The Disposable Diapers

Beberapa hari ini saya ketemu sama beberapa bayi yang berhasil bikin Menik nggak pengin punya adik lagi :p Nope, it’s not an issue. Tapi kami maunya memang belum menambah anak dalam waktu dekat. Intinya menurut Menik, ternyata bayi itu adalah manusia cilik yang berisik dan nggak bisa bicara yang benar *HAHAHHA -gayanya kayak yang udah bener aja*

Pas ketemu bayi-bayi ini, saya sempat memperhatikan pospak yang mereka kenakan. Ada beberapa yang sudah terlihat penuh, ada yang masih terlihat ringan. Ringan, tuh, maksudnya nggak gembal-gembol gitu. Nggak tau, ya, rasanya kasihan aja kalau lihat anak pakai dispo tapi udah berat. Artinya kan dispo itu udah penuh. Sekering apapun, it carry a lot of pees, so you -mothers, need to change it.

422531_4397954707380_871231681_n

Anyhow, saya jadi merasa masuk ke lorong waktu dan kembali ke masa saat Menik memakao dispo. Menik ini baru kenalan sama disposable diapers di usia 3 atau 4 bulan, setelah sebelumnya selalu memakai popok kain atau cloth diapers (clodi). Karena saat itu, saya dan Menik akan ke Bandung untuk pertama kalinya, dan saya merasa khawatir kalau harus menggunakan popok kain. Akhirnya, sehari sebelum berangkat, saya turun ke supermarket di bawah apartemen, dan berdiri cukup lama membaca keunggulan yang ditawarkan oleh masing-masing merek. Hasilnya? Clueless! HAHAHAHA. Akhirnya beli yang lagi promo aja, antara Huggies atau Mamipoko kalau nggak salah. *ujungnya hukum ekonomi*

Sejak itulah, saya merasakan kemudahan hidup sebagai ibu. Bagai merasakan kenikmatan instan dari mie kemasan, ini juga kan instan banget enaknya! Beban hidupΒ cucian berkurang drastis. Hidup lebih ringan. Jadi perlahan tapi pasti, saya mulai memasukkan dispo ini ke list belanjaan bulanan. Saya jadi sering cari info merek apa yang lagi promo di mana. Selama diapers ini memiliki daya serap tinggi dan slim design, it’s going to be fine.

Salah satu hal juga yang jadi perhatian adalah soal frekuensi mengganti diapers ini. Soalnya kalau telat ganti, daerah sekitar kulit kelamin jadi lembab, ujungnya bakal terjadi iritasi, lecet, yang pasti bikin si anak nggak nyaman. Jadi saya tetap mengira-ngira frekuensi pipis Menik. Jika sedang di luar rumah, saya bisa mengganti diapersnya 2-3 kali. Kalau di rumah paling sekali ganti, karena saya masih menggunakan celana kain dan clodinya.

clodi2

Nah, karena si Menik ini bayi yang mungil, jadi selama pemakaian disposable diapers (usia 4-18 bulan) saya hanya menggunakan diapers ukuran S lalu naik ke M. Belum pernah beli yang L, karena pasti kegedean. Biasanya, sih, saya pakai Mamipoko (karena banyak promosi diskonnya), Huggies, atau Merries. Merries ini enak soalnya cuttingnya slim, jadi pas untuk badan Menik yang nggak montok, sedihnya Merries ini halmahera alias mihil, bok, hahaha. Kalau Huggies itu dulu karena merek tersebut juga jadi pilihan ibu untuk saya waktu masih bayi, hehe. Tapi akhir-akhir pemakaian, sekitar usia 14 bulan, saya sering beli Goon. Goon ini juga punya cutting yang slim dan kering. Terpentingnya harganya lebih murah dibanding Merries, jadi saya beralih ke Goon ini.

Kalau sekarang, disposable diapers yang jadi idola apaan, sih? Jadi penasaran, hahahaa. Soalnya setiap belanja bulanan, pasti lewat deretan diapers, kan. Kalau lihat merek baru atau promosi tertentu, rasanya pengin nyobain. Ada diantara ibu-ibu yang make merek-merek yang tadi saya cobain? Masih megang gitu, nggak? Hahaha, maksudnya apakah harganya masih terjangkau, desainnya masih lucu, cuttingnya pas buat bayi Indonesia yang kurang montok, punya daya serap baik, lembut, dll?

402923_10150505858739145_1420010977_n

Kalau boleh, mau tahu, dong. Sekalian buat opsi beli diapers yang mau dikirim ke panti asuhan. Jadi nggak salah pilih, sekalian juga buat kasih masukan ke beberapa saudara saya yang punya baik soal frekuensi penggantian diapers dan pemilihan merek. Karena saya gemas lihat anak yang jalan-jalan bawa gembolan pipis -____-“. Kalau bisa cari yang bikin anak nyaman, kenapa enggak? Ya kan?πŸ˜‰

 

 

5 thoughts on “The Disposable Diapers

  1. Merries the best. Slim fit dan ada roll tape, bekas popoknya jadi lebih mudah untuk dibungkus. Untung pake diapersnya kalau lagi pergi keluar rumah -di rumah dibiasakan pake celana kain aja- jadi agak hemat di biaya bulanan πŸ˜†

  2. Waktu si baby masih bayik banget pakenya Mamypoko paket ekonomis karena emang frekuensi pipis dan poopynya sering banget dan anaknya risihan kalau nggak cepet diganti… harga ekonomis, bahan tipis dan size NB sesuai ukuran bayi mungil.
    Sekarang lagi cocok pake Pampers Dry pants size M.. bahannya lembut, gak bikin iritasi, daya serap tinggi dan nggak bulky.. secara harga lumayan mahal ya dibanding merk lain…
    Untuk harga ekonomis lain boleh sih coba merk Sweety atau merk grosiran dari supermarket (kalau ini belum pernah coba sih)

  3. hai saz, numpang komen yaπŸ˜€
    Aku awal2 anak lahir s.d umur 1 tahunan, setia pake mommypoko, but belinya gak pernah di depstore/alfamart/indomaret gitu. banyak toko susu yg jual harganya miring banget bisa beda sekitar 20rebuan.
    Nah gara2 sering beli di toko susu, kadang stock abis. akhirnya ada tawaran harga yg lebih murah tapi kualitas mirip, pernah jajal diapers merk Sweety, Fitty, Goon, Pampers Ekonomis/Reguler, and finally I found my favourite dispo…Merries ekonomis, kualitasnya di atas merek2 biasa bahkan hampir lebih bagus dr momypoko dan harganya very affordable. me likey.
    Alhamdulillahnya anak aku termasuk yg bebal soal diaper rash, gonta ganti juga p*nt*Tnya mulusshπŸ˜€ *emak beruntung*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s