(Hampir) Setengah Perjalanan

Apanya yang baru mau setengah jalan? Ini loh, menyusui Menik. Iya, hari ini Menik berusia 10 bulan 18 hari. Belum 1 tahun, belum setengah jalan kan? Gimana rasanya nyusuin? SERU!

Gimana gak seru kalo ternyata dunia menyusui itu penuh dengan intrik, semacam sinetron-sinetron kejar tayang *zoom in zoom out*. Pelaku dramanya? Ya, ibu-ibu itu sendiri! hahaha.. Saya sebisa mungkin, tidak mengeluarkan justifikasi soal pilihan menyusui ini. Karena dari dulu, lingkungan keluarga saya ‘biasa’ saja sama yang namanya ASI. Saya juga kena ‘cuci otak’ soal kodrat perempuan, bahwa kodratnya adalah hamil, melahirkan, dan menyusui. Jadi kalo udah hamil, mau gak mau harus melahirkan, abis gitu lanjut nyusuin. Jadi menyusui itu benar-benar hal yang biasa saja.

Eh ternyata saya salah. Menyusui itu bukan hal yang biasa yang bisa dilakukan dengan modal insting saja. Saya harus belajar bahwa:

  1. Bayi baru lahir bisa puasa 72 jam tanpa cairan, namun sebaiknya 2 jam sekali dirangsang untuk mulai menyusu.
  2. Menyusu itu di aerola bukan di puting dan pelekatan harus sempurna agar menyusunya maksimal.
  3. Ada masalah menyusui seperti: puting rata, tounge tie, kuning, dan sebagainya.

Bagaimana drama saya melewati pelajaran-pelajaran soal menyusui ini? Penuh linangan air mata! Menik dinyatakan kuning, karena kurang ASI. Anaknya tidur melulu (yang waktu itu saya syukuri, karena sejujurnya waktu itu saya masih merasa kikuk menyusui di depan banyak orang) dan akhirnya kena deh, breastfeeding jaundice. Lanjut ke masalah pelekatan, nursing instinct saya ‘NOL’, jadi susaaaaaaaaaaahh banget mau cari posisi pelekatan yang benar. Ditambah tounge tie, akibatnya puting berdarah dan payudara bengkak jadi teman sehari-hari selama 3 bulan pertama.

Mari mengucap syukur Alhamdulillah, karena saya mendapatkan dukungan untuk terus mendapatkan ASI. Pengetahuan dari sharing para mommies di www.mommiesdaily.com sampai dukungan dari keluarga dekat. Dukungan dari keluarga yang menganggap ASI adalah hal yang ‘biasa’ ini sebetulnya dalam kalimat negatif seperti “Nyusuin emang gitu, jaman dulu ada yang sampe putingnya mau putus” OUCH! atau “Kamu kok susaaaaaaaaahh banget sih mau nyusuin aja, cari posisinya yang bener dong, itu anaknya kayak gak nyaman gitu deh!” DOUBLE OUCH! dan masih banyak lagi. Akhirnya sebagai capricornus yang gengsi-an, saya memakai kalimat-kalimat yang merendahkan saya itu sebagai cambukan aga saya cepat belajar mencari celah supaya bisa menyusui.

Sekarang sih saya bisa berlaku ‘biasa’ seperti anggota keluarga saya lainnya. Iya, saya sudah menikmati proses memberikan ASI ini. Saya sudah bisa memberikan ASI dimana saja kapan saja, tanpa harus ribet dengan apron, atau baju berkancing depan. Nyusuin sambil pake kaos? Gak masalah. Nyusuin sambil weekly meeting? Bisa! Bahkan saya suka ngebayangin, gimana ya rasanya kalo udah harus nyapih nanti? Huaaaaaaa!!

Perjalanan menyusui saya memang baru mau sampe setengah perjalanan, tapi saya yakin banget kalo menyusui itu memang hal biasa dan patut untuk diperjuangkan. Yes! It’s worth fighting for!

2 thoughts on “(Hampir) Setengah Perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s