My (in-Consistent) Weaning Story

Akhirnya, Menik berhasil tidur tanpa harus menyusu pada saya. Artinya MENIK SUDAH DISAPIH!

Usia Menik saat ini 3 tahun 4 bulan, dan statusnya masih menyusu langsung. Bukannya tidak ingin disapih, tapi saya sudah kehabisan akal. Sungguh, menyapih adalah salah satu hal tersulit dalam perjalanan saya menjadi orang tua. Bekal awalnya tentu membaca, namun mempraktikkan teori bukanlah hal mudah. Weaning with love gagal. Cold-Turkey Weaning juga gagal. Satu-satunya harapan adalah self weaning. Sayangnya, saya adalah seorang yang kurang percaya dengan kalimat afirmasi yang diucapkan berulang-ulang. Ujung-ujungnya dicoba juga, sih, namun sesuai ekspektasi, hasilnya nihil. Mungkin juga karena melakukannya setengah hati, ya, jadi sugesti positif yang katanya juga merupakan hipnosis, tidak berhasil.

BF2

Mari kembali ke tahun 2013, usia Menik 2 tahun. Dua bulan sebelumnya, saya sudah mulai sounding kalau usia 2 tahun berarti sudah saatnya berhenti menyusu pada Ibu. Mungkin saya kebanyakan baca cerita positif soal weaning, jadi saya menganggap enteng perkara yang satu ini. Kebanyakan cerita yang saya baca adalah anak-anak melepaskan sendiri dirinya dari ketergantungan terhadap susu ibu. Kenapa versi itu? Karena kebanyakan cerita sapih lainnya adalah menggunakan media pengganti, dengan dot misalnya. Bukannya saya anti dot, tapi saya memang tidak pernah mengenalkan pada Menik. Jadi ketika ditawarkan dot sebagai media pengganti payudara ibu saat mau menyusu sebelum tidur, yang ada malah timbul perkara baru: Menik sibuk mainin dotnya. Opsi dot otomatis saya hilangkan, dan saya berusaha mengikuti success stories ibu-ibu lainnya. Setiap hari di-sounding kalau “Menik sudah 2 tahun, Menik sudah besar, sudah saatnya berhenti menyusu sama ibu.”

Tapi akhirnya saya capek sendiri, ketika sudah memasuki usia 2.5 tahun tidak ada tanda-tanda keberhasilan menyapih. Saya juga tidak ingin mendengar rengekan sebelum tidur, jadi akhirnya saya susui saja kapanpun Menik mau. Toh tubuhnya mungil, jadi tidak terlalu menarik perhatian ketika menyusui di tempat umum. Namun dalam hati, saya sebetulnya juga belum terlalu ingin berhenti menyusui. Hmm, mungkin sebetulnya saya clueless dan tidak ingin menghadapi drama weaning, haha. Jadilah saya melakukan extended breastfeeding!

Tapi ternyata keputusan saya melanjutkan menyusui Menik tidaklah mudah. Bisa dibilang ada pengaruh dan tekanan pihak luar.

BF1

Oh, sebetulnya di bulan Maret 2014, ketika kami pergi ke Hong Kong dan siap main di Disneyland, saya sempat bilang ke suami kalau mungkin ini waktu yang tepat untuk menyapih. Dengan mengarang cerita bahwa yang boleh masuk ke Disneyland adalah anak-anak yang sudah tidak menyusu pada ibunya, HAHAH, I know how ridiculous it is. :p Tapi ya, namanya juga usaha, ‘kan? Berhasil, nggak? Ya nggaklah, ‘kan lagi liburan. Ibunya (baca: saya) malas harus menambah rasa capek berusaha membuat anaknya tidur tanpa disusui dulu. Jadi ya gagal. Walau sepulang dari liburan itu, saya sering bilang ke Menik, “‘Kan sudah ketemu Mickey, sudah naik Slinky Dog, artinya sudah besar, jadi nggak susu lagi, dong!” Tapi omongan saya yang satu itu tidak pernah ditanggapi Menik. Kayaknya anak ini punya filter, kali, ya! Setiap bicara soal menyapih, pasti dicuekin. Jadi akhirnya saya yang menyerah dan berhenti mengirim sugesti positif soal menyusui. Dan Menik tetap menyusu seperti biasa.

Masuk ke bulan Oktober 2014, Menik merayakan ulang tahun yang ketiga. Sejujurnya, ya, tekanan dari pihak luar lebih besar dibanding dari dalam diri saya sendiri. Tekanan untuk berhenti menyusui anak balita.

“Ki, kayaknya elo, deh, yang sebetulnya nggak mau berhenti menyusui Menik!”

Bagaimana rasanya kalau kalimat tersebut terlontar dari teman sendiri? No hard feeling? Hmm, bohong kalau begitu, karena memang ada, sih, rasa kesal. Tapi karena terbiasa terlibat dalam perdebatan soal menjadi orang tua, jadi, ya, sudahlah. Sudah banyak juga mendengar kalimat lainnya yang menyinggung kebiasaan Menik menyusu, atau pertanyaan seperti kenapa Menik nggak ngedot atau nggak punya kebiasaan minum susu selain susu ibunya.

They have no idea bahwa sudah dua bulan terakhir Menik hanya menyusu saat mau tidur. Sejak ulang tahunnya yang ketiga, frekuensi Menik menyusu berkurang banyak. Menik hanya menyusu 2 kali sehari, saat mau tidur. Ini terjadi tanpa usaha sama sekali. Karena inilah, saya mulai baca soal self-weaning. Seorang konselor laktasi, Jan Barger, menjawab pertanyaan “Do children naturally wean themselves?” dengan “Yes, they do. Some wean earlier, some later, but they all wean themselves eventually.” Dan sejujurnya, dari dalam hati saya, memang self-weaning inilah yang inginnya terjadi dalam hubungan menyusu antara saya dan Menik.

Setelah bulat dengan keputusan untuk menunggu self-weaning terjadi, saya benar-benar cuek dengan omongan miring yang terdengar soal saya masih memberikan ASI langsung padahal Menik usianya sudah 3 tahun. Tapi lucunya, sejak itulah Menik mulai berhenti menyusu di siang hari. Walau dengan situasi begini, jadwal tidur siang Menik jadi berantakan, tapi saya berusaha untuk tidak menjadikannya masalah besar. Konsekuensi dari tidak tidur siang adalah tidur malamnya jadi lebih cepat. Itu saja, jadi yang agak tricky adalah mengatur ulang jam makan malam.

Januari 2015, Menik benar-benar hanya menyusu saat mau tidur malam hari. Bahkan, saya bisa menolak permintaan menyusu di siang hari dengan “Loh, ini ‘kan siang. Masih terang. Bukannya Menik kalau nyusu sekarang pas sudah gelap. Malam sebelum tidur, ya, ‘kan?” Jadi tidak ada masalah. Terpenting adalah saya tidak perlu menghadapi raungan anak minta susu. Karena memang ini yang saya hindari.

Memasuki bulan Februari, saya iseng menawarkan Menik sepeda baru. Suami juga bilang, kayaknya sudah saatnya mengganti sepeda roda tiganya. Jadilah momen beli sepeda ini saya manfaatkan. Semoga nggak dihujat karena memberikan anak hadiah yang tidak ada hubungannya dengan weaning. :p Intinya saya bilang kalau kami akan membelikan sepeda baru yang boleh dipilih sendiri oleh Menik, kalau sudah berhenti menyusu. Lalu berpengaruh? Ya enggak! Hahaha, Menik ini hobinya adu argumen. Ketika saya tawarkan opsi tersbut, jawabannya adalah “Enggak, deh. Menik nggak ingin sepeda baru, kok. Susu ibu saja!”

Lagi-lagi karena alasan tidak mau mendengar anak cranky karena minta disusuin, jadi saya tidak mengancam Menik dengan kalimat “Nanti tidak jadi beli sepeda” saat Menik minta susu. Tanggal 9 Februari 2015, tiba-tiba Menik tidur siang dan malam sendiri. Awalnya minta dibacakan buku, lalu guling-guling sebentar, dan tertidur. Selanjutnya tanggal 10-13, begitu terus. Menik tertidur sendiri tanpa harus saya susui.

14 Februari, Menik tanya, “Bu, Menik udah nggak susu ibu, ya? Udah gede, ya? Beli sepeda, dong!” Hihii, saya iyakan. Esoknya, lagi-lagi dia minta baca buku, kali ini baca (lihat gambar) sendiri, terus ketiduran. Dan begitu seterusnya hingga akhirnya tanggal 17 Februari, tepat di usianya 3 tahun 4 bulan, saya menyatakan kalau Menik sudah berhasil menyapih dirinya sendiri.

unnamed (1)

Ritual sebelum tidur terbaru: selfie!

Mungkin karena prosesnya mulus, saya tidak merasakan perubahan menyakitkan pada payudara saya. Ketika terjadi penurunan frekuensi Menik tidak menyusu di siang hari saja, payudara terasa bengkak sedikit, namun sesudah itu hilang rasa sakitnya. Ada rasa kehilangan, tapi buru-buru saya hilangkan, daripada nanti timbul drama susulan, hihii.

Jadi, kenapa saya beri judul “in-consistent?” Karena saya memang tidak konsisten pada perihal menyapih. Satu, saya kurang informasi. Dua, saya malas sekali kalau harus berjibaku dengan drama sebelum anak tidur. Saya ini sadar banget, kalau sudah ngantuk, saya bisa tidur di mana saja. Saya tidak ingin rasa ngantuk hilang karena harus menemani Menik yang tidak bisa tidur karena tidak disusui, dan akhirnya saya yang cranky. Saya juga tidak konsisten dalam memilih waktu dan metode menyapih. Pokoknya, saya seperti malas mencari tahu, deh.

Belakangan, saya baru baca di Kelly Mom, bahwa ada lima jenis proses sapih:

  1. Child-led weaning: proses sapih yang terjadi saat si anak merasa tidak lagi butuh disusui. Biasanya terjadi pada anak-anak di atas usia setahun. Jika memang benar-benar ikhlas anak yang menyapih dirinya sendiri, maka kebanyakan terjadi di antara usia 2- 4 tahun.
  2. Mother-led weaning: proses menyapih yang dilakukan oleh ibunya. Ada weaning with love, jika proses menyapih dilakukan dengan halus dan menunggu tanda bayi siap disapih, yang biasanya muncul mulai usia 18 bulan.
  3. Sudden weaning: berhenti menyusui dengan mendadak. Sebetulnya penyapihan mendadak ini distressing kedua pihak. Ibu bisa diserang plugged ducts, breast infection atau bahkan breast abscess. Pada anak bisa terjadi perubahan emosi yang bisa menuju ke mood swings dan depresi.
  4. Gradual weaning: melakukan sapih secara bertahap dan biasanya diberikan pengganti nutrisi, afeksi, dan atensi sebagai kompensasi anak tidak menyusu.
  5. Partial weaning: dilakukan oleh orang tua dengan keyakinan bahwa weaning is not an all-or-nothing process. Jadi Mommies bisa tetap menyusui sekali (atau lebih) dalam sehari. Kebiasaan menyusu di waktu lainnya dieliminasi.

Kalau saya, kayaknya melakukan nomor 1, 4, dan 5, hingga akhirnya beres juga menyusui. Awal menyusui berjalan tidak lancar, tapi alhamdulillah bisa diakhiri dengan mulus tanpa drama. Saya nggak mungkin berbagi kiat, karena saya juga nggak tahu kenapa anak yang posesif terhadap susu ibunya ini bisa melepaskan diri. Tapi satu hal, sih, pastikan perut anak kenyang sebelum ia tidur malam, dan pastikan energinya habis sebelum tidur siang. Thank you Menik for this wonderful journey. I love you! Now enjoy your new stage as little girl, not a baby anymore.

Mommies sendiri gimana? Ada yang masih berjuang menyapih anaknya? Santai dan lakukan yang sesuai dengan hati Mommies, ya! Pokoknya ingat, yang menjalankan proses ini adalah ayah, ibu, dan anak. Selebihnya tidak ada urusannya, kecuali urusan risih melihat balita disusuin :p “Your baby, your rules!”

9 thoughts on “My (in-Consistent) Weaning Story

  1. Waah..selamaat! Saya masih belum kebayang, hiks, masih jauh jg sih😛 tp ya itu, i feel you. Selain sudah waktunya tp kdg gak rela jg ya bakal kangen2 gitu di bayanganku sih *mellow
    Aah semoga sayapun bisa menyapih dgn keinginan amak sndiri, it is more natural, though🙂

    • Hahaha Nad, surprisingly gue nggak merasa kangen loh sampai saat ini. Kemarin Menik sempat demam, tapi gue juga nggak ada keinginan nawarin nyusu :p

      Gue nggak rela kalo menyusui ini disudahi secara paksa, tapi karena ini berjalan natural, jadi alhamdulillah santai aja rasanya😉

      Semangat menyusui, ya!

      • Nah, mungkin karena secara perlahan dan natural itu jd gak berasa kangennya kali ya. Semacam gak bengkaknya PD itu, kalo misal tiba2 berenti pasti nyeri dan panas dingin kan, tapi karena bertahap ini jd ga terlalu signifikan bengkak dan sakitnya haha
        yesyes, makasi Mbak Saz!

  2. Aah selamat ya mak buat dirimu n menik. Aku nomer berapa yak, 2 kayaknya. Si arda sapih umur 2 taun 4 bulan.. dan yesss, emang “mengorbankan” waktu tidur sih, karena pengalihannya ke cerita/dongeng sebelom tidur yg lebih intens dr biasanya. Plus afirmasi2 postitif itu lah (yang udh dr 18 bulan tp br berhasil berbulan2 kemudian) fiuwh… berbahagialah krn udah menyusui menik 3 tahunan ya… menyusui itu proses untuk dikenang, bukan utk dikangeni. Pernah baca quote dimanaa… gitu, tapi nancep banget di gw hehehe

    • Afirmasi positif itu tuh yang gue setengah percaya, makanya nggak berhasil kayaknya😀 Iya makasih, ya. Sekarang gue belom kangen nyusuin, sih hahaha.. bener tuh kutipannya “untuk dikenang, bukan dikangenin”😉

      Thanks Dila!

  3. Mba Sazqueen.. Salam knl ya.. I feel u bgtt.. Bner2 hampir sama kasusnya.. Anakku 2bln lagi 3 y.o dan aku msh ga pny akal gmn nyapihnya.. Segala teori n opini n success story org udah kutelen smua n ga ada yg mempan.. Kecuali bagian ngolesin yg aneh2 dan dipisah mendadak (will try soon when shes 3yo). Dan aku bnr2 ga percaya yg namanya hypnotherapy apa itu namanya yg dibisikin. Udah 6bln sblm 2taun dibisikin sampe jontor sama aja. Hasilnya?wkt dia 2 thn, dia mnyangkal kalo dia udah 2 taun -_- maksudnya spy ga disapih. Dibeliin barang n diajak jalan2? Sama. Dia memilih susu ibunya juga -_-
    I really have no idea how to wean her.. Dan msh berharap anakku bs kyk Menik mendadak menyapih dirinya sendiri.. *meskipun emaknya pesimis* tp aku sng bgt baca postinganmu ini Mba.. Merasa ga sendiri jdnya😀
    Oh ya, mo tanya. Menik dulu cuma sebelum tidur aja minta nyusunya? Justru aku susahnya ketika dia tidur n terbangun malem2. Krn pasti cranky banget kan. Kalau mau tdrnya msh bisa diakalin diajak pergi n pulangnya tertidur dijalan.. Dan porsi trbangun malamnya itu bs 2-3x tergantung sikon.

    • Haiiiiii… Sabar yaaa :))

      Menik itu sejak usia 2 tahun nggak pernah bangun tengah malam. Tidurnya selalu pulas sampai pagi. Triknya hanya dikasih makan yang cukup jadi tidur dalam keadaan kenyang 😂

      Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s