lagi saya memang tidak ada keinginan mau kasih dot ke Menik. Tapi di hari kedua, suami saya disarankan beli Cup Feeder untuk memberikan ASIP hasil perahan tangan sendiri, karena kondisi Menik yang menguning. Nantinya Breast Pump ini akan terpakai khususnya untuk ibu bekerja yang berniat menyimpan ASIP untuk stock anaknya menyusui. Saya sendiri akhirnya beli pompa yang manual untuk menyimpan ASIP di kulkas, dan sewwaktu-waktu bisa didonasikan jika ada saudara atau teman yang membutuhkan.
Untuk alat makan, saya nggak beli sama sekali, karena apa? Karena percaya nanti bakalan ada yang ngadoin! HAHAHAHHA

PAPAN: kebutuhan rumah anak sih jelas, ya, akan satu rumah bersama orang tua. Tapi untuk perlengkapan kamarnya gimana? Lagi-lagi ini tergantung keyakinan. Apakah akan co-sleeping alias tidur bersama bayi di tempat tidur utama atau bayinya mau ditaruh di box? Apakah mau box bayi yang sekalian besar dan nantinya bisa diubah jadi tempat tidur anak-anak, atau mau yang kecil aja demi estetika kamar, atau mau yang portable? Kalau saya dulu dapat hadiah dari mertua, box bayi konvensional. Tapi saya menganut co-sleeping alias Menik tidur bersama saya dan suami.
Kalau ada budget khusus mengisi kamar bayi, yang utamanya ada changing station. Lemari dengan tiga atau empat laci yang atasnya bisa dipakai untuk mengganti popok atau memakaikan baju bayi, bisa jadi pilihan utama sebelum memutuskan beli box atau tempat tidur bayi.

Opsi yang ini perlu dipikirkan matang-matang karena harga barang-barangnya yang tidak murah.

Untuk KOSMETIK saya hanya beli shampoo dan sabun ukuran kecil, karena takutnya nggak cocok sama kulit bayi. Minyak telon, untuk hangat-hangat, satu set alat pemotong kuku, dan sisir sikat. Saya nggak beli bedak, karena selain saya alergi, konon bedak ini memang kurang baik untuk bayi. Serbuknya bisa terhirup dan mengganggu pernafasan. Jadi harum-harumnya si bayi cukup dari sabun dan bau badan alaminya yang sudah enak.

First aid kit juga penting. Termometer, cotton bud, kapas, alkohol, betadine, dan seperangkat essential oils merek lokal (iya, lokal aja, hehe)
Nggak banyak, ya? Karena memang sebetulnya kebutuhan setiap ibu dan bayinya beda. Jadi list boleh samaan dari toko sebelah, tapi jangan lupa kebutuhan tiap manusia itu berbeza.

Oh iya untuk ibu, saya sarankan membeli BH menyusui, stagen atau gurita (kalau berkeyakinan memakai stagen setelah melahirkan), dan baju menyusui yang nyaman. Ada banyak sekali merek lokal yang mengeluarkan desain baju menyusui yang menarik.

 Saya nggak pakai daster, karena menurut saya pakaian paling nyaman adalah kaos suami dan celana pendek. Nyusuin pakai kaos juga nggak susah, tinggal angkat aja, hehe. Apron menyusui? Boleh dibeli atau tungguin kado. Biasanya ada yang ngasih. Lumayan buat nutupin pas nyusuin.

Untuk gendongan, bisa pilih mau jarik tradisional, baby wrap, atau baby carrier yang beragam. Stroller? Boleh kalau ada budget lebih, kalau belum ada, nanti aja. Ini nggak terlalu penting apalagi bayi lebih suka digendong. Apalagi kalau belanja sendiri, lebih enak gendong bayinya pake carrier atau kain, dan tangan leluasa pegang trollery, dibanding bingung mau dorong stroller atau trolley, yakan?

**

Umm, apalagi, ya? Ada yang mau berbagi soal kebutuhan belanja sebelum melahirkan? Atau ada yang kasih saran? Lumayan ini kalau nanti ada yang nanya lagi, saya nggak susah jawab, haha. Tapi yang pasti sesuaikan semua dengan budget, ya. Kalau sudah tahu hamil, nabung, dong, jadi bisa belanja dengan nyaman sesuai dengan KEBUTUHAN. Ingat ya, kebutuhan bukan keingina. Boncos nanti kalau nurutin keinginan, hahaa. Segala mainan yang nggak akan dimainin bayi baru lahir bisa dibeli kalau nurutin si ingin :p

Selamat belanja!

5 thoughts on “Belanja Sebelum Melahirkan

    • gue tuh termasuk yang nggak belanja hardware bayi. Hamdallah bouncer ada yg kadoin, sampe 2 bijik! rezekii hahaha tapi ini bener juga, kalo ada bouncer, bayi bisa disimpen dulu di situ sementara ibu beraktivitas haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s