Apathy Can Kill Us

Waktu nonton video speech Dira di Project Sunlight, saya cukup tertegun mendengarnya. I quote “tantangan terberat kita adalah sifat apatis.” Kalau dilihat di KBBI,  apatis /apa·tis/ : acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh. Nah, benar nggak apa yang dikatakan oleh Dira? Bahwa ternyata selama ini kita sudah apatis terhadap lingkungan?

Kalau berkaca pada diri sendiri, memang apatis, sih. Saya ini dididik untuk cinta lingkungan. Harus membuang sampah pada tempatnya, mengecek emisi mobil, membersihkan rumah, mengosek kamar mandi, dan lainnya demi hidup di lingkungan yang bersih dan sehat. Tapi ketika melihat keadaan sekitar yang ternyata jauh dari kebiasaan kita sehari-hari, apa yang dilakukan? Saya nggak ada, Haha. Abisnya kayak nggak mampu untuk memperbaiki keadaan, sehingga akhirnya hanya bisa bilang “ya udahlah, mau gimana? Yang penting, saya dan keluarga tidak seperti itu!”

HAH! Ternyata saya termasuk yang apatis, ya. T___T

Sikap ini tidak bisa dibiarkan. I have child. She need earth to live. Apalagi setelah membaca tulisan Riska, soal anak-anak kita sekarang yang termasuk dalam Gen Z, merekalah yang akan membereskan kekacauan yang sudah dibuat oleh generasi sebelumnya. How come? Ada riset terhadap 11.000 anak yang menunjukkan kalau Gen Z ini lebih memilih untuk menjadi Smarter than Better Looking! Alhamdulillah. Anak-anak ini akan mencoba menyelamatkan dunia demi manusia. Canggih, ya!

Setelah dipikir, walau apatis, tapi saya memang mendidik Menik untuk peduli terhadap lingkungan.Meskipun umurnya baru tiga tahun, Menik sudah mengerti tahapan cuci tangan yang benar seperti apa.

Saya juga selalu menunjukkan untuk membuang sampah pada tempatnya, dan jika melihat sampah di dekat kita sebisa mungkin sampah tadi dimasukkan ke tempatnya. Beberapa kali setiap saya meminta tolong Menik untuk membantu mengambil sampah kering yang terlihat berserak, orang pada bingung ngeliatin. Maybe they are clueless about this young mom who asked her toddler to pick up that garbage, or they just apathetic. Setidaknya saya tidak ingin menjadi apatis sampai tua, yang nantinya kalau lihat foto sampah berserakan hanya berkomentar “jorok udah biasa, susah mau diubah.. ” atau “Sudah biasaa…” tambahan dalam hati “yang penting anak gue nggak begitu” EEAAAAKKKK!! hahahaha, nggak ada harapan buat bumi kalau begini. Yang berpengetahuan tidak peduli dengan sekitar yang butuh bantuan ilmu untuk memahami bahwa soal sanitasi dan kebersihan lingkungan ini sangat penting untuk dijaga. Kalau semuanya apatis, mungkin film Wall-E akan jadi kenyataan. Hiiiii! Bumi isinya sampah doang, manusia udah pindah ke Mars. Curang, ya! Habis manis sepah dibuang :p

Anyway, kalau sekarang merasa tergerak, bisa dimulai dengan cara yang gampang, yaitu ikutan nonton film inspirasional #BrightFuture di situs www.projectsunlight.co.id. Setiap kali film ini disaksikan, Unilever akan menyumbangkan Rp.100,- yang nantinya akan digunakan untuk memperbaiki sanitasi di daerah Sumba, NTT. Lalu bagaimana dengan lingkungan sekitar kita sendiri? Well, if you do nothing then nothing will change. Mari mulai mencari, apakah masih ada daerah kumuh di dekat rumah. Kalau ada, mari dibantu warga sekitarnya untuk peduli terhadap lingkungan. Ada beberapa materi yang bisa diunduh juga di web Project Sunlight kalau butuh info bergambar untuk mempermudah penyuluhan. Untuk masa depan yang sehat, for the sake of our earth!

7 thoughts on “Apathy Can Kill Us

  1. I really loooove this post, Saz! Thank you for reminder.
    Secara gak sadar, saat kita menutup mata atas apa yang terjadi di sekeliling kita, kita jadi orang apatis. Apatis paling mudah adalah saat berhubungan dengan politik. *inhale exhale*
    Again, thank you for this reminder.🙂

    • Hahaha kalau soal politik, saya apatis sama linimasa FB. HAHAHAHA ampun, deh! Tapi kalau soal lingkungan memang sudah saatnya bangun, ya. Jangan di nanti-nantiin, keburu bumi gonjang ganjing hehe

  2. Pingback: Dosen Favorit : Selly Riawanti! | SAZQUEEN

  3. Apatis itu mungkin ada hubungannya juga sama karakter orang (mungkin Indonesia) yang sungkan menegur orang nggak dikenal even untuk sesuatu yang baik (contohnya buang sampah ditempatnya, jangan merokok di public area/merokoklah di tempatnya, antri donk dll).
    Biasa kaan kalau kita bermaksud baik ujung2nya malah dibilang norak, sok tau aturan, sok ini sok itu. Daripada “takut” dicap “norak” jadi milih jadi apatis, yang penting dirinya sendiri nggak kayak gitu.
    Yaa, jadi panjang deeh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s