[Book Review] Critical Eleven By Ika Natassa

Bulan ini saya beli tiga buku. Lukisan Hujan (edisi baru) dari Sitta Karina, Negeri Van Oranje yang ditulis keroyokan oleh Wahyuningra, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana, dan Critical Eleven oleh Ika Natassa. Ini sebetulnya menjadi satu pencapaian, hahaha, secara sejak melahirkan tahun 2011, saya nggak pernah belanja buku cerita lagi. Biasanya beli buku yang berkaitan dengan dunia parenting dan buku anak-anak.

Sedikit cerita pembukaan. Buat yang kenal saya, selain buku soal Social Policy, Welfare, Woman Issue, dan Antropologi, buku cerita fiksi ini jadi tempat kabur yang paling mudah dari hingar bingar hidup. Rekor menenggelamkan diri dalam imajinasi yang saya bangun sendiri dari kalimat demi kalimat yang ada di buku adalah 1 hari penuh menamatkan Harry Potter, all series. Lulus SMA, sudah test SPMB belum ada hasilnya, yang ada hanyalah waktu kosong yang sangat banyak. Jadi hampir tiap hari mampir ke toko buku, dan menghabiskan buku cerita tersebut dalam satu hari. Pokoknya ibu dan bapak berhasil menjadikan saya anak yang lebih memilih membaca buku seharian daripada nonton tv seharian. And book means book, not comic. Saya pernah cerita di Mommies Daily soal pilihan buku teks ketimbang buku bergambar.

Lucunya, buku-buku cerita yang saya anggap menyenangkan pas masa remaja, sekarang terasa ringan sekali ketika dibaca ulang. I was like “oh, come on! It’s too naive!” :p *sok dewasa* Jadi deretan buku cerita tersimpan rapih di rak dan beberapa ada yang masuk kontainer yang boleh dipinjam. Salah satu contoh yang paling baru adalah cerita karangan keluarga besar Hanafiah dari Sitta Karina. Dulu pas baca Lukisan Hujan, rasanya Diaz itu cowok idaman sepanjang masa, dan Sisy adalah cewek paling beruntung di dunia. Beberapa minggu lalu, saya baca ulang novel tersebut dalam edisi barunya, ternyata saya merasa “it’s not real” hehehehe.. bagai tersadar, itu khayalan yang cocok buat remaja. Mungkin ini saya saja, tapi buat saya membaca buku itu enaknya yang settingannya sesuai umur dan situasi sosial sekitar. Atau ya, sekalian aja baca buku khayalan kayak Harry Potter misalnya.

Anyway, enough with the prolog, now let’s move to what I wrote on my title line: Book Review Critical Eleven.

CE-IG

Buku ini karangan Ika Natassa. Pertama kali kenal Ika lewat buku A Very Yuppy Wedding yang saya beli ketika saya belum menikah. Beli buku ini barengan sama bukunya Syahmedi Dean yang J.P.V.F.K. IMHO, Ika berhasil menjadi penulis dengan gaya penulisan yang enak dibaca dan terasa mengalir. Ika selalu menghadirkan pasangan muda yang terasa nyata dan tokoh tersebut bisa saja ada di supermarket sedang belanja bareng kita :p Setelah A Very Yuppy Wedding, ada Antologi Rasa, Divortiare, Twivortiare 1 dan 2. Akhirnya tahun ini ada buku baru dari Ika judulnya Critical Eleven.

Critical Eleven ini merupakan istilah dalam dunia penerbangan. Situasi kritis saat naik pesawat itu di tiga menit pertama setelah take off dan 8 menit sebelum landing. 11 menit yang kritis ini menjadi analogi untuk pertemuan antar manusia. Misalnya lagi meeting sama klien, ada 3 menit pertama yang penting untuk membangun kesan dan 8 menit terakhir yang biasanya diselimuti kegelisahan menebak kemana arah akhir pertemuan tersebut.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

*Quoted from the back of the book*

Pas baca Critical Eleven ini saya gemas, deg-degan, dan kesal karena selalu salah menebak jalan cerita. Saya baru bisa menebak dengan benar setelah 3/4 bagian bukunya selesai saya baca. Karena bukunya bercerita dari dua sudut pandang, saya memilih untuk lebih menikmati bagian Ale. Buku ini yang nulis perempuan, jadi bagian cara berpikir Ale ini sesuai dengan khayalan perempuan tentang bagaimana, sih, cara pandang laki ke perempuan kesayangannya. Ceritanya laki-laki yang bicara tapi dari set pikiran perempuan, hahaha, memuaskan perempuan ceritanya :p

Buku ini juga cukup Indonesia, dimana saya BANYAK ketemu kejadian nyata kayak Ale dan Anya, suami-istri yang udah nggak tidur sekamar tapi rela bersandiwara di depan banyak orang. Karena apa? Karena di Indonesia, bercerai itu bukan hal yang biasa. Cerai merupakan hal final yang menyedihkan. Memalukan. Untuk bisa melaluinya, ada banyak yang memilih untuk bersandiwara sebelum mengambil keputusan pisah dan ‘diumumkan’ ke khalayak. Bagian bersandiwara ini juga bisa jadi tempat introspeksi. Ika Natassa berhasil menggambarkan bagaimana rasa hati berkecamuk setiap kita ketemu masalah sama pasangan. As human, we do mistake. We make apology. We have to move on. Dan kalau kata sahabatnya Anya, Tara, “orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.”

By the way, I just found out that some people were irritated with the way Ika’s write. Dari mulai istilah dalam bahasa asing, tempat yang out of reach (settingannya di New York misalnya), sampai merek barang yang harganya selangit. Kalau saya kok enggak terganggu, ya? HAHAHAHA. Ini kayak memberikan pengetahuan, IMO. Oh ya, perlu dicatat, saya pun nggak punya satupun benda bermerek yang disebutkan dalam buku tersebut. Tapi saya tahu merek itu ada. Dan saya nggak jadi iri dan kesal juga karena kesannya out of my reach. Pemilihan lokasi New York misalnya, detil setiap sudut, dan nama jalan  serta restoran berbintangnya berhasil bikin saya googling dan membayangkan tokoh di buku lagi jalan-jalan di sana. Istilah dalam bahasa asing untuk banyak? Well, ini bisa membuka wawasan, loh. Seperti istilah-istilah dalam dunia coffee brewing yang berentet dalam buku Critical Eleven misalnya. Saya jadi tahu jenis kopi terbaik di dunia dan istilah dalam langkah meracik kopi dari nol, dari pemilihan bijinya. Nggak penting tapi kalau tahu istilahnya jadi kaya pengetahuan, kan? Kalau kata lagunya Frente “open up your heart and let the sunshine in”😀

Oh iya, Ika Natassa juga berhasil mendoktrin pembacanya bahwa hal yang paling seksi dari laki-laki itu adalah otak yang cerdas. Apalah gunanya muka cakep kalau diajak ngobrol nggak nyambung dan dan kurang wawasan. Ika juga berhasil menekankan kalau perempuan yang nggak bisa masak itu will doing just fine when she get married.

So I give 3.5 stars for this book. Kenapa? Ceritanya kurang panjang, kak! Hahahahhaa.. masih pengin tenggelam dalam dunia Anya dan Ale, yang too good to be true. Kalau nggak too good dan terlalu real, nggak asyik juga buat dibawa ngayal hihi. Namanya juga novel fiksi. Udah, pada baca aja sendiri, enak dibaca buat long weekend kayak sekarang🙂

Worth to buy nggak, Ki? Ya kalau memang suka membangun khayalan dari deretan kata dari settingan yang rasanya familiar, nggak akan rugi bayar 80 ribu buat buku 300 halaman yang waktu dibuka PO via twitter langsung habis dalam waktu 11 menit. Kalau dulu saya senang dengan pasangan Alexandra dan Beno, sekarang saya jatuh cinta dengan Anya dan Ale. Kabarnya, novel Ika yang ini mau dibuat filmnya. Semoga nggak membunuh imajinasi yang sudah saya bangun, ya, dear Critical Eleven Movie Maker.

Selamat berakhir pekan, semua!

11 thoughts on “[Book Review] Critical Eleven By Ika Natassa

  1. Waaaah gw baca lengkap lontong sayur syahmedi dean.. trus ika natassa ini juga Saski! Udah cinta dari jaman a very yuppy… nahh critical eleven ini belom dapet gw.. masih berlibur huahahaha. Trus bener banget, gw sempet buka2 bacain buku2 lama metropop.. n brasa kok enteng bgt ini *sok iyes

  2. Wahaha..saya ketinggalan PO. Jadi nunggu release saja deh pada akhirnya. Menurut saya sitta karina dan ika natassa itu setipe gaya penceritaannya, and i love the way they write. Ngalirrr~~
    Cuma sedikit kecewa aja sama buku ika natassa sebelumnya, twivortiare 2.
    Setuju juga pas baca lukisan hujan yg baru kemarin, feelingnya beda. Meskipun sama2 bagus, tp gak dapet romance thrill-nya hahaha *mental emak*

  3. on the way di jalanan dari bukabuku. Hihii.. akhirnya bener2 tertarik beli bukunya Ika Natasya setelah lihat seliweran review disana sini, termasuk pas buka blognya Mba Saski kok ya abis ngereview..
    salam kenal Mba, btw🙂

  4. Fix, gue mau cari Critical sesuatu itu ah! Kemarin si Sarah (sarskyrs) juga bilang bagus.
    Btw Van Oranje itu Wahyuningrat temen gue waktu di Astro. Mau dibikin film lho bukunya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s