Life is About Choices

http://www.thechoicedrivenlife.com/184-daily-choice/ Salah satu esensi hidup itu ketika mengambil keputusan atas suatu pilihan. Dulu waktu masih single, pilihan di depan mata nggak terlalu menjadi hal yang menyusahkan. I could made a decision by counting my buttons. Seriously. Misal, mau ambil tawaran pekerjaan yang jumlah gajinya nggak berubah dari pekerjaan sebelumnya, tapi karena selama ini sudah berharap sekali bisa kerja di perusahaan tersebut, tanpa banyak yang dipikirin bisa langsung diambil. Nothing to loose. Pilihan lain soal lipstick yang kemaren tiba-tiba ramai di Path. Dulu sewaktu masih single dan bekerja di sebuah majalah gaya hidup, membeli lipstick seharga Rp500.000 juga, ya sudah. Walau gajinya juga nggak gede-gede amat dan terancam makan indomie rebus dua minggu setelah beli lipstick itu, tapi kan yang penting happy (dan hype, karena samaan lipstick maratusribunya).

Betapa mudahnya saya dulu mengambil keputusan tanpa banyak memikirkan hal lainnya. I am that spontaneous. I am that impulsive. Walau ada uang yang saya sisihkan untuk menabung, tapi tabungan itu diisi tanpa rencana. Ya pokoknya nabung aja. Pokoknya beli aja reksadana. Pokoknya bayar aja asuransi. That’s it. Ketika sudah menikah, pilihan-pilihan yang muncul, mulai menimbulkan bayangan konsekuensi. Kalau saya ambil keputusan A, nanti bisa jadi B, C, D, E. To make it more complicated, ketika sudah melahirkan. Punya anak. Bayangin, pilihan disposable diapers aja berderet-deret. Kalau salah pilih bisa berujung bayar kemahalan sampai mubazir karena ternyata nggak cocok dengan kulit si anak. Pilihan untuk berhenti kerja kantoran, dan memilih untuk kerja dari rumah secara remote, freelance, tanpa kontrak juga bisa menimbulkan rasa insecure. Ya coba aja, tuh, sampai ada meme “perempuan harus kerja, karena laki nggak bisa bedain lipstick 50ribu dan 500ribu” Kalau nggak open minded, bisa bete seharian. Karena menunjuk diri sendiri yang belakangan memang beli lipstick dibawah 100ribu aja, hahahaa. But no, I do not care about that social media pressure.

Tahun 2011, saya sudah menulis soal Decisions VS Consequences. Pokoknya semua keputusan ada konsekuensinya. Deal with it, make peace with yourself. Terlalu ribet kalau hidup ini harus memuaskan banyak pihak, dan deep down inside malahan nggak bahagia, karena keputusan diambil bukan untuk kebaikan diri sendiri, tapi DEMI nggak merasa tertekan dengan meme dunia maya :p. http://instagram.com/DianaRikasari

“Kadang saya merasa ingin menutup pintu, duduk sendiri dan menenangkan diri soal hidup yang riuh rendah ini..”

Sebulan yang lalu, saya juga baru saja mengambil keputusan yang, Insya Allah, dari diri saya sendiri. Untuk mengambil keputusan itu, saya sholat Istikharoh. Saya meminta petunjuk kepada pemilik hati, pencipta diri. Setelah bersusah payah mewujudkan keinginan untuk meneruskan sekolah, mengejar gelar Master ke negeri Belanda, dan tentunya mencari beasiswa, saya memilih untuk melepaskan mimpi dalam genggaman tahun ini. Mimpi besar yang sudah saya ceritakan ke orang-orang dekat, demi mendapatkan doa dukungan.

Kenapa dilepas? Karena saya tidak bisa meninggalkan Menik selama 6 bulan, sebelum akhirnya ia boleh menyusul ke Belanda. Salah satu peraturan dari lembaga pemberi beasiswa adalah soal tunjangan keluarga yang baru akan cair di bulan ke enam (dan keluarga memang diijinkan ikut mulai bulan ke enam), dan tidak saya perhatikan, karena dari Universitas mengijinkan saya untuk membawa langsung si anak, membuat saya tidak melakukan persiapan yang baik sebagai Plan B. http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTWlLkNIaWoZ3qptgPSiAhjrcS9PBr4c2ZdX6Tkyfx3DG7i4MP_s1kCi6in Jadi ketika pilihannya : Menik atau Sekolah ke Belanda? Pilihan saya jatuh pada Menik, si kecil yang saya lahirkan 3.5 tahun lalu. Saya yakin, orang tua saya, terutama Ibu, pasti kecewa karena anak pertamanya belum bisa mewujudkan mimpi meraih gelar S2. Tapi saya yakin juga, ibu selalu menghargai keputusan yang saya ambil. Terlalu banyak pertimbangan, Ki? Jelas, karena sejak ia lahir, saya belum pernah meninggalkan Menik. I can not imagine my life without her for the next 6 months. Kalau saya ambil, mungkin akan ada penyesalan yang terjadi, dan saya tidak mau itu terjadi.

Life is about choices.

Kalau sekarang saya bisa bilang, saya memilih menyesal soal keputusan sekolah lagi ini ketimbang menyesal kalau ada yang terjadi dengan Menik dan saya tidak bisa turun tangan langsung saat itu juga. Sejujurnya, hal ini cukup mengganggu pikiran. Suami saya pun sampai kasihan dan bilang don’t make it too hard. He even picked one bag for cheering me up saat kemarin dengan sedih menunjukkan email undangan “Pre-Departure Briefing” yang akan diadakan tanggal 8 Agustus nanti, hehehee, such a nice husb!

“Rezeki orang tidak akan tertukar..” saya percaya Allah SWT mengatur rezeki umatnya dengan adil. Saya mau belajar ikhlas dan mengambil pelajaran terbaik dari keputusan ini. So now, if you guys still wondering about when will I depart? I will say it clearly that I postpone my scholarship and I won’t depart any soon to Nijmegen for my Master this year.🙂

9 thoughts on “Life is About Choices

  1. Life is about choices & we make choices based on our need, priorities (which incluse those we love). And yes it shouldnt include peer, socmed & meme pressure. All the best for you, jeung. Ingatlah selalu bahwa suatu hal akan datang 2x klo memang rejekinya. Alloh kasih yg terbaik & yg kita butuhkan kok🙂

  2. Bikin mberebes mili pagi2. It is about choices indeed. Sometimes i am still surprised by the priorities our heart and mind had set for us: the family, its like we dint have to choose anymore, its clear already.

    Oh..all the Shocking things we do, once we’re a mom.

    Hang in there saz. Keep dreaming and one day you’ll get there without having to choose anything. :*

  3. Hai Ki, gue juga pernah pada posisi yang sama, meski pilihannya sekolah atau promosi, kamu tahu kan aku berniat sekolah tanpa anak-anak, tapi gue tahu hati kecil gue kok berat meninggalkan anak-anak meski Bapaknya sudah 110% bersedia jadi tukang-masak-aktif-di-sekolah-ibu-pengganti-secara-fisik-sementara. Dengan bersembunyi di alasan2x yang lain, tapi gue tahu alasan gue menunda sekolah cuma berat meninggalkan anak2x. Sampai kemarin baru dapat izin dari Zia: ibu boleh sekolah.
    Tetap semangat ya Ki, inshaAllah diberikan kemudahan selalu meski sekarang lagi terseok-seok. Menik will be proud of you.

  4. Sama Saz, semenjak fokus promil & akhirnya punya anak, cita2 S2 dimelipirkan dulu. Semua keputusan pasti yg terbaik, rejeki ngga akan ketuker *bener banget*🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s