Propaganda Marketing Susu Formula

Selama ini saya belum pernah menulis soal susu formula (sufor) di blog pribadi. Saya lebih memilih untuk menulis soal keutamaan ASI dibanding soal kekurangan sufor. Tapi pas tadi nonton sebuah video investigasi yang ini, seakan diingatkan kenapa harus memberikan edukasi yang baik untuk para ibu yang tidak bisa memberika ASInya. Kalau mau, boleh tonton video investigasi France 2 (TV Nasional Perancis) dalam penerbitan khusus “Cash Investigation” yang dibuat oleh Elise Lucet dan tim. Durasinya sekitar 28 menit, tapi sangat pantas untuk ditonton sampai habis.

Di video ini jelas banget, kalau inti yang harus diperangi adalah CARA PENJUALAN si sufor. Nggak usah jauh-jauh ngulik kandungan atau bahan-bahannya, deh. Tapi lihatlah bagaimana salah satu produsen sufor mencari celah dari peraturan penjualan susu bayi baru lahir. Lihat bagaimana para bidan dengan bangga menunjukkan sertifikat seminar hingga berbagai barang untuk melengkasi fasilitas kesehatan klinik atau tempat praktiknya. Bagaimana mereka lepas tangan kepada konsumen dengan cara:

  1. Memberikan sufor langsung tanpa izin ke orang tua bayi.
  2. Tidak peduli bagaimana kondisi sanitasi tempat tinggal bayi.

Okelah, kalau yang mengkonsumsi sufor ini para orang berada. Mereka memang golongan kelas menengah yang mampu beli susu lengkap dengan peralatan steril botolnya. Mereka terdukasi dengan baik bagaimana cara menjaga kebersihan botol susunya. Mereka tahu kalau naik kendaraan umum, botol itu harus ditutup dan disimpan dengan baik agar terhindar dari debu dan kuman.

Tapi bagaimana dengan ‘target marketing’ yang tergambar di video ini?

Masyarakat miskin yang separuh dari penghasilannya dipakai untuk bayar kontrakan. Mereka yang nggak tahu ada yang namanya Dish Dryer dari satu merek terkenal yang hits banget di kalangan mamak-mamak untuk mensteril agar kuman tidak ikut masuk ke perut bayi. Jangankan mikirin sterilizer, cuci tangan sebelum bikin susu anaknya aja mungkin sering skip karena susah air. Mereka nggak punya akses ke air bersih. Mereka nggak tahu kalau ada takaran yang harus diikuti agar susu yang diminum berguna bagi tubuh bayi demi angka kecukupan gizi.

Sedih, kan?

Sedikit out of topic, tapi ternyata video ini sukses mengembalikan fokus saya tentang studi S2. Saya sempat ingin mengambil studi kemiskinan dan kesehatan. Tapi saya ‘kabur’ dan mau kembali ke Antropologi perkotaan dan pop culture. Dunia modern. Dunia Antropologi yang mulai digital. Pas lihat video ini, saya kayak ditampar untuk ingat bahwa dunia tidak melulu soal pop. Ada bagian yang harus disentuh dan diperhatikan. Kalau kata Butet Manurung “datang, diam, amati.” Dan ini sulit. Kalau nggak sulit, nggak mungkin saya punya rasa mau kabur, kan? x))

Kembali ke soal marketing sufor. Yaa, pokoknya saya sedih nonton video investigasi ini. Saya sedih rakyat miskin jadi korbannya. Udah susah makan, masih ditambahin susah mikirin susu anak bayinya. Semoga saya kuat tekad untuk nggak kabur dari ranah ini, ya. Semoga tulisan saya nggak terasa memojokkan siapapun kecuali bagian marketing sufor newborn. Semoga pada ngerti kalau saya nggak anti sufor tapi saya anti sama marketingnya susu formula. Semoga sedihnya saya bisa jadi cambuk untuk bisa jadi agen perubahan demi negara tercinta. Karena kata Dr. Seuss “Be who you are and say what you feel, because those who mind don’t matter and those who matter don’t mind” 

🙂

4 thoughts on “Propaganda Marketing Susu Formula

  1. halo mbak, saya belum punya anak sih, tapi semoga bentar lagi punya ya😛
    salah satu ketakutan saya adalah kalau ntar ASI saya ga bisa keluar. seriously, bukan karena saya takut dijudge sama mommies war di luar sana *kalo itu sih, sebodo amat*. tapi apa yaaa….gitu deh pokoknya ga bisa ungkapin secara detil. dan kalo ntar hamil, pengennya berdoa dan mensugesti diri agar bisa ngASI meski saya bekerja🙂

  2. jadi ke ingat anak ke dua saya yang masuk kriteria BBLR mendapatkan perawatan khusus di sebuah RSUD,tanpa bicara lgsung deh diberi sufor oleh nurse,pdhl ASI lancar, hari berikutnya kami disuruh beli sufor khusus yang agak mahal ya walaupun enggak kami permasalahkan harganya, yang penting anak kami cepat bertambah berat badannya. Yg masih jadi pertanyaan mengapa ada pembatasan waktu pemberian ASI di RSUD tsb, pdhl bayi kondisi normal cuma berat badan kurang sedikit dr standard.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s