Tiga Bulan Tanpa Pospak

Gara-gara tweet @Journalin yang nyebutin soal kebutuhan popok sekali pakai alias diapers atau biasa disebut pampers (padahal itu merk,macam odol, softex, etc haha) yang angkanya bikin tercengang baik dari segi jumlah sampah yang ama tercipta, kebutuhan si bayi itu sendiri, sampai tentunya jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membelinya, saya jadi pengen cerita soal penalaman tiga bulan tanpa si diapers ini.

Awalnya, saya emang gak tau, kalo disposable diapers itu adalah salah satu kebutuhan ‘pokok’ ketika memiliki bayi. Karena memang, lagi-lagi, di keluarga saya, terbiasa memakai pospak hanya ketika pergi keluar rumah. Sisanya, kami terbiasa dengan dipipisin si bayi ketika menggendongnya atau ya, ada ompol di lantai ketika bayi mulai merangkak dan dalam proses toilet training. Dan ternyata, inilah yang membuat bayi-bayi di rumah kami sudah lulus toilet training paling lambat usia 14 bulan! THAT IS AWESOME! dan saya juga jadi ambisius, pengen Menik lulus toilet training secepat itu :p

Kembali ke cerita si Menik, saat hamil, saya terlalu sibuk mencari dan menyicil CLODI atau cloth diaper atau popok kain modern. Saya tau soal clodi ini karena baca tweet dan blog misskepik. Pas saya hamil juga, saya tertarik. Satu, saya anaknya emang udah go green banget dari kecil! hahahahaha. Norak ya? Tapi serius, almarhum Bapak itu bencinya setengah mati sama orang yang buang sampah sembarangan, listrik juga irit bener, mobil juga dirawat yang bener emisinya, gitu deh pokoknya. Akhirnya saya terdidik jadi orang yang ramah lingkungan, and this is why I love clodi. Ternyata, di dunia ibu-ibu yang kejam ini, pilihan untuk pake clodi-pun, bisa jadi bahan nyinyiran. Ya udah lah yaaa x)) Saya tetep berburu si Clodi, yang ternyata banyak jenisnya dan sangat beragam harganya. Mau import atau lokal, mau yang pake prepet atau kancing, mau yang bermotif atau polos, mau yang all size atau ada size nya sesuai berat bayi, dan seabagainya! Jadi akhirnya di bulan kelahiran Menik, saya sudah punya 10 clodi, 3 lusin popok kain, serta 6 buah celana dalam bayi. DAN NOL STOCK POSPAK. Bahkan browsing harga aja, enggak. Entahlah, saya seperti punya keyakinan, saya bisa seperti ibu dan tante-tante saya soal pemakaian pospak haha.

SONY DSC

17 Oktober 2011, Si Sasikirana lahir. Di KMC juga suster-susternya tidak ada yang memberi info soal pospak, hal ini terkait dengan pemberian ASI Eksklusif, pipis si bayi bisa dipantau dengan mudah dan akurat jika menggunakan popok kain biasa, ini untuk mengukur kecukupan ASI. And you know what? Bayi baru lahir ini harus pipis minimal 6x dalam 24 jam. Kalo bayinya termasuk penyusu kelas berat, bisa lebih dari itu. Seru beneeerr ya kehidupan ibu baru :p dan ketika sudah pulang dari RS pun, saya di rumah berjibaku dengan nyusuin, gendong, ganti popok. Begitu terus. Suami membantu dengan mencuci semua popok basah dan kotor yang udah nangkring di pojokan kamar mandi setiap malam. Paginya, ketika jemuran kering, saya menyetrika. Begitulah siklus hidup saya.

Seminggu setelah lahir, Menik harus kontrol ke dokter. Saya tidak punya pospak di rumah. Ada clodi dari Mothercare ukuran newborn yang akhirnya dikenakan oleh Menik. Tapi kan saya masih kurang pengetahuan, gak tau kalo at least I have to bring 3 clodi with 6 inserts kalo bepergian dan itu maksimal hanya 6 jam diluar. Jangan lupa harus bawa juga wetbag untuk menyimpang clodi yang sudah basah. Jadilah hari itu, di KMC saya kepaksa beli muslin square mothercare (cuma ada counter MC, bok, di KMC)Β  dan peniti besar untuk mengganti clodi yang sudah basah karena kelamaan antri dokter. Di apotek KMC juga gak jual pospak, jadi ya, mau gak mau, harus jajan di MC aja judulnya.

Beberapa kali juga saya pergi dengan Menik hanya pakai celana dalam. Dilapisi baju atau bedong sekalian, dan kalau basah, ya, saya ganti saja. Kejadian Menik pipis ini berlangsung beberapa kali, di fX, PIM, PS, dan seringnya di KMC hahhaa, dan sayanya santai karena memang tidak punya pengetahuan soal pospak. Kalau lagi jemur pagi, semua ibu-ibu di halaman bawah tower-tower Kalibata City, menjemur anaknya dengan pospak, Menik sih pake popok kain atau Clodi. Makanya cucian saya beneran seabreg-abreg karena Menik termasuk heavy wetter setelah jago nyusu, walaupun yang sampai detik ini masih menjadi misteri adalah Menik tidak pernah pipis kalau lagi tidur. Pasti pipisnya kalau sudah bangun dan dalam keadaan sadar. Dan ini harusnya yang saya perhatikan, jam Menik pipis, agar proses toilet training bisa berlangsung. Tapi, lagi-lagi namanya masih belajar jadi ibu, saya cuek aja, dan lebih sibuk sama urusan menyusui serta urusan cucian numpuk. Oh ya, selama masih pakai popok kain atau celana dalam saja, perlak dan kain alas adalah sahabta baik saya hahaha.

Suatu hari, kami membicarakan soal trip ke Bandung. Jadi, Rino ada event di Semarang, dan saya gak mau di Jakarta berduaan aja. Akhirnya ke Bandung adalah solusinya, teknisnya, Rino berangkat ke Bandara by taxi dan saya dijemput orang tua saya di Kalibata. Karena akan melakukan perjalanan naik mobil yang cukup panjang untuk ukuran bayi, maka akhirnya saya menitip Ibu untuk membeli dan membawa pospak waktu menjemput saya dan Menik. Inilah pertama kalinya Menik kenalan sama pospak. Sejak saat itu, saya jadi candu sama pospak tapi gak suka sama momen bayar pospak di kasir, hahaha. Jadilah saya memakai Clodi jika di rumah, pospak dipakai pada malam hari dan ketika bepergian.

Urusan popok sekali pakai dan popok kain modern memang tidak ada habisnya. Di satu pihak, siapa sih yang tidak mau menyelamatkan bumi demi masa depan anak-anak, tapi di lain pihak, kepraktisan popok sekali pakai dengan potensi sampah sulit diurai yang menumpuk juga sangat membantu kegiatan ibu dan anak. Apapun pilihannya, saya yakin, setiap ibu mau memberikan yang terbaik untuk anaknya. Eh tapi, harus saya akui, penggunaan popok kain dan clodi ini betul membantu penghematan ketika belanja bulanan. SERIUS!

Nah, biasanya sih, akhirnya toilet training kalau anaknya alergi sehingga diaper rash atau terserah Infeksi Saluran Kencing (ISK) sehingga harus melepaskan diri dari popok sekali pakai. Keuntungan bagi Menik adalah hingga saat ini, Menik tidak pernah kena yang namanya diaper rash, karena memang area vitalnya selalu dalam keadaan kering. Kemarin sempat demam, yang bikin saya khawatir, ia terserah ISK pun tidak terbukti, karena lagi-lagi, higienitas genital Menik, insya Allah, selalu bisa saya jaga. Eh PR saya masih panjang nih, Menik belum mulai toilet training, padahal usianya sudah 17 bulan hahhaa.. Tunggu Menik lancar ngomong deh biar gampang komunikasi (pembenaran)πŸ˜€

Jadi ibu-ibu, siapa disini yang masih setia sama popok kain, at least sampe anaknya udah gak masuk dalam umur newborn?πŸ˜€

One thought on “Tiga Bulan Tanpa Pospak

  1. Pingback: The Disposable Diapers | SAZQUEEN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s