“Bu Guru, Cium, dong!!”

Pernah nggak pas masih SD teriak begitu ke ibu guru? Kalau pengalaman saya sekolah SD kelas 4 di tahun 1994, sih, tidak pernah ada. Dulu, kelas saya diajar oleh guru laki-laki, dan rasanya nggak kepikiran minta dicium pak guru. Hahaha

Tapi 18 Februari 2015 lalu, ketika saya ikut menjadi seorang relawan pengajar di Kelas Inspirasi Bandung yang ketiga, saya mendengar teriakan tersebut! HAHAHAHA.. Positif pengaruh TV karena di Asep yang minta dicium ini merasa dirinya ganteng seperti salah satu peran di sinetron Ganteng-Ganteng Serigala (GGS) bernama Alehandro (?) x))

Akhirnya daripada chaos, mending saya ajak selfie aja bareng-bareng!

KIB1

Ini dia foto bersama anak kelas 4, yang usianya sekitar 10 tahun, setelah sebelumnya minta dicium.

Kejadian seru ini terjadi di SD Babakan Jati, Binong, tempat saya dan 6 relawan pengajar lainnya berbagi inspirasi. Kegiatan hari itu diawali dengan kumpul bersama di lapangan SD yang tidak terlalu luas. Semua murid berkumpul pukul 7 pagi tepat setelah bel masuk dibunyikan. Saya membantu memandu acara pembukaan tersebut dengan memperkenalkan seluruh relawan dan dokumentator hari itu dari kelompok 24 Kelas Inspirasi Bandung 3. Selain saya, ada Surya (magician, staff Trans Studio Bandung), Yessi (HRD Bank Danamon), Mukhlis (Pembuat Helikopter, PT Dirgantara Indonesia), Ibu Ayi (Dosen Teknik Informatika UNPAS), Kang Iman (Kabayan Nyintreuk, Seniman), dan Sintiana (Administrasi). Di bagian dokumentasi ada Iqbal (videographer) plus Melli dan Jalaroso (fotographer).

KIB2

Karena jumlah pengajar dan rombel (rombongan belajar) tidak seimbang, maka kami semua mengajar semua kelas, dari kelas 3-6) masing-masing selama 40 menit. And this was the moment I salute all elementary teachers! Ya gimana nggak salut, suara dan energi saya habis setelah mengajar dari pukul 7.30-12.00.

Kelas pertama yang saya masuki adalah kelas 3B. Mungkin karena masih pagi, suasana masih sangat kondusif. Anak-anak masih excited menunggu apa yang kira-kira akan dilakukan para relawan hari itu. Di kelas ini, saya mengajak mereka untuk menulis puisi “Lemper-Ku” HAHAHAHA. Percayalah, mereka semua semangat membuat puisi dengan objek makanan yang ada di depan mata, dan mendapat pelajaran bahwa untuk menulis itu tidak susah: cukup dengan memanfaatkan indera yang kita punya seperti mata, lidah, hidung, tangan, dan telinga.

kib7

Kelas selanjutnya adalah 4A, dan ini adalah kelas yang paling sulit ditaklukan. They didn’t want to shut their mouth even for just 5 sec. NGEMENG melulu, kak! Jadi kelasnya super berisik. Itu anak laki-lakinya, ya. Anak-anak perempuan sibuk nonton tutorial hijab dari tablet yang dimiliki oleh salah satu murid kelas tersebut sambil mempraktekan tutorialnya. Aku kudu piye? Akhirnya karena mereka sudah tidak ada yang mau memperhatikan, jadi saya tanya aja, deh, ke ketua kelasnya, sebetulnya teman-temannya suka ngapain? Jawabannya “Qasidah!” ya cuss, deh, pada qasidahan. Daripada berisik nggak jelas hahaha.

Di kelas 4B, lebih kondusif. Walau anak laki-lakinya tidak mau saya ajak menulis, tapi mereka mau bermain Kapur Berbisik. Main membisikkan kalimat gitu, loh, terus sampai ke belakang, nanti yang paling akhir maju kedepan menuliskan kalimat yang saya bisikin di awal. Seru, deh. Kami bermain tiga putaran, hingga akhirnya si Asep minta cium ke saya! hahahaa.. Sementara anak perempuan membuat tulisan pendek tentang ibu. Percayalah, tulisan mereka bagus-bagus sekali. Bahkan ada satu anak yang katanya bercita-cita menjadi penulis novel, menuliskan 1 halaman penuh ceritanya tentang Ibu. Padahal anak lainnya hanya menulis sekitar 10-15 baris. Keren, deh!

kib5

Kelas selanjutnya adalah 5A dan 5B. Tidak ada yang terlalu spesial karena mereka terlalu serius memperhatikan cerita perjalanan karir saya. Ada yang bilang “jadi Ibu nggak pergi ke kantor?” atau “Ibu kalau kerja pake jeans?” bahkan ada yang nanyain gaji! Well, they come from uneducated family which means orientasi mereka saat kerja sebetulnya adalah uang untuk makan. Orang tuanya kebanyakan kerja sebagai buruh cuci atau buruh pabrik.

Saya memang berharap, kedatangan para relawan ini benar-benar bisa membuka pikiran semua murid SD yang didatangi. Saya ingin pintu mimpi mereka dibuka, dan mereka bisa melongok ke depan bahwa ada BANYAAAKKK sekali profesi yang bisa mereka pilih dan tentunya bisa menjadi kunci kesuksesan mereka di masa mendatang. Tidak boleh apatis. Ada banyak harapan. Ada banyak mimpi. Ada banyak kesempatan untuk bisa membantu mewujudkan angan mereka semua. :’)

kib4

Acara berbagi inspirasi ini ditutup dengan berkumpul kembali di lapangan. Kalau lihat banyak video kelas inspirasi, rata-rata yang ditayangkan sebagai simbol penutup adalah menerbangkan balon yang sudah ditempel tulisan cita-cita semua anak-anak. Namun banyak masukan dari pecinta lingkungan, membuang balon ke udara ini katanya menambah polusi, jadi diganti dengan menempel cita-cita di pohon harapan, memasukkan harapan di toples dan ditanam ceritanya jadi time capsule, dan masih banyak lagi. Kalau kelompok kami kemarin, membuat Medali Harapan. Anak-anak menuliskan nama dan cita-citanya lalu medalinya bisa dipakai langsung. Medali tersebut bisa dibawa pulang dan digantungkan, untuk menjadi pengingat dan pemicu semangat, bahwa ada cita-cita yang harus mereka raih demi kehidupan yang lebih baik.

kib3

I left the school building with so many thoughts (and I believe, all my fellows feel that too). I feel inspired too. Ada banyak hal yang didapat setelah berkunjung ke sekolah seharian. Setelah terlibat di dalam kelas, setelah berusaha untuk berbagi dengan mereka yang katanya generasi penerus bangsa. Saya juga merasa sedih karena akhirnya saya tahun mereka tidak punya suri tauladan yang bisa dijadikan idola. Even their teacher sometime throw joke from Ganteng-Ganteng Serigala scene. Sedih, kan? Saya berharap, semua rasa yang kami tulis di lembar refleksi, bisa sampai kepada semua pihak yang berkepentingan. Jadi kontribusi kami hari itu benar-benar berguna.

All in all, I feel thankful akhirnya lolos seleksi untuk jadi relawan di Kelas Inspirasi Bandung dan bergabung dengan Indonesia Mengajar. Terima kasih, untuk semua anggota kelompok 24, I think we did a great job. Coba lihat, nih, foto Mukhlis sang pembuat helikopter foto bareng anak-anak SD Babakan Jati.

mklh-kib

Menyenangkan, ya, melihat foto diatas! Jalaroso jagoan ngambil momennya😀 Kami masih menunggu foto dan video dari team dokumentasi, mean while, foto yang ada di blog saya kebanyakan adalah koleksi dari hp kami masing-masing, hihii. Terima kasih juga untuk Kang Yusuf sebagai pendamping kelompok kami dan untuk SD Babakan Jati, terutama Pak Deni, yang menyambut kedatangan kami dengan hangat.

kib6

“Babakan Jati! Terbaik, Terbaik, Terbaik!”

18 Februari 2015, SD Babakan Jati, Binong, Bandung.

***

Seperti yang pernah saya ceritakan disini, saya sudah ingin sekali bergabung di gerakan Indonesia Mengajar milik Anies Baswedan. Menurut saya ide ini brilian. Dan mungkin karena memang salah satu passion saya adalah berbagi pengetahuan, jadi Indonesia Mengajar merupakan salah satu gerakan yang terlihat keren di mata saya. Ternyata bukan hanya saya saja yang memiliki keterbatasan sehingga tidak bisa bergabung di Indonesia Mengajar, untuk dikirim ke remote area dan mengajar selama setahun di sekolah lokal. Dan muncullah Kelas Inspirasi ini. Kalau ada yang tertarik ikutan, bisa langsung mampir ke website nya dan cari informasi pendaftaran di sana , ya.

3 thoughts on ““Bu Guru, Cium, dong!!”

  1. Selama ini jadi silent reader aja di blognya mbak Saskia. Suka banget bacanya, salam kenal ya. Salut sama Kelas Inspirasi, jadi pengen ikutan juga nih… Btw, serius itu anak SD kelas 4 ada yang bawa tablet dan boleh gitu sama sekolahnya dan orangtuanya ngasih dan ngijinin anaknya bawa tablet ke sekolah? Benaran udah jadi bagian dari kurikulum sekolah atau karena anaknya pengen aja?

    • Thanks Evita.. Iya serius. Kayaknya sekolahannua nggak tegas sih, kalau orang tuanya mungkin nggak peduli hehe.. Nggak jelas juga. Gak ada bagian dari kurikulum. Bawa buat gaya. :))

      Daftar dong, cek webnya ya.

  2. haha ka saz lucu itu yang minta cium, inget jaman SD banyak berubah ya anak-anak sekarang. Terharu juga nih bacanya.. Pengen ikutan taun depan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s