Drama Tounge Tie & Menik

Waaah Menik udah 40 hari! haha Alhamdulillah.. Kadang-kadang saya masih suka ngerasa, ini mimpi kayaknya. Gimana mungkin, saya sudah melalui proses melahirkan seorang anak dan sekarang udah mau sebulan lebih ngurusin makhluk mungil yang baru bisa berkomunikasi lewat suara tanpa kata dan tangisan tentunya.

Banyak sekali pelajaran yang saya pelajari bersama anak saya, si Menik. Dari mulai belajar mengganti popoknya, adjusting schedule hidup 24 jam, sampai belajar sabar tentunya. Salah satu pelajaran sabar ini muncul ketika saya harus menyusui. Ya, bayi mungil ini bergantung hidupnya pada Air Susu Ibu. Selama 6 bulan pertama, Menik hanya akan mengkonsumsi air yang isinya sudah dibuat sedemikian rupa oleh sang maha pencipta sehingga bisa membuat dirinya kenyang sekaligus terpenuhi nutrisinya. Dan semenjak awal kehamilan, saya sudah berjanji pada diri saya, bahwa sebisa mungkin saya akan memenuhi hak anak saya untuk bisa mendapatkan ASI selama 2 tahun.

Tapi nyatanya, keinginan saya ini tidak semudah yang saya bayangkan. Tadinya saya pikir, menyusui itu sekedar buka bra kemudian menyilahkan si anak untuk menghisap airnya, as easy as snapping fingers, dan toh ada yang namanya naluri. Tapi ternyata ada proses penempelan mulut bayi dengan payudara, menyusui itu bukan di puting tapi di areola, sampai posisi bayi agar hidungnya tidak tertutup ketika menyusui. And to the hell with nursing instinct, mine is zero. Totally. Hahahaa.. Beruntung saya berada di rumah sakit yang pro ASI, sehingga dari awal sudah melakukan proses IMD kemudian saya rooming in dengan si bayi, mau gak mau emang harus sekamar, karena di KMC Hospital tidak ada kamar bayi. Konon kabarnya, rooming in ini akan mempermudah proses menyusui, dan juga memacu produksi ASI. Tapi saya termasuk yang kurang lancar prosesnya.

Diawali dengan meningkatnya suhu bayi di hari ketiga hidupnya, sampai 38,9 derajat, dan terindikasi kuning. Payudara saya membengkak karena ternyata anak saya tidak bisa menghisap dengan baik, dan dokter laktasi bilang saya termasuk golongan orang-orang berputing rata sehingga kemudian diberikan nipple puller dan juga breast shield, untuk membantu proses menyusui. Karena keadaan darurat, saya harus memompa untuk kemudian diberikan ke anak saya dengan menggunaka feeder cup. Rasanya meres gimana? SAKIIITT!!! Dalam keadaan nol pengetahuan soal memijat dan memerah payudara, saya harus menahan sakit yang luar biasa. Alih-alih ternyata harusnya gak kayak gitu, harusnya tidak usah dipaksa keluar banyak karena yang dibutuhin si bayi cuma sedikit juga. Dan pihak rumah sakit juga tidak memaksa supaya banyak, seadanya aja, yang penting tiap 2 jam sekali disusu, dan juga mengingatkan untuk siap-siap mencari donor ASI apabila ASI saya tidak mencukupi kebutuhan si bayi. Apa yang kemudian saya rasakan? Frustasi, cemas apakah saya bisa memberikan ASI untuk anak saya atau tidak. Dan sejuta pertanyaan yang ujungnya adalah : BUSET DEEEHHH SUSAHAN NGASIH SUSU DARIPADA MELAHIRKAN KEMAREEENN.. T________T

Ketika diperbolehkan pulang, saya masih dalam keadaan setengah percaya diri, bisa menyusui anak saya. Tapi kemudian kepercayaan diri itu merosot sedikit demi sedikit, karena anak saya frustasi berat kalo harus menyusu langsung, tidak pernah latch on dengan sempurna (kepalanya geleng-geleng kanan kiri kayak lagi marah-marah), berdecap-decap dan juga berdurasi lama (bisa sampai 2 jam lamanya tiap menyusui). Padahal menyusui normal itu, menempel dengan baik, tidak berdecap, dan hanya memakan waktu 20-40 menit. GOSH! Puting lecet pun menambah rasa frustasi tadi, sehingga akhirnya saya lebih memilih untuk memerah dengan tangan dan memberikas ASI via feeder cup.

Rino yang Alhamdulillah sangat sabar dan selalu memberikan semangat kemudian menyarankan saya untuk ke klinik laktasi di rumah sakit tempat saya melahirkan. Setelah konsul, ditemukanlah indikasi tounge tie pada si Menik. Tounge tie adalah kondisi tali selaput bawah lidah pendek. Sehingga susah untuk bisa melakukan pelekatan dengan sempurna dan juga berpotensi menjadi anak cade (faktor genetis juga menentukan, di kasus saya, Rino-lah yang cadel)l.

Ciri-ciri utama tounge tie adalah susah latch on dengan baik, lidah pendek (kalau melet tidak melewati gusi bawah), dan ketika menangis lidah seperti membentuk heart shaped. Tounge tie ini ada 3 tipe. Tipe pertama yang bisa bikin puting ibunya berdarah-darah, ibunya demam tinggi, bahkan sampai pingsan, tipe kedua yang biasany gak bikin ibunya pingsan, tapi tetep lecet berlebihan dan bisa bengkak juga payudaranya, dan tipe 3 yang paling ringan, tali selaput bawah lidahnya tidak terlalu pendek sehingga bisa diatasi dengan belajar melakukan perlekatan dengan sabar. Menik termasuk tounge tipe 2, sehingga harus dilakukan frenotomi, atau pemotongan tali selaputnya. Ngeri ya? heuheuee.. yang melakukannya adalah dr. Asti Praborini di KMC. Tidak masuk ruang operasi, hanya di ruang dokter anaknya saja. Walaupun judulnya dipotong, prakteknya adalah menggunakan gunting kecil, hanya sekitar 15 detik, kemudian Menik langsung ditempel ke payudara saya. AJAIIIBB! Menik bisa nyusu dengan baik dan pendarahannya langsung berhenti karena kena ASI. Menik diinsisi 2 kali, karena setelah insisi pertama berat badan Menik masih turun dan menyusunya masih berdecap kencang. Setelah diinsisi kedua, bunyi decapnya berkurang drastis, dan Menik bisa menempel dengan mudah.

Alhamdulillah, sekarang berat Menik sudah 4090 gram. Menurut dr. Asti, kenaikan beratnya sudah sangat baik. Sayapun sejujurnya sudah tidak merasa takut lagi menyusui. Karena sebelum dilakukan frenotomi ini, saya takuuuttt sekali menyusui Menik, terutama di payudara kiri yang sudah lecet habis-habis-an. Rasanya kayak mau nyusin anak harimau.. hahaha sakit bangeett, soalnya. Drama tounge tie ini jadi pelajaran pertama dalam hal menyusui yang ternyata tidaklah mudah sodara-sodara. Diperlukan banyak pengetahuan supaya tidak merasa terintimidasi oleh keadaaan sekitar perihal menyusui ini.

Hauuhhh, motherhood isn’t easy. Being a mother is goddamn hard job. Hahaha.. Bismillah, semoga saya bisa jadi Ibu yang baik buat Menik. Ayah Rinoooooo… mari kita bekerja sama! hahaha..🙂

3 thoughts on “Drama Tounge Tie & Menik

  1. Halo mba, anakku yg bru 16hari jg tnyt tonguetie.. Stelah incisi si baby emang jadi rewel n maunya mimi terus yah? Bayiku ga smpe 15 menit hbs nyusu bngun n minta minum lg stlh pulang hbis incisi..malah jd kawatir..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s