ASI Adalah Hal Yang Biasa

Tulisan saya untuk Mommiesdaily dalam rangka pekan menyusui sedunia. Idenya muncul ketika dari twitter @ID_AyahASI ada beberapa gambar dalam rangka peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Ditambah lagi rasa sebal terhadap penilaian negatif dan juga betapa banyaknya orang yang berusaha membangun pencitraan positif berkaitan dengan pemberian ASI. Kenapa begitu? Karena menurut saya, ASI adalah hal yang biasa saja. Happy #WorldBreastfeedingWeek2013πŸ™‚ Stop the negative judgments!
—-

Kenapa ASI Butuh Dukungan?

Saya masih ingat, ketika sedang hamil 16 minggu, saya curhat di notes FB. Ceritanya kesal karena membaca dukungan yang terasa mengintimidasi setiap anggota milis jika sedang drop masalah ASI. Tujuan awal ikut milis karena pastinya ingin sukses menyusui. Tapi di akhir masa kehamilan saya dan beberapa anggota keluarga merasa terkadang lebih banyak judging-nya dibanding support-nya. Mungkin ini hanya perasaan saya saja, karena ASI adalah hal yang biasa dalam keluarga besar kami. Jadi setiap membaca dukungan yang hawanya seperti menghakimi, saya seperti ingin komentar β€œDuh, iya deh, yang jago banget nyusuin anaknya!” x) *mind me, please!*

Iya, seperti yang saya pernah ceritakan, keluarga saya itu ASI banget, deh! Pokoknya kalau sudah hamil, kemudian melahirkan, selanjutnya adalah menyusui. Ada beberapa bayi di keluarga saya, termasuk si adik, tidak mendapat ASI karena ibu dari bayi-bayi tersebut stres. Ibu saya stres karena adik saya jaundice dan hampir harus tukar plasma darah, sehingga kerjaannya hanya menangis dan ya, ASI tidak keluar. Ada juga tante saya yang memang seorang working mom, tidak bisa meneruskan ASI-nya setelah 6 bulan menyusui, karena asisten rumah tangganya tidak mau mengikuti manajemen ASIP yang sudah diberikan. Bayinya bingung puting, separation anxiety, hingga akhirnya tidak mau menyusu sama sekali. Kombinasi antara load pekerjaan banyak dan anak tidak mau menyusu adalah perpaduan dinamis untuk membuat ibu tidak rileks, sehingga akhirnya ASI berhenti produksi. Sisanya, semua bayi di keluarga kami mendapat ASI hingga 2 tahun, bahkan lebih. Jika ada ibu yang tidak bisa menyusui dan ternyata ada anggota keluarga kami yang sedang menyusui, maka dapat dipastikan perempuan tersebut akan menjadi ibu susu bagi bayi yang tidak bisa mendapat ASI dari ibunya langsung. Jadi ya susu untuk bayi-bayi di keluarga kami hanya ASI.

Lalu kenapa sampai ada gerakan untuk mendukung ibu menyusui? Kenapa harus ada label Sarjana ASI buat bayi-bayi yang sukses disusui? Kenapa ada sekelompok ayah yang mau menyebut dirinya Ayah ASI demi mengajak (calon) ayah lainnya di seluruh Indonesia untuk menyukseskan pemberian ASI pada anak-anaknya? Padahal ASI adalah hal yang natural, kan?

1

Ternyata gempuran marketing susu formula ini sukses membuat ASI tergulung ombak. Ternyata ada oknum-oknum tenaga kesehatan yang masih tergoda dengan bonus dari perusahan susu formula jika berhasil menjual produknya. Ternyata di era 90-an, memang susu formula sempat menjadi tren dan didukung oleh iklan-iklan β€˜anak pintar’ yang sangat menjual. Hasil riset kompas.com yang kemarin menjadi tweet graphic dari @ID_AyahASI, membuat saya merasa sedih. Bagaimana mungkin hanya 15,3% bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan? Kenapa juga memompa ASI tidak dianggap penting sehingga 50% ibu harus memompa ASI di toilet atau kamar mandi kantor selama berada di tempat kerja? Ternyata hal-hal inilah yang membuat ASI membutuhkan dukungan (ulang) untuk memosisikan dirinya sebagai makanan pertama dan utama bagi setiap bayi yang dilahirkan. Untuk membuat ASI menjadi hal yang biasa dalam siklus hamil-melahirkan, seperti halnya susu formula yang sekarang menjadi hal biasa dalam hal menyusui.

Ketika masih hamil 16 minggu, saya memang merasa kesal membaca kalimat-kalimat yang menghakimi ibu-ibu yang gagal memberikan ASI. Tapi setelah 22 bulan menyusui, saya jadi tahu, ada banyak sekali ibu-ibu di luar sana yang tidak mendapatkan pengetahuan cukup soal menyusui. Iya, menyusui adalah hal yang natural. Semua ibu pasti bisa menyusui, tapi di era teknologi dengan gempuran informasi yang susah untuk dibendung, terkadang mana yang salah dan mana yang benar, suka menjadi kabur.

2

Belum lagi jika ternyata kita termasuk golongan ibu-ibu baru melahirkan yang susah menyesuaikan diri untuk bisa menyusui dengan posisi yang pas (termasuk saya!), siapa yang sangka untuk mengatur posisi menyusui yang katanya natural ini ternyata cukup menyulitkan sebagian perempuan? Bagaimana dengan fakta bahwa bayi baru lahir (dengan kondisi sehat) bisa bertahan 72 jam tanpa asupan apapun sambil menunggu ASI ibu keluar? Berapa banyak yang tahu ukuran lambung bayi baru lahir itu hanya sebesar kelengkeng sehingga belum membutuhkan susu ratusan mililiter? Berapa banyak yang tahu kalau cairan bening yang namanya kolostrum itu memang hanya sedikit keluarnya dan walau bening tapi justru banyak sekali manfaatnya? Berapa banyak yang tahu kalau kandungan ASI itu unik, mengikuti kebutuhan anaknya? Berapa banyak yang tahu, bahwa walaupun ibunya dalam keadaan kurang gizi namun akan tetap bisa memproduksi ASI jika proses menyusui terus berlangsung? Seberapa banyak yang tahu soal supply and demand ASI, sehingga jika kita terus menyusui, maka ASI akan terus produksi dan tidak akan habis kecuali kita berhenti menyusui? Dan seberapa banyak yang tahu kalau susu formula itu harusnya tidak dijual bebas dan harus menggunakan resep dokter?

3

Kalau sudah berbicara seperti ini, saya merasa seperti ASI NAZI. Tapi ternyata memang ASI saat ini membutuhkan dukungan untuk mereposisi keberadaannya. Ada banyak sekali mitos soal ASI yang menyimpang dan membuat ASI tersisih. Perlu diingat, awal keberadaan susu formula di tahun 1867 adalah untuk membantu bayi lebih sehat. Tapi 72 tahun kemudian seorang dokter asal Singapur menemukan bahaya susu formula yang bisa mengakibatkan kematian. Hingga pada tahun 1981, WHO mengeluarkan kode etik penjualan susu formula. Jadi marilah kita bergandengan bersama-sama untuk membantu ASI kembali menjadi hal yang biasa saja. Jadi tidak ada yang merasa terintimidasi dengan dukungan yang diberikan untuk setiap ibu menyusui. Kenapa bisa tidak ada rasa intimidasi? Karena itu tadi, ASI adalah hal yang biasa-biasa saja, sebiasa kita melihat iklan-iklan cantik dari produsen susu formula.

Saya, sih, ingin sekali suatu hari nanti dukungan ASI ini sudah tidak diperlukan lagi. Iklan susu formula sudah tidak ada. Tenaga kesehatan tahu bahwa semua ibu pasti bisa menyusui, sehingga tidak ada pertanyaan β€œmau ASI atau sufor, bu?”. Sehingga (maaf saya melakukan repetisi) ASI adalah hal yang biasa saja.

Selamat menyusui!

*Gambar dari twitter @ID_AyahASI

Tulisan asli ada di http://mommiesdaily.com/2013/08/22/kenapa-asi-butuh-dukungan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s