[Movie Review] Inside Out

Saya ini orangnya “Easy To Please” untuk beberapa hal seperti makanan, film (yang bukan saduran dari buku), buku fiksi atau novel, baju, tas, atau lipstick misalnya. JARANG banget saya bilang makanan nggak enak. Saya nggak tau bedanya lipstick 50 ribu dan 500 ribu, asal enak di bibir dan warnanya bikin bagus muka, ya udah bagus, deh x)) Gitu, deh, pokoknya. Saya cuma rewel kalau soal buku dan lagu. Jadi review atau cerita pengalaman nonton film INSIDE OUT di bioskop kemarin ini juga berdasarkan perasaan saya yang gampang dipuaskan, ya…

stacey-aoyama-inside-out

Gambar dari sini

Pertama kali lihat trailernya INSIDE OUT ini tentunya di Disney Channel pas nemenin Menik nonton Doc McStuffin atau Sofia The First. Film produksi Pixar ini seperti biasa jadi film kartun yang punya pesan moral. Settingannya di Minnesota dan San Francisco, bercerita tentang emosi anak perempuan bernama Riley, 11 tahun. Emosi ini bernama Joy, Anger, Sadness, Disgust, dan Fear. Apparently, they are all exist in our mind too!

Jadi film ini menceritakan bagaimana emosi-emosi ini mempengaruhi pengambilan keputusan dalam hidup kita, in this case, as an 11 years old girl. Selama ini, emosi yang memegang kendali dalam hidup Riley adalah Joy, artinya Riley memiliki kepribadian sebagai anak perempuan yang menyenangkan. Memorinya juga tersusun dari sederetan kenangan indah yang pernah ia alami semasa hidupnya. Tapi rasa bahagia Riley yang membuat dirinya percaya diri dan menjadi pribadi yang menyenangkan di rumah maupun di sekolah, goyah ketika si Sadness mengambil alih kontrol panel emosi di hari pertama Riley sekolah di tempat barunya. Usaha Joy untuk mengembalikan Riley menjadi Riley yang biasa malah bikin Joy dan Sadness terlempar dari headquarter.

My Opinion?

Tentu saja saya senang melihat Pixar menerjemahkan suara-suara kecil dalam hati dan pikiran yang selama ini suka saya dengan sendiri kala salah satu emosi menguasai diri. Saya juga kagum bagaimana lagu yang suka tiba-tiba muncul dan kita nyanyikan secara refleks itu mendapat porsi penjelasan yang kocak. Jangan tanya gimana Inside Out bisa bikin kita membatin “oalah, ternyata mimpi random itu terjadi karena begini ya!!” HAHAHAHA, kan, ngehek, ya!

Tapi yang bikin saya tertampar adalah pada bagian awal film yang menunjukkan adegan bagaimana satu bagian memori runtuh saat orang tua membentak anaknya. Ini kayak mengiyakan teori yang selama ini saya baca soal memarahi anak akan berpengaruh pada syaraf otaknya T__T kan jadi sedih gitu, mau nangis, merasa bersalah. Wait, I think sadness just touch my core there! :p

I think Inside Out is just like most of Pixar’s projects. It showcases the good colored veneer of bright-eyed optimism to cover some serious sad theme. Pixar juga berusaha menghadirkan pengetahuan bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik dan hidup harus seimbang. Selain merasa senang atau sedih, kita juga perlu merasakan haru. Coba cek emotion chart yang ini, deh:

insideout

Gambar dari sini

Ada banyak sekali rasa yang perlu kita asah agar bisa jadi manusia yang seimbang. Tanpa emosi, kita akan jadi manusia yang kehilangan arah. Dan kehilangan arah karena nggak punya rasa itu nggak enak banget. Hidup flat. Begitu aja. Boring, kan?

4 out of 5 stars! Move your ass to find it more by yourself! Be prepared to meet those little voices inside your headπŸ˜‰

Ini trailernya:

**

3 thoughts on “[Movie Review] Inside Out

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s