Cerita Penyu Di Batu Hiu, Pangandaran

“Pemerintah belum pernah kasih bantuan konkret. Oh, ada nih. Saya dikasih piagam penghargaan, sama poster dari departemen pariwisata. Posternya salah lagi. Foto kura-kura dikasih nama penyu. Padahal mah beda, penyu dan kura-kura!”

Karena bosan di Pangandaran, dan hotel mati lampu, akhirnya kami naik mobil dan berjalan tanpa arah. Ketika melihat plang “Batu Hiu” kami belok dan masuk. Selama ini hanya Pantai Pangandaran dan Batu Karas yang kami kunjungi, jadi tanpa ekspektasi, belok ke Batu Hiu. Tiket masuknya 25.000/orang dan penjaga kasih tau kalau di dalam ada tempat tangkar penyu.

Kebetulan Menik belum pernah lihat penyu, jadi memutuskan untuk mampir. Lihat kanan kiri tanpa petunjuk yang jelas, akhirnya ketemu sebuah rumah yang bertuliskan “Selamatkan Penyu” dengan sebuah logo merek kendaraan. Sepi. “Punten.. Punteenn” suara saya cukup kencang, tapi tidak ada yang keluar. Coba bilang punten sekali lagi dan akhirnya keluar seorang anak kecil bilang “bapaknya lagi pergi, silahkan lihat aja penyunya..”

Jpeg

 

Beberapa saat datang seorang bapak berumur naik motor. Memakai topi, kulitnya gelap. “Silahkan, bu!” Dan dengan sigap, bapak yang bernama Didin Syaifudin ini menceritakan soal penangkaran penyu.

“Telurnya masih dierami, tunggu 52 hari, baru menetas. Lalu akan dibesarkan di sini sampai usia 7-8 bulan, baru dilepas di laut.”

“Kalau masih bayi, dilepasin di laut malah jadi makanan ikan. Makanya ditunggu sampai 8 bulanan. Bagusnya lagi sih udah setahun lebih baru dilepas. Jadi udah kuat!”

“Saya suka sedih kalau lihat di tv, bayi penyu dibawah 6 bulan sudah dilepas buat seremoni gitu. Sama aja ngumpanin ikan itu, sih..”

Jpeg

Dibalik legamnya warna kulit yang terbakar matahari pantai dan kerutan di wajahnya, Pak Didin menyimpan banyak harapan untuk bisa menyelamatkan penyu-penyu di Indonesia.

“Beberapa waktu ini, yang sering bantu komunitas-komunitas mobil, bu. Kemarin Daihatsu, besok lagi Chevrolet kalau tidak salah. Kalau pemerintah, sih, kasih piagam aja banyaknya, haahaa”

Jpeg

Pak Didin menunjukkan satu jenis penyu berwarna kuning dan tulang belakangnya terlihat cukup jelas. “Ini penyu pipih, kalau orang bilang adanya hanya di Australia, bohong itu. Ada juga di Indonesia tapi sudah langka. Saya waktu itu punya sepasang. Lalu dipinjam departemen pariwisata untuk pameran, dibalikin hanya yang betina. Jantannya mati pas pameran.”

Setengah jam di penangkaran penyu ini jelas menambah pengetahuan untuk Menik dan kami semua tentunya. Kami jadi tahu penyu itu ada banyak jenisnya. Ada yang karnivora, herbivora, dan omnivora. Kami juga jadi tahu kalau penyu karnivora ini kanibal terhadap sejenisnya. Kami juga jadi tahu penyu ini akan katarak matanya kalau diletakkkan di air tawar dan payau. Laut adalah habitat terbaiknya.

Jpeg

Menik juga ikut memperhatikan penjelasan pak Didin. Hatinya juga senang karena boleh memegang bayi penyu. Tapi saya sedih dan kaget. Selama ini kalau lihat di tv, rasanya pemerintah terlihat cukup peduli urusan penyu. Tapi citra di tv beda dengan kenyataan di lapangan.  Hingga akhirnya saya sampai pada pertanyaan “Menteri kelautan kan asalnya dari sini, Pak. Masa’ tidak ada perhatian?”

Pak Didin tertawa dan menjawab “Bu Susi kan di sini tukang jambal roti, bu. Yang diurus ikan asin, lain penyu..”

5 thoughts on “Cerita Penyu Di Batu Hiu, Pangandaran

    • Iya bener banget, Feb. Tapi kalau nggak nunggu berharap dari Pemerintah, dari mana lagi ya? Menurut gue harusnya departemen kelautan itu punya wewenang untuk kasih arahan ke pemerintah daerah demi bantuan konkret untuk pelestarian alam kita. Bener nggak sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s