15 Oktober 2012

Setahun yang lalu, 15 Oktober 2011, Sabtu. Apa yang terjadi? Saya bersih-bersih sarang kecil kami di Kalibata seperti biasa. Mengepel lantai dalam posisi jongkok juga tidak lupa. Jalan pagi sambil beli bubur ayam di seberang jalan, kemudian si abang penjual bubur bilang, “Waaa, udah besar banget hamilnya. Bentar lagi melahirkan nih pasti! Yang lancar ya, Neng!” Saya menjawab “Aamin!” sambil mengelus perut dan berkata dalam hati “Tuh, Nak! Tukang bubur aja udah gak sabar mau lihat kamu haha!”

Setahun yang lalu, setiap pergi pipis, pasti tidak langsung pencet flush karena mau lihat apakah ada air berwarna lain yang ikut keluar alias si ketuban atau tidak. Tapi nihil! Berulang kali saya sms dokter menanyakan seperti apa sebetulnya rasa ketuban pecah itu, berulang kali pula saya mendapat jawaban, kalau air ketuban itu unik, dan tidak bisa ditahan keluarnya. Jadi pasti saya akan tahu jika si ketuban pecah.

Setahun yang lalu, terjadi perut terasa kencang (yang ternyata namanya kontraksi) sekitar 30-45 menit sekali. Berulang kali pula saya sms ke dokter nanya kenapa perutnya kenceng melulu. Dan berulang kali saya dapat jawaban, soal kontraksi dan soal saya harus mengatur nafas, dan memperhatikan durasinya. Oh, berulang kali pula, Pak dokter bilang “Ke rumah sakitnya kalau sudah 2x dalam 10 menit ya!”

“Nak, kalau memang sudah siap, kasih tanda ke ibu yang jelas ya. Ibu nih kurang peka. Takut telat ke rumah sakitnya”

15 Oktober 2011. Satu tahun yang lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s