Berimajinasi Bersama Barbie

Ketika masih kecil, saya mengoleksi Barbie. Ada tiga boneka Barbie perempuan yang saya beri nama Barbie, Barb dan Bie (hahaha nggak kreatif), yang berbeda warna kulit dan rambutnya, serta 1 Ken. Rumah, mobil, bahkan satu set restoran fast food yang saat itu sedang booming dan bekerjasama dengan Mattel pun saya punya. Biasanya saya akan bermain sebelum tidur siang. Saya akan sapa satu per satu, gantikan baju, dan main sebentar. Terkadang ketika mandi di sore hari pun saya ajak. Mungkin karena saya hanya memiliki satu adik laki-laki dan berbeda 5 tahun, maka saya terbiasa asyik sendiri ketika bermain boneka.

Tapi suatu hari, ketika saya sudah SMP, dan Barbie-Barbie ini hanya duduk manis di rak boneka, perangkat pelengkapnya pun sudah disimpan rapih dalam dus di gudang, ibu mengambil keputusan sepihak. Saat itu ada satu keluarga saudara yang memiliki anak perempuan usia 6 atau 7 tahun datang ke rumah. Tanpa meminta persetujuan saya, dua boneka Barbie sudah dipindah tangankan ke saudara saya, bahkan dus perlengkapannya juga sudah dikeluarkan dari gudang. Ketika baru masuk rumah sepulang dari sekolah, saya hanya menatap bingung ke ibu. “Kak, ini kan sudah tidak pernah dimainkan. Dikasih saja, ya, supaya tidak mubazir” begitu penjelasan ibu. Walau tentunya saya belum kepikiran untuk menurunkan koleksi Barbie ini ke anak saya nanti, tapi saat itu hati saya hancur. Kesal saja rasanya melihat perpisahan dengan Barbie tadi. Ya, nggak dikasih semua, sih. Masih ada satu Barbie dan Ken yang tetap berada di tempatnya. Namun, mangkel di hati tidak bisa dibantah.

Moving forward to 2011, saya melahirkan anak perempuan. Dan tepat di usianya yang ketiga bulan Oktober lalu, Menik mendapatkan hadiah Barbie pertamanya. Sebetulnya tidak ada rasa ragu untuk mengenalkan Barbie ke Menik, namun informasi seputar definisi cantik ala Barbie yang katanya bisa membuat anak menjadi krisis percaya diri dan menganggap perempuan cantik itu hanyalah yang berpostur seperti Barbie, membuat saya berpikir sejenak.  Pertanyaan yang kemudian muncul adalah “kenapa saya yang berkulit sawo matang dan memiliki rambut keriting tidak pernah merasa kurang percaya diri padahal saya main banget sama Barbie?” Kalau menurut versi ibu, sih, karena nilai kecantikan yang ditanamkan sejak dini. Bahwa manusia diciptakan berbeda-beda oleh Tuhan, hargai keberagaman. Makanya ada yang bilang cantik itu relatif. Lagipula di zaman saya main Barbie, sudah banyak ragam warna kulit dan jenis rambut. Coba lihat rangkaian Barbie Basics ini, deh.

Barbie1

*Gambar dari sini

Yang masih jadi bahan pikiran adalah body size-nya. Lagi-lagi saya bertanya pada Ibu, jawaban beliau “Ya namanya juga boneka, pasti dibuat bagus badannya. Kalau kamu mau punya badan bagus, harus sehat, dijaga gaya hidupnya.” Wah, realistis, kan? Intinya, semua berbalik pada konsep yang diajarkan pada anak.

Okesip, mari ajak Menik main Barbie.

Ternyata, pro-kontra “Bermain Bersama Barbie” ini terjadi secara global, sampai akhirnya Barbie membuat suatu project yang bisa menghasilkan senyum simpul setelah melihatnya, cek dulu deh:

Video #BarbiesDayOutID ini mengingatkan, kalau sedang bermain bersamanya, biarkan anak yang menunjukkan caranya bermain bersama Barbie, don’t tell them how to play with it. Dan ketika saya perhatikan, Menik memang selalu terlihat sibuk berbicara sendiri ketika bermain dengan dua teman pirangnya yang diberi nama Gina dan Lisa. Gina adalah Barbie yang memakai piyama hijau, ini dibelikan ayahnya ketika Menik masih berusia setahun (waktu itu masih saya simpan, tidak diberikan ke Menik, karena masih suka memasukkan barang ke mulut), saat ada temannya yang menjual di sebuah garage sale.  Sedangkan Lisa adalah Barbie keduanya yang rambut, bibir, dan kelopak matanya bisa berubah warna ketika digosokkan spons dingin. Dua Barbie ini adalah dua teman Menik yang paling sering diajak untuk berimajinasi,

WP_20141004_001

WP_20141004_009

WP_20141004_021

WP_20141004_015

Satu saat bisa diajak main masak-masakan, hari lainnya kedua Barbie diajak melukis, atau bisa juga tiba-tiba diajak duduk di bagian depan mobil kardus buatannya. Kemarin tidak sengaja, saya menemukan Menik sejak mengajarkan Barbie-Barbienya agar bisa mengenal nada. Iya, persis seperti saat dirinya berada di kelas belajar musik, Melodia. Menik memperkenalkan dua tanda Satu Ketuk dan Stop, dan bagaimana caranya ketukan tadi dimainkan dengan alat musik, kastanyet. Lucu sekali! Gayanya sok tahu, gitu, kan ya! Hahahaha, tapi saya juga senang, karena yang diajarkan ke Barbie ini benar semua, artinya kan anak ini mengingat apa yang ia pelajari di sekolah musiknya.

Imajinasi anak yang super ini juga memperlihatkan kalau Barbie bukan sekadar boneka yang bisa dimainkan sebagai boneka cantik. Barbie bisa menjadi pilot, perawat, guru, murid, bahkan teman untuk curhat. Pernah satu kali saya mendapati Menik ngobrol sama si Barbie “Ibunya sedih, loh, kalau Menik nggak mau makan. Barbie juga sedih nggak? Sedih, ya? Menik mau makan, kok. Meniknya sayang ibu, kok. Sayang Barbie juga..”🙂

Barbie2

Ada banyak cerita yang tercipta saat anak bermain bersama Barbie, dan imajinasi ini dibutuhkan dalam masa tumbuh kembangnya. Memainkan imajinasi ala Menik seringnya berupa role playing atau play pretend. Bisa menjadi sekumpulan sahabat yang berkumpul bersama, menggelar piknik, dan memperkenalkan beragam jenis alat masak, jenis bahan makanan, bahkan isi minuman yang ceritanya kami buat. Atau seperti yang saya ceritakan di atas, Menik memainkan peran sebagai guru, dan Barbie duduk sebagai muridnya. Tangan kecilnya sibuk membantu Barbie untuk memukul tamborin, dan di akhir sesi ‘kelas’, mereka bernyanyi bersama. Begini serunya Menik ketika sedang mengajar di kelas musik.

Seru, ya, imaginative play ini! Kadang kalau lagi serius memperhatikan, tanpa sadar, saya seperti ikut masuk ke dunia khayalnya. Saya jadi bisa mengetahui seberapa jauh daya khayal si kecil, dan apa yang bisa saya lakukan untuk bisa terus mengisi dan mengasahnya agar nantinya perkembangan metakognitif Menik bisa berkembang dengan baik. Eh, sudah dengar belum kalau beberapa waktu ini, Barbie sedang menggelar road show Barbie’s Day Out di beberapa mal di Jakarta. Untuk mendapatkan info lebih lanjut, bisa dilihat di Facebook Page Barbie ini, ya!

So are you ready to change the way you play with your kid and Barbie? Start supervising and stop directing! Selamat mewujudkan imajinasi bersama Barbie, ya!

3 thoughts on “Berimajinasi Bersama Barbie

  1. Menik cantik bangetttt….mau pelukkk :))

    Talking about Barbie, aku ada cerita jg nih, jd ada sahabat aku nikah dgn orang Afrika, jadilah anak mereka cenderung berkulit gelap dan berambut keriting mengikuti si ayah. And you know what, anak ini kan suka bgt jg sama Barbie, tp kl dibeliin Barbie yg kulit gelap rambut keriting dia gak mau, malah cenderung benci gitu, suka dibuang ngasal. Ahh aku mau yg pirang rambut lurus itu katanya.
    Nah lho, gimana tuh ya, entah apa pengaruh Barbie atau memang faktor kebetulan aja🙂

    • Hihii Thank you, Tante Feb!

      Waaahh!! Unik juga, nih. Anaknya usia berapa? Karena sejak ada DocMcStuffin, anak-anak berkulit gelap kabarnya lebih percaya diri dan mulai mau mengambil boneka dengan kulit berwarna. Tapi sebelum DocMcStuffin diciptakan oleh Disney Channel, ada penelitian yang menunjukkan kalau Barbie kulit putih adalah juaranya, dan memang ada kelompok anak kulit berwarna yang tidak mau memiliki Barbie yang tidak ‘original’🙂

  2. Seru deh bisa lihat mba saski dan menik main barbie. Aku sebenarnya suka dengan barbie, tapi aku punya semacam phobia gitu sama semacam barbie dan boneka susan. Dulu sempat di theraphy sama tanteku, sempat aku main boneka itu bareng teman2 Tk,,setelah lama tidak pernah main lagi aku di takut2in sama temanku dan adikku, jadi aku takut lagi sampe nangis2, kebawa di mimpi sampe teriak2, dan aku sedih banget. Aku sempat kepikiran gimana kalo aku punya anak perempuan dan dia senang barbie tapi ibunya sendiri takut sama boneka itu. Hikkss sedih deh mba. (maaf ya curhat).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s