uhuk uhuk pertama

“Ya Allah, tolong pindahkan sakitnya ke saya saja”

Kalimat ini selalu keluar dari mulut ibu, ketika melihat saya atau adik saya jatuh sakit. Biasanya reaksi saya dalam hati adalaahh “yaahh ibu aneh bangett, masa sakitnya kakak minta dipindahin ke ibu?” Tapi kemudian saya merasakan sendiri keinginan untuk ‘ketimpaan’ penyakit di hari ketiga setelah melahirkan Menik. Ketika Menik mau saya gendong karena menangis, tangan saya seketika tahu bahwa suhu tubuhnya meningkat. Ketika diukur, sampai 38 derajat celcius T____T galau saya langsung. Bahkan ketika ob/gyn saya visit, beliau langsung bilang “Eh, kenapa Saz? Kok cemas mukanya?” Pas saya bilang, anak saya panas, dr. Ridwan menenangkan “tenang aja, anak kamu itu sehat kok pas lahir. Air susu lancar? Susui terus ya!” #KemudianSenyum :p

Kemarin ketika usianya masuk di 2 bulan 2 minggu, tiba-tiba saya mendengar suara “uhuukk uhukk uhukk..” dari mulut Menik. Oo ooww, here comes trouble. AAAA Menik batuk!! =( Ditambah lagi nafasnya yang masih bunyi grok grok, makinlah saya panik dalam hati. Di luarnya sih saya tetep senyum ke suami sambil bilang “Gak apa-apa sayang.. mudah2an ASI ku cukup buat bikin Menik sehat dan matahari terus bersahabat jadi bisa jemur setiap hari” Padahal tiap menit saya BBM ke ibu nanya A B C D E F G! heuheuhee…

Kenapa saya khawatir? Karena setiap kontrol ke dokter, saya selalu mendapatkan jawaban, “Sehat nih bu Anaknya, perkembangannya bagus”. Jadi mental saya gak siap buat denger suara batuk yang keluar dari mulut kecilnya. Akhirnya jawaban “Gak apa apa kak, manusia tumbuh ada masa sehat dan sakit kan..” Ditambah jawaban dari DSA (via bbm) saya yang bilang “Selama tidak sesak nafas, tidak perlu bawa ke dokter ya, bu. Jemur dan susui lebih sering saja, kalau batuknya bertahan lebih dari seminggu baru dibawa. Kalau ingin oleh balsam, boleh beli transpulmin bb. Oles di dada dan punggung (jika pilek) atau cukup di bantal dan bajunya”.

Jadilah saya men-suggest diri, bahwa ASI saya akan bisa menyembuhkan Menik, dan lucunya Menik langsung lebih sering menyusu (entah itu nutritive suction atau in-nutritive) dan bisa langsung tidur. Sepertinya bayi saya cukup pintar untuk mengetahui cara mengembalikan kebugaran tubuhnya. Nah, hari ini frekuensi batuknya mulai berkurang. Saya mulai kembali percaya diri bahwa saya bisa merawat anak saya. Saya juga melakukan terapi uap (air mendidih, tuang di baskom dan tetesin minyak kayu putih. Baskomnya taro di kamar Menik, uapnya biar bisa dihirup). Walaupun saya bilang, nursing instinct saya NOL, tapi dengan melihat Menik selalu tertawa dan tersenyum bahkan mulai menyambut omongan saya dengan ocehan lucunya, Insya Allah saya bisa merawat titipan Allah yang belum ada dayanya ini.

Cepet sembuh yaaa Menikkuuuu! Ibu sayang Menik! mwaaah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s