Dosen Favorit : Selly Riawanti!

Dari semua nama dosen di Antropologi UNPAD, ibu Selly Riawanti adalah favorit saya. To be honest, saya nge-fans sama beliau, dan maunya nanti bisa berbakti untuk negara menjadi dosen, memberikan kontribusi untuk perubahan positif di Indonesia. Titelnya lengkap, Dr, SS, MA hahaha duh, ngiler banget nama saya bisa lengkap titelnya seperti itu😀

Selly Riawanti

*Foto dari FB beliau.

Anyway, tadi pagi, saya membaca interview beliau di website UNPAD, masalah perkotaan. Lengkapnya bisa cek di sini. Saya mau ambil sedikit penjelasan yang berhubungan dengan rasa apatis terhadap lingkungan sekitar yang kemarin saya tulis.

Dr. Selly menyampaikan bahwa budaya masyarakat setempat juga cukup mempengaruhi kehidupan perkotaan tersebut. Misalnya, di Bandung, orang Sunda sejak dulu terkenal dengan keramahannya, termasuk kepada pendatang. Selain itu, orang Sunda tidak suka bertengkar atau sering menghindari konflik. Tapi sayangnya, mereka lemah dalam pengendalian di tempat publik.

“Contohnya, bila ada seseorang yang buang sampah sembarangan, jarang sekali kita melihat ada orang yang mengingatkan, ngageunggeureuhkeun. Setelah sampahnya menggunung, baru kita ribut,” tutur Dr. Selly yang juga aktif di Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI).

Ia juga menjelaskan bahwa pendatang itu memang tidak punya keterikatan terhadap kota ini. Kalaupun ada, sangatlah kurang. Ditambah dengan sikap masyarakat Sunda tadi, maka pemimpin yang tegas lah yang dibutuhkan saat ini. “Kita tidak bisa hanya menyediakan tempat sampah dan mengharapkan orang membuang sampah disitu. Karena yang kita lihat sekarang, ada tempat sampah pun, sampahnya ada di sampingnya bukan di dalamnya. Jadi harus tegas sanksi dan pengawasannya. Kontrol ini harus dari semua, pemerintah dan masyarakat,” imbuhnya.

Persis dengan yang saya rasakan sekarang. Sense of belonging masyarakat sangat kurang karena kebanyakan yang tinggal di kota besar adalah pendatang. Kontrol juga kurang tegas karena rasa apatis. Ngaku, deh, banyak nggak yang bilang “bodo, deh, yang penting gue buang sampah di tempatnya!” ketika melihat ada sampah berserakan? x))

Dr. Selly memaparkan bahwa salah satu pendekatan antropologi yang penting itu adalah dengan belajar dari turut mengalami. Orang menjadi tahu karena melihat, merasakan atau mengalami sendiri. Ini salah satu hal yang dapat menumbuhkan rasa kepemilikan atau self belonging. Pendekatan ini pun bisa dilakukan oleh pemerintah kota dan masyarakat. Keterlibatan kedua belah pihak dalam menata kota akan menjadi kontribusi yang baik bagi kotanya.

Duh, keren, ya dosen saya! :)) Semoga makin banyak Antropolog yang sadar bahwa kontribusinya dibutuhkan di bumi. Bahwa tanpa Antropolog yang punya ilmu untuk melakukan pendekatan, rasanya kecil sekali perubahan yang bisa terjadi di kota tempat kita hidup setiap hari.

“Prinsipnya, orang dapat belajar lebih baik. Orang boleh baca buku satu rak, tapi belum tentu akan paham. Tapi bila kita lihat sendiri, mengalami sendiri, akan lebih cepat belajarnya, lebih mudah memahaminya,”

Ngerti nggak? :p Gampangnya gini, kalau ada ahli yang menciptakan mesin pengolah sampah, harus ada orang yang bisa menjelaskan fungsinya, dan bisa mengajak mereka merasakan apa manfaatnya. Bukan sekadar pasang mesin, jelasin teknisnya, lalu selesai. Siapa yang bisa bantu menyuluh dengan humanis? Salah satunya adalah para Antropolog.

Care to do something?😉

9 thoughts on “Dosen Favorit : Selly Riawanti!

  1. lha, trnyata anak unpad juga? xD
    Hm… iya sih betul faktor banyak penduduk pendatang itu emang berpengaruh sekali. Karena ga semua pendatang punya itikad menjaga kebersihan ya.
    Di sini juga begitu. Sampai ada yang bisa buang kasur ke sungai segala, kok tega banget yah?

  2. Memang mesin secanggih apapun kalo ga ada orang yang bisa ngoperasiin ga akan bawa banyak manfaat. Baru kali ini dapet gambaran gimana sih antropologi itu. Duluuuu waktu jaman sma gagal paham tentang antropologi. Huehe

    • Fungsinya harus dirasakan, sih, Dan. Sama juga kayak dulu jaman Pak Harto, bawa baju ke Papua, tanpa dijelaskan kenapa harus pake baju, bagaimana tata cara menggunakan pakaian (harus ganti setiap hari, baju harus dicuci, dijemur sebelum dipakai lagi) Alhasil, orang pedalaman yg dikasih baju taunya baju itu dipakai setiap hari sampai rusak, dan nunggu ada orang kota yg antar lagi baju lain. Rusak nggak? Disini peran Antropolog sebetulnya, sayangnya kita suka disia-sia disini, nggak dianggap. Jadi kabur ajalah kerja di luar negeri hahahha banyak perusahaan yg butuh Antropolog soalnya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s