The New Motherhood Trend: To Stated –> Did or Did Not Celebrating World Breastfeeding Week

Karena World Breastfeeding Week sudah beres, judulnya jadi past tense. Bener nggak, sih? HAHAHHAHA.. *panjang*

WBW2015

Gambar dari sini

Anyway, buat geng ibu menyusui, tanggal 1-7 Agustus menjadi pekan yang menyenangkan, karena perihal menyusui anak menjadi hal yang dirayakan bersama di seluruh dunia. NAMUN buat geng ibu tidak menyusui, World Breastfeeding Week bisa jadi hal yang menyakitkan, karena isinya cuma pamer keberhasilan menyusui anak dan hasil asi perahan segudang.

Saya baru tahu gitu, pas baca artikel di TIME dari seorang ginekolog perempuan yang menyusui anak-anaknya dan menyatakan kalau dirinya tidak mendukung Pekan Menyusui Sedunia. Lalu saya ketemu postingan blog (yang menurut saya antitesis) yang juga dari seorang ibu which happened to breastfeed her baby but stated that she doesn’t celebrate it either. Bedanya kalau Bu Obgyn ceritanya membahas dari sisi ilmiah dan ilmu kedokteran, sedangkan Bu Blogger membahas dari sisi sosial (media).

Lalu tentunya muncul, dong, artikel jawaban dari geng sebelah. Seperti tulisan dari Support Group di Chicago ini yang menjelaskan soal anatomi artikel anti menyusui, atau blog post dari AyahASI yang menyatakan kalau mendukung ASI itu tidak ada salahnya dan nikmati dengan pikiran terbuka.

Jadi siapa, nih, yang bisa dijadikan kambing hitam? YA, SOSIAL MEDIA! Mwahahahaha.. Gampang, kan?

Saya sebetulnya sudah pernah menulis soal ASI Adalah Hal Yang Biasa untuk #WBW2013 di Mommies Daily. Tahun 2013, tuh, haha dua tahun laluuuu.. visioner banget, ya :p *ngaku-ngaku*. Back to topic, iya, biasa ajalah kalau bisa menyusui anak, karena ya emang begitu harusnya. Pencitraan negatif yang terjadi karena para ASI NAZI ini memang sangat menyebalkan. Bayangkan, para ibu yang berhasil menyusui dan berniat berbagi pengetahuan yang terkubur karena masifnya marketing susu formula (yang bisa naikin haji bu bidan kalau berhasil memenuhi target penjualan) jadi dapat cap negatif: TUKANG PAMER! Ya emang ngeselin, sih, hahahaha.. saya aja ‘resign’ dari milis support group ASI karena panas mata baca dukungan yang terasa menyakitkan. Nggak gampang jadi konsulen, butuh ilmu, harus ada rasa. Makanya ada pelatihan untuk jadi konselor. Masalahnya yang konselor ini terbenam sama yang militan :p jadinya saran-saran yang terlontar terasa pahit.

FYI, saya nggak pernah suka dengan ide sertifikat ASI sih, hahaha, gelar S1-S3 ya nanti aja kalau sudah kuliah. Menik nyusu sama saya hingga 3 tahun 6 bulan (dan nggak punya sertifikat apapun. Kenapa? Ya karena bisa kasih ASI sampai lebih dari 2 tahun itu juga biasa aja). Saya nggak bisa nyapih, jadinya self weaning. Saya menjelaskan soal ASI kalau ada yang nanya. Kalau enggak, ‘pamer’ nyusuinnya di Mommies Daily aja, atau kalau ada momen kayak WBW kemarin :p Takut, bok, dianggak SOK TAHU dan dicap nyebelin kalau berbagi pengetahuan. Tapi kalau lagi pekan ASI, saya ikutan merayakan. Bikin kolase foto standar aja, sih. Ya kalau terlalu membara, nanti akika dicap PAMER x)

World Breastfeeding Week harusnya menjadi pekan yang menyenangkan untuk semua ibu di seluruh dunia. Menjadi pekan yang informatif. Tapi ternyata sekarang jadi titik balik untuk mencari fans di dunia maya. Berbondong-bondong nulis cari dukungan kanan kiri (yang tentunya berakhir dengan hitstat fantastis dan bisa naikin rate blogpost :p) hukum momentum, ya! Heheheh

Mengutip tulisan dari belahan bumi sebelah Chicago “these articles are not written with the interest of mothers and babies in mind. They are written for the express purpose of inflaming a fight.” dan setuju juga sama tulisan dari OB Skeptis lulusan Harvard yang bilang “I can’t celebrate anything that lauds some mothers while shaming others.” Jadi ebes-ebes tersayang, pekan ASI sedunia udah beres, nih. Daripada gontok-gontokan cari siapa yang juara, mendingan yang kasih ASI pada biasa, dan bantu untuk mengembalikan ASI jadi hal yang biasa. Yang kasih anaknya sufor juga biasa aja, nggak usah bete sama yang berhasil nyusuin (dan ternyata hobi pamer). Diemin aja, ya, tapi juga jangan bantu promo sufor, biar susu untuk 0-6 bulan kembali ke haribaan ‘harus dengan resep dan tidak dijual bebas’ OKESIP?

Peace to world, Mommies!

17 thoughts on “The New Motherhood Trend: To Stated –> Did or Did Not Celebrating World Breastfeeding Week

  1. Gue nggak menyusui eksklusif dan gue mendukung WBW. Soal post foto ASIP beku berderet-deret, gue sebagai yang “gagal” nggak merasa semua yang post itu mau pamer. Bisa dibedakan dari caption lah (misalnya) kalau gitu, mah. Soal sertifikat, I’m sorry but this one I don’t get..at all. Haha.

    O, ya, Ki … respect to you karena sudah taruh link menuju blogpost/artikel yang dibahas.

  2. Salam kenal, mbak. Like this. Yang artikel time, kebetulan dah baca dan setuju dgn kalimat si ob yg dikutip diatas. Tapi setuju jg sama mbak Sazqueen, yg ga ASI ga perlu merasa terintimidasi dong. Btw, br tau kl dulu formula harus pakai resep dr.

    • Iya, sampai sekarang sebetulnya sufor 0-6 bulan itu on doctor’s prescription, tapi karena marketingnya hebat bener dan depkes nggak punya aturan hukum yang kuat, jadi di Indonesia sufor bayi baru lahir bisa dibeli bebas

  3. Ribet banget ya sekarang mau merayakan (keberhasilan diri sendiri) aja harus ada dalih ini itu. Aku menyusui babypo sampai 2 tahun. Engga ngerayain juga WBW juga. Tapi aku mendukung WBW sebagai ajang yang mempromosikan breastfeeding. Yang butuh pengetahuan tentang menyusui kan bukan cuma Ibu, tapi lingkungan sekitar ibu. Waktu aku baru menyusui aku merasa tertekan karena orang-orang (umumnya lebih tua) di sekitarku mindsetnya masih “Emang ASI doang cukup? Anaknya nangis-nangis tuh masih laper.” Terus terang social media juga engga banyak membantu karena begitu google, bukannya dapat informasi/pencerahan tapi yang nongol kebanyakan gambar kulkas penus botol susu (kemudian nangis). Tapi waktu itu aku inget lagi bertepatan banget sama WBW, dan banyak web-web yang membahas/membagi informasi soal breastfeeding terutama on baby first days. I felt lucky back then because if it were not for WBW mungkin info-info soal breastfeeding engga bakal segitu mudahnya ditemukan.

    So, WBW? Yay for the useful information and nay for public gloating that leads to shaming other moms. After all, we are just doing the best.

    Maaf rantnya panjang ya, ki.😀

  4. Tos dulu donk Ki, gw jg dr jaman Rais kluar dr milis grup support asi ituh… Tll militan bwt gwe. Yg ptg udh dpt ilmunya cukup lah bwt nyusuin Rais dulu smpe 2thn lebih otw nih neng Aina hehe…,

  5. Saskiii, gw mesam mesem baca postingan ini hahahahaa. Gw gak celebrate wbw juga walo bocil nenen sampe 2th an lebih.. gak punya sertifikat2an juga, gw udh pedesss mata bacain mommy war soal asi – sufor ini. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s