Because I Don’t Want To Feel Sorry

photo 1

Karena baca tulisan Miss Kepik di blognya soal kesempatan mungkin saja datang untuk kedua, ketiga, atau mungkin saja keempat kalinya, saya jadi ingin cerita bagaimana saya bisa meninggalkan dunia kerja di tahun 2011. Ini semua berawal dari jauh sebelum saya menikah, yang punya janji sama diri sendiri, untuk tidak menggunakan asisten ketika sudah punya anak. Alasannya apa? Ya, karena ibu saya juga begitu. Saya dan adik tidak pernah diurus nanny atau pembantu. Di rumah ada asisten rumah tangga, tapi kerjaannya ya bantuin Ibu beresin rumah, nyuci, nyetrika dan lainnya, bukan untuk menjaga kami. Asisten rumah tangga ini tidak ada yang menginap, dan datang hanya 2 atau 3 kali seminggu. Tambahan lagi, nih, setiap ibu yang berubah status jadi nenek dalam keluarga kami akan selalu berpesan “Itu anakmu ya, bukan anakku. Aku wes beres ngurusi anak, sekarang udah punya cucu. Maunya main sama cucu, bukan dititipin.” Aseemmmm! hahahahhaa..

Okay, kembali ke cerita saat ini, ketika saya hamil 2,5 bulan, dokter kandungan menyarankan untuk istirahat dirumah karena keadaan rahim terbalik dan pendarahan yang terlalu sering di awal kehamilan. Awalnya hanya cuti satu bulan, padahal status saya baru di perusahaan media tersebut. Ketika kontrol bulan berikutnya, dokter kembali menyarankan untuk cuti sebulan lagi demi kekuatan rahim. Akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri, nggak enak banget gitu rasanya, anak baru udah cuti 2 bulan. Jadilah saya menanggalkan status karyawan, dan entah mengapa saya punya keyakinan bahwa inilah awal hidup saya yang baru, tidak bekerja kantoran.

Long story short, saat ini saya masih bisa mempertahankan diri agar tetap ‘waras’, kok, walaupun hanya ‘di rumah saja’ setiap harinya. Susah dan berat sih, tapi bisaπŸ˜€ hehehe. Sejak punya anak, mau tidak mau semuanya memang harus berubah. Kasarnya, apapun keputusan dalam hidup, menurut saya yang baru punya anak selama 20 bulan ini, pasti ada saja pertimbangan soal anak yang menyebabkan perubahan, walau mungkin perubahan itu tidak berarti. Jangan tanya, deh, berapa kali saya curhat sama suami soal tidak pernah lagi ke salon untuk sekedar creambath atau duduk manis di kedai kopi kesayangan untuk bekerja dalam keheningan sejenak. Jangan tanya juga bagaimana rasa rindu jalan-jalan ke mall atau kabur ke pantai, atau malah nekat beli tiket liburan, yang sangat membuncah. Semuanya perlu perhitungan. Tidak hanya materi tapi juga waktu dan tenaga. Jadi memang tidak mudah untuk ‘hanya’ berada di rumah atau bersama-sama si anak setiaaappp hari. Betul kata mbak ajeng, it’s not that easy to take this kind of decision!

Salah satu mantra yang sering saya ucapkan jika rasa jenuh, bosan, atau kesal datang adalah because I don’t want to feel sorry. Iya, saya tidak mau merasa bersalah karena hal-hal kecil yang terjadi karena Menik tidak bersama saya. Saya akan lebih merasa bersalah jika Menik jatuh dari tempat tidur saat saya sedang tidak ada di rumah daripada kalau Menik jatuh dari tempat tidur ketika tidur bersama saya. Call me lame or obsessive, but I do feel a bit worry jika tiba saatnya Menik ‘hilang-hilangan’ karena mulai memiliki dunianya sendiri. Saya takut kehilangan Menik kecil yang sering membuat saya hilang kesabaran ini. She is an easy baby. Easy to laugh and smile, also easy to make me shout just because little things she did. Bagaimana mau sabar jika mau mandi saja tidak bisa berlama-lama jika Rino sudah pergi ke kantor atau Menik dalam keadaan sadar (baca: tidak tidur). Menik itu hobinya nggedorin pintu kamar mandi, dan kalau bisa duduk manis di dingklik kecilnya, ngeliatin ibunya beraktivitas di kamar mandi. Zzzz..

Saya sempat loh, mengambil pekerjaan sebagai markom di sebuah perusahaan ketika Menik memasuki usia 3 bulan. Kator tersebut menawarkan kelonggaran yang sangat enak untuk ibu menyusui tanpa asisten seperti saya. Bayangkan, saya hanya perlu datang ke kantor di hari Senin saat weekly meeting, sisanya bisa dikerjakan dari rumah. Datang ke kantor juga boleh membawa Menik, menyusui saat meeting pun silahkan. Kurang baik apa? Hehehehe. Tapi setelah setahun bekerja, saya yang merasa kurang maksimal. Saya tidak bisa konsentrasi jika sedang meeting karena Menik ada di mobil bersama ibu saya, misalnya. Atau beberapa deadline yang suka meleset sedikit karena saya ketiduran saat menyusui Menik di malam hari. Dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat saya merasa kurang maksimal dalam bekerja, padahal bos sudah memberikan kelonggaran maksimal. Akhirnya saya resign, dan memutuskan untuk (hanya) menjadi kontributor di sebuah situs parenting dan beberapa majalah gaya hidup, sebagai penjaga kewarasan untuk identitas diri pribadi.

SAHM1

Kemarin sore, saya, Menik, dan Rino duduk bertiga di sebuah kedai kopi. Ketika melihat saya membereskan gula yang dijatuhkan oleh Menik, Rino bilang “Sayang, it’s not easy to put yourself in this kind of shoes. Aku hormat banget sama keputusan kamu untuk mengurus anak kita tanpa bantuan, dan meninggalkan pekerjaan serta mimpi kamu saat ini. Insya Allah nanti tiba saatnya, ya, kamu bisa enjoy your own time tanpa harus mungutin gula seperti saat ini.

Terimakasih ya, suamiiii, Amin amin amin. Semoga aku nggak merasa bersalah di kemudian hari dengan keputusan-keputusan yang (ternyata) sering dianggap ganjil oleh banyak pihak iniπŸ˜€

*gambar dari path temen :))

6 thoughts on “Because I Don’t Want To Feel Sorry

  1. Kemarin sore, saya, Menik, dan Rino duduk bertiga di sebuah kedai kopi. Ketika melihat saya membereskan gula yang dijatuhkan oleh Menik, Rino bilang “Sayang, it’s not easy to put yourself in this kind of shoes. Aku hormat banget sama keputusan kamu untuk mengurus anak kita tanpa bantuan, dan meninggalkan pekerjaan serta mimpi kamu saat ini. Insya Allah nanti tiba saatnya, ya, kamu bisa enjoy your own time tanpa harus mungutin gula seperti saat ini.”

    Bagian ini bikin sedih gak karuan, ka!

  2. Hihihi… can’t agree more baca judulnya… apes-apes anak gw nanti gedenya bejat, gw nggak perlu ngebatin dalem hati, “Ah, andai dulu lebih banyak merhatiin dia, mungkin jadinya nggak begini…”πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s