The Overrated Adulthood

Pernah merasa menyesal dewasa nggak? Kayak “kenapa sihhhh gue harus mikirin tagihan listrik?” Atau “Ternyata harga mobil mahal, ya?” Sementara dulu waktu kecil, kita tinggal pakai aja fasilitas nyaman yang diberikan oleh orang tua?

Eh, tapi apakah fasilitas yang nyaman saat kita kecil itu bisa jadi alasan untuk menolak menjadi orang yang dewasa? Bukannya maksud orang tua memberikan fasilitas untuk membuat hidup nyaman dan bisa mempersiapkan diri menjdi pribadi dewasa yang kuat?

Atau bagaimana?

  
Psikolog Elly Risman sempat membuat seminar berjudul The Cinderella/PeterPan Syndrome. Saya belum pernah ikut, but thanks to Google, saya bisa menemukan sari-sarinya. Dari blog di Kompasiana:

“Menurut Elly Risman, Psi. psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Peter Pan Sindrom adalah ketidakmatangan secara psikologis, sosial dan seksual, sehingga cenderung menjadi pribadi yang pemarah, sulit berkomitmen, dan cinta diri sendiri. Sedangkan Cinderella Sindrom atau Cinderella Complex adalah ketakutan tersembunyi pada perempuan untuk mandiri. Seperti tokoh Cinderella yang dibenci ibu dan dua saudara tirinya, wanita pengidap sindrom ini merindukan sosok lelaki yang melindungi dan menyayangi.”

Are we one of them? Semoga tidak, ya! Karena pasti orang tua kita sedih kalau ternyata anaknya tidak bisa menjadi orang yang bertanggung jawab untuk hidupnya sendiri. Dan bagi saya pribadi, apapun masa lalu kita, ketika sudah memasuki usia 18 tahun, maka kita bisa mengambil keputusan dan mengubah pola pikir untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.

Tidak perlu alasan “saya dulu selalu diantar jemput, loh!” untuk bisa belajar naik kendaraan umum ketika realita hidup saat ini adalah tidak punya mobil pribadi. 

Dewasa adalah menjadi realistis.

Makanya saya suka bingung kalau ketemu orang yang menolak move on dari masa lalu. We have to move on because life won’t stop running. Siapa yang bisa menolak matahari terbit dan tenggelam setiap harinya? Tidak ada, kan? Jadi bisa, dong, belajar untuk tidak merutuki masa lalu untuk hidup kita yang sekarang. 

Tuhan kasih akal dan hati supaya manusia tidak seperti tumbuhan. Tumbuhan diam di tempat. Manusia harus bergerak. Saya gemas sekali kalau bertemu orang yang bilang “ya dulu ibu juga nggak ngurus aku dengan benar! Ayah dulu ke mana??” To the hell with their problems, but here we are. Exist in this universe. Dan tanpa orang tua, kita nggak mungkin ada di muka bumi ini. Jadi nggak ada alasan juga untuk tidak menghormati beliau-beliau yang mungkin kita anggap tidak sempurna. So, instead of making life far worst, why don’t we use our brain to move on and be a better person? Am I right? No?

  
Saya jadi ingat, salah satu hal yang bikin saya jatuh cinta dengan serial Grey’s Anatomy adalah prolog dan epilog setiap episodenya. Apa sih insightnya? Ada pelajaran yang bisa diambil, nggak?

“Remember when you were a kid and your biggest worry was like whether you’d get a bike for your birthday or would you get to eat cookies for break feast. Being an adult, totally overrated. I mean, seriously, don’t be fooled by the hot shoes, the great sex and no parents telling you what to do. Adulthood is responsibility. Responsibility, it really does suck, really really sucks. Adults have to be places, do things, earn a living, and pay the rent. And if you’re training to be a surgeon holding a human heart in your hands, hello talk about responsibility. Kinda makes bikes and cookies look really really good. The scariest part about responsibility is when you screw up and let it slip right through your fingers.

Responsibility, it really does suck. Unfortunately once you get past the age of braces and training bras, responsibility doesn’t go away. It can’t be avoided. Either someone makes us face it or we suffer the consequences. And still adulthood has it’s purpose. I mean the shoes, the sex, the no parents anywhere telling you what to do, that’s pretty damn good.”

-Meredith Grey (Season1, Ep.5- Shake Your Groove Thing)

It’s up to you, do you think adulthood is overrated or just a pretty good life cycle?😉

4 thoughts on “The Overrated Adulthood

  1. Terimakasih mbak sazki sharingnya.. jd mikir banget nih hehe. Kdg emang kalo udh pusing sm kewajiban2 org dewasa (nyari duit, byr tagihan, nabung buat nikah, mslh keluarga blablaa..) suka pgn regresi jadi anak kecil lg dimana kayanya gak bnyk tuntutan. Tapi ya, bener bgt hidup berjalan.. jd dewasa itu realitas yg hrs dihadapi. Have a nice day anyway🙂

  2. Kadang suka kepikiran tentang how nice childhood was, tapi kalo sekarang lanjut tuh pikirannya: oh saya mesti nyiapin anak buat jadi anak yg punya banyak life skills, beside the academic things. Karena kadang life skills itu pretty much more essential in a lot of part in life. Terutama anak cewe sih, gimana biar dia bisa earn a living dr life skills, biar bisa gawe dari rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s