Mendukung Bukan Berarti Buta

9 Juli 2014.

unnamed (4)

Hari ini saya memilih satu dari dua kandidat yang ada. Sejak memiliki KTP, saya selalu datang ke TPS untuk mencoblos. Entah mencoblos satu pilihan atau mencoblos semua kotak (baca: merusak kertas). Hari ini, saya memantapkan hati, menaruh banyak harapan kepada seorang yang akan memimpin negeri. Dari dulu setiap selesai memilih, saya selalu berpikir bahwa suara yang saya berikan adalah kekuatan untuk protes jika ada kebijakan yang tidak baik. Bahwa jika calon pemimpin yang dipilih kalah, saya tidak akan lepas tangan. Saya akan tetap protes jika ada hal yang tidak sesuai dengan pemikian dan hati nurani. Dan jika calon yang saya pilih kalah, saya tidak akan bilang “jika ada yang tidak baik terjadi, saya nggak ikut-ikut. Kan itu bukan pemimpin yang saya pilih!”

Kawan, ini bukan sekadar memilih dan jika yang dipilih kalah berarti tidak ada kontribusi dan pertanggung jawaban. Saya bisa mulai melek dengan keadaan negara karena saya sudah mencicipi rasa melahirkan seorang anak. Saya merasa bertanggung jawab untuk memberikan rasa aman yang layak.

Mendukung bukan berarti buta. Memberikan suara, bukan berarti menutup mata. Jika calon yang dipilih menang, berarti saatnya saya mengambil posisi bersebrangan agar bisa mengawasi dan mengawal.

Kepada calon Presiden RI periode 2014-2019, saya memiliki beberapa harapan yang mungkin dianggap sebagai printilan negara, seperti:

  • Seperti kebijakan untuk mematuhi regulasi WHO seputar pemberian ASI, agar tidak ada tenaga kesehatan yang menawarkan susu formula tepat sesaat setelah si bayi lahir.
  • Saya juga ingin skema kurikulum pendidikan diperhatikan. Terlalu berat jika si kecil yang mau masuk SD sudah dipaksa untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung. Terlalu berat jika setiap pagi harus menggeret tas berbentuk koper karena banyaknya hal yang harus mereka pelajari setiap harinya.
  • Saya juga ingin semua ibu hamil mendapatkan akses melahirkan yang nyaman dan gratis jika tidak mampu, dengan fasilitas yang sama dengan mereka yang membayar.
  • Hal yang sama seperti diatas juga saya tujukan untuk manula dan semua orang sakit di Indonesia.
  • Lanjut ke masalah anak terlantar. Negara mempunyai tanggung jawab yang jelas soal ini. Tolong perhatian dan benahi rumah singgah, berikan mereka makanan bergizi, agar kelak mereka bisa mendidik anak yang mereka lahirkan menjadi orang yang berguna. Ya, agar mereka tidak melahirkan generasi terlantar. Agar rantai turunan terlantar bisa terputus.
  • Saya juga ingin lembaga penyiaran bisa tegas menyaring tayangan televisi nasional yang bisa diakses semua kalangan. Memberikan tayangan bermutu is the least they can do to help Indonesia.

Sebetulnya masih banyak harapan lain seputar Public Information, Health Care, dan juga masalah transportasi. Tapi mungkin 6 hal tadi adalah hal yang paling sering menari dalam pikiran saya dan bertanya “kenapa Indonesia begini?”

Saya doakan, semoga siapapun yang menang, bisa menjalankan amanah rakyat. Dan sebaliknya, agar perubahan bisa terjadi, rakyat juga harus mau berubah. Tidak melulu menjadi bangsa bermental buruk, yang gemar disuapi dan malam bergerak, tapi bisa berubah menjadi bangsa dengan mental positif demi Indonesia yang lebih baik!

Happy election day, Indonesia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s