5 Hal Dari 5 Tahun Perkawinan

Today is our wedding anniversary. Sudah 5 tahun bersama dalam ikatan pernikahan, tapi sebetulnya kami sudah pacaran sejak tahun 2002 x)) HAHAHAHA! Iya, lama banget, ya?! Anyway, karena merasakan pacaran selama 8 tahun dan menikah selama 5 tahun, saya jadi tahu bedanya pacaran sama menikah. SERIUS, DEH! Kayaknya waktu pacaran di tahun ke-lima, saya nggak pernah mikirin ini dan itu soal hubungan kami secara mendalam.

Anyway, rasanya saya belum pernah nulis secara serius soal hubungan suami-istri di blog ini, deh. Mumpung ada momen merayakan ulang tahun pernikahan ceritanya, saya ingin berbagi aja soal 5 hal yang terjadi dalam 5 tahun pernikahan. Here we go:

someecards

Gambar dari sini

#1. You don’t know him/her at all. 

Percayalah, saya melewati masa pacaran selama 8 tahun. Ketika akhirnya memutuskan untuk menikah, saya kira saya sudah tahu sisi buruk calon suami. Sisi baik nggak usah diomongin, lah, ya. Anggap saja bonus. Ternyata setelah menikah, saya ketemu sama banyak hal lain yang mengejutkan. First thing first adalah kebiasaan tidur. Kalau menikah sama pasangan yang ternyata kebiasaan tidurnya baik, ucapkanlah alhamdulillah. Karena kalau saya dapat pasangan yang menyebalkan di tempat tidur. Bayangkan, suami saya ini doyan tidur, ngorok, dan bisa mengambil semua bantal/guling yang ada, serta selimut! -_____-” Itu baru kebiasaan tidur. Kebiasaan buruk lainnya nggak perlu saya sebutkan disini.

Because you have no idea about your spouse, maka belajarlah untuk membicarakan, menerima, dan menyesuaikan diri. Ini adalah cobaan di tahun pertama pernikahan. Hal inilah yang sering saya pikirkan kalau mendengar berita artis kawin-cerai. “Jangan-jangan si A bete sama suaminya karena dia nggak suka minum susu langsung dari kartonnya!” HAHAHAHA. Dangkal? Tapi kan memang rasanya menyebalkan kalau nggak dibicarakan. Hal yang selama ini kita hindari dan jaga, nggak tahunya dilakukan oleh pasangan kita sendiri. Bete pasti. But this is the number one challenge.

Ngobrol, ngobrol, dan ngobrol. Itu adalah kuncinya. Ingatlah kalau suami/istri adalah orang yang akan berbagi tempat tidur sampai kita mati nanti. Jadi bicarakan dan lakukan penyesuaian. Kalau saya sendiri, selama tidak prinsip, maka akan saya terima. Daripada uban cepet nambah dan bikin sakit kepala. Biarlah saya berkorban membereskan tumpukan baju seminggu sekali daripada berantem hanya karena tumpukan bajunya rapih.

#2. I want pillow talk!

Ngobrol sebelum tidur atau cuddling sebentar setelah berhubungan suami-istri merupakan salah satu hal yang baik dilakukan. Kalau saya sendiri prefer ngobrolnya sebelum tidur dan maunya dilakukan secara rutin. Kan seru, ngebayangin ngobrol romantis di tempat tidur sama suami. Apa saja topiknya, yang penting ngobrol. TAPIIII, sebetulnya pillow talk di hubungan kami nggak regular, sih.

Pertama, suami saya ini kuli event, bahkan sekarang kerjanya di vendor sound system, jadi ikutan loding in-out minimal H-2. Jadinya susah cocok jadwalnya, bok! Kalaupun ‘dipaksa’ mau ngobrol, sezuzurnya malah banyakan ketidurannya. Saya atau suami, sama saja. Saya biasanya ketiduran duluan pas ngelonin Menik. Biasa banget tuh, ya, ngelonin anak malah ikut ketiduran. Nanti sebaliknya, setelah berhubungan saya yang melek, suami, sih, udah ngantuk dan Zzz Zzz Zzzz!

Sejujurnya juga, kami sempat pillow talk secara regular di sebelum punya anak. Pas udah punya anak, sih, BYE! Kangen banget bisa ngobrol manis manja di tempat tidur. Semoga bisa ketemu waktu yang pas dan dilakukan rutin lagi. Karena menurut penelitian “‘When their partner feel asleep first, they craved that bonding time, for expressions of affection and endearment, and felt it was lacking,” Dr Kruger said, according to the Daily Mail. He added: “For men, in evolutionary terms there’s more of an incentive to have other sexual partners to advance their reproductive success whereas for women there is more incentive to secure the relationship.” (sumber)

#3. Boring? Well, everybody bored.

Memasuki tahun ketiga, mungkin ada perasaan bosan yang menghinggap. Eh, nggak tau, kalau dengan yang lain, ya. Kalau saya sih jujur aja, perasaan bosan suka datang. Apalagi kalau ngaca sama status tidak bekerja kantoran, di rumah nemenin anak. Sementara suami pergi setiap hari mengejar karir dan mimpinya di luar rumah. Ya, kalau saya, sih, sering dihampiri si bosan. Boring banget di rumah doang, sementara teman lain posting maksi di sini, dan meeting di situ. (Ini boring atau sirik, sih? ahahaha)

Anyway, boring ini juga bisa datang karena kita kan tidur sama orang itu tiap hari. Ketemu mukanya tiap hari. Berantem-baikan disitu aja berdua, gimana nggak boring? But marriage must go on. Nggak mungkin karena bosan lalu minta pisah, kan?

Cari lagi apinya. Kalau lagi liburan sama anak, curi waktu ngobrol berdua di teras kamar hotel saat anak sudah tidur juga bisa. Atau di rumah aja, nggak usah jauh-jauh, juga bisa. Bikin minuman kesukaan, ngobrol, deh. Reminiscing those good old days, dan temukan rasa yang tertutup di bawah karena tertumpuk pikiran lain.

#4. Write him/her emails.

Do you write to your husband or wife? Well, I do. Kalau sudah memasuki waktu bicara soal keuangan atau hal yang bikin kesal alias berantem, saya lebih memilih email sebagai medianya. Pertama, dengan email pembicaraan ini terekam dengan baik, jadi bisa dirunut kalau ada hal yang janggal. Kedua, berantem lewat email akan lebih tertata bahasanya dan jelas urutan masalahnya. So it’s a win-win solution for us to communicate the not so good part of things running in our life.

And remember, what happened in email stay in email. Jangan bahas ulang apa yang sudah dibahas via email. Bahaslah hal lain yang tidak kalah penting demi hubungan suami-istri yang masih balita ini.

#5. Serve your spouse.

I read once, but totally forget from where, it said “marriage is the other name of slow erosion of respect for the person you are most intimate with..” Ngeri, ya? Nggak mau, dong, umur pernikahan nambah tapi rasa hormat hilang perlahan?

Gimana, dong, cara menghindarinya? Ya tentunya dengan berusaha melakukan hal yang menyenangkan pasangan. Kalau istri udah bilang “Mazzz, jangan lupa flush toilet dong kalau habis pipis!” ya inget-inget, dong, untuk tekan si tombol flush, mazzz. Dan kalau suami bilang “Yang, kalau habis pakai mobil, karpetnya dikebut, ya!” Ya coba untuk nggak lupa ngebut karpet tiap sampai rumah, Yang!

Lalu, jangan lupa untuk mencari tahu kuncian pasangan. Misalnya, kalau suami saya bete, peluk dari belakang, minta maaf bisikin aja di telinganya, terus godain aja sampai ketawa. Oh iya, salah satu hal yang saya syukuri dari pernikahan kami adalah kami bisa menertawakan hal pahit yang terjadi sepanjang perjalanan kawin ini. Ya kesal atau marah sudah pasti, tapi abis gitu diketawain aja, dan ambil pelajaran baiknya. So start to dig about it, learn to serve your spouse to against the eroding respect.

**

91015

Happy October the 9th, dear, Husband. Like I said before, we all know that everything happened for a reason. And to have you as a person who always around me for all those bitter-sweet reasons happened is kind of luck for me. Looking forward for another adventurous years with you. Let’s keep holding hands together…

LOVE!

Anyway, if you guys want to read more about marriage life, please check www.mrsalwaysrightsite.wordpress.com deh!😀

5 thoughts on “5 Hal Dari 5 Tahun Perkawinan

  1. Itu yg terakhir sy jg do it…klo pas lg berantem, peluk dari belakang, cium, bisikn kata maap..asekkk romantis mbk..:)) ,btw met milad nikah nya..sy jg oktober ini.th ke 4 hihii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s