Saat Ini Cukup Satu

Harusnya tulisan ini saya naikin pas lebaran kemarin. Jadi kalau ada pertanyaan “kapan Menik dikasih adek?”, bisa langsung kasih link blog. Lumayan naikin traffic, kan? 😜

Anyway, mungkin karena Menik sudah mau 5 tahun, dan hari ini resmi berstatus sebagai anak TK, saya pun secara resmi mulai mendapat pertanyaan tentang kapan adiknya Menik diluncurkan.

Terus terang saja, saya rindu hamil. Saya pernah menulis soal rasa kecanduan hamil di sini. Menurut saya masa kehamilan selama 40 minggu itu sungguh ajaib dan menyenangkan. Mengurus bayi baru lahir (kecuali masa adaptasi menyusui) juga terbilang biasa saja. Iya, pasti capek. Tapi senang.

Tapi saya belum rindu untuk membesarkan lagi. Hahahahaha! Jelas ya, jawabannya! Mengurus bayi dan balita itu beda. Belum nanti kalau memasuki masa SD, terus remaja, lalu kuliah… Haduh!! *nggak mau ngebayangin*

Hidup kami saat ini sedang dalam masa gemas menghadapi balita yang hobi berargumen, mencoba membantah, bertanya super detail, dan mencari penjelasan paling logis menurut pikiran si balita tentang hal-hal yang terlintas di otaknya!

Membesarkan anak, butuh tanggung jawab yang besar. Butuh kesabaran yang panjang. Butuh persiapan finansial yang matang. Mimpi saya terlalu banyak untuk si anak, dan saya sadari, kemampuan kami sebagai orang tua baru sebatas satu anak. Ya memang, ada yang bilang, rezeki setiap anak itu berbeda. Saya tidak memungkiri hal ini. Nenek saya bisa membesarkan 8 anak, tanpa suaminya yang sudah meninggal dunia, sendirian. They survived. So no, I have no doubt about it. Tapi menurut saya dan suami, kami perlu mengatur rezeki yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Kami perlu merencanakan pendidikannya. Kami perlu menyiapkan masa depannya.


Membesarkan nyawa spesial dari sang maha pencipta juga membutuhkan ketenangan diri sendiri. We’ve heard “happy mom happy kid” a lot, right? Dan indeks kebahagian orang itu berbeda-beda. We can not compare and compete to each other.

Jadi, sampai saat ini, cukup satu anak dulu, ya. Nggak perlu manas-manasin dengan bilang “kirain umurnya udah 40, makanya anaknya satu doang!” Hehehehe. Biarlah keputusan soal anak ini menjadi urusan saya, suami, dan hitungan rezeki dari Allah SWT. Karena kalau memang Allah SWT berkehendak, maka IUD yang terpasang di rahim saya ini pun tidak akan menjadi halangan bagi pemilik alam semesta yang maha kuasa untuk menitipkan ruh di tubuh saya.

*Senyum Lebar*

Menggambar di Dinding RHVCF – Bandung

Di bulan puasa kemarin, dua orang volunteer Pustakalana, Okky dan Chike mengunjungi Rumah Harapan VCF, di daerah Sukagalih, Bandung. Rumah ini adalah rumah singgah bagi anak-anak penderita kanker. Singkat cerita, setelah kegiatan seharian di sana, Chike mengusulkan untuk menyumbangkan mural di dinding rumah tersebut agar lebih berwarna dan bisa memicu rasa senang dan semangat anak-anak yang tinggal di sana.

FYI, Chike adalah seorang volunteer di Pustakalana. She has that kinda energy that can make us feel her excitement. Sehari-harinya, Chike adalah seorang ilustrator. Karyanya bisa dilihat di http://chiketania.wix.com/chiketania :)

chike

Hai Chike!!

Chike memulai pergerakkan dengan membuat list relawan yang mau terlibat membantu. Setelah itu membuat gambarnya, dan akhirnya mengeksekusi si mural. Hal yang paling menyenangkan adalah Chike mengizinkan anak-anak kami untuk ikut terlibat menghias si tembok.



Saya mengambil hari Selasa bersama Yasmin, Anya, dan Okky. Ketika sampai di sana, muralnya sudah setengah jadi. Ada sedikit trouble dengan infocus, dan akhirnya Chike menggambar manual di dinding. Tadinya si gambar sudah ada di laptop dan tinggal ditembak menggunakan infocus, jadi ada pola yang bisa diikuti. Tapi akhirnya nggak ada masalah, karena Chike memutuskan untuk menggambar langsung.


Hal yang paling bikin gregetan adalah niat baik si balita mewarnai gambar yang sudah dibuat tante Chike. Niat baik tentunya ingin mewarnai dengan bagus, but  we had to maintain our expectation, right? Anak-anak ini terlalu semangat jadi banyaknya keluar garis dan ngeblok cat x)) But worry noy, because we have Tante Chike to the rescue!


Targetnya 5 hari, tapi ternyata di hari keempat sudah selesai. Dan ketika melihat hasilnya, saya bahagia. Semoga kebahagiaan ini juga bisa dirasakan mereka yang tinggal di Rumah Singgah tersebut. Semoga bisa menambah kekuatan melawan penyakit, dan bisa lekas sembuh.

rhvcf

Tentang Rumah Harapan VCF, bisa cek di sini.

Jl. Sukagalih 2 No.96 – Sukajadi, Bandung

EmailRumahHarapanBdg@gmail.com

Twitter: @RHVCF_Bandung

Facebook Page: Rumah Harapan VCF Bandung

Instagram: @rhvcf_bandung

Knowing is Better Than Wondering

Kata pemeran utama serial tv kesukaan saya :

Half of my July was actually a crap. Invoice nggak cair-cair. Yang ditagih, seperti tidak punya itikad baik buat menyelesaikannya. Jangankan pelunasan, permintaan maaf aja nggak terucap. Pas kemarin ditanya di sosial media, malah ngambek, dan seperti mengancam akan menuntut balik. Emang gitu, ya, kalau sudah punya salah, pasti ujungnya ngegas balik. Sudah salah, malah marah.

Ada satu kejadian nggak enak juga yang menimpa saya. Nah, kalau yang ini bikin capek hati. Saking capeknya, jadi bingung mau ceritanya juga.

In the end, I just need to repeat “even the biggest failure, even the worst, beats the hell out of never trying” mantra. Terpenting, saya sudah merasa melakukan kewajiban saya dengan maksimal, namanya hidup, ada kegagalan dan kemenangan. The least we can do is deal with all of it!

Bahasa kalbunya : IKHLAS.

Dan ini susah. :’))

First Trial : #Decoupage

Halooo! Lama bener nggak isi blog.. Bukan karena nggak ada hal yang ingin diceritakan, tapi ternyata bulan Juli ini jadi bulan yang cukup drama alias amsyong buat saya. Riweuh!

Anyway, selamat Idul Fitri, ya.. Sebagai orang Indonesia, maka lazimnya, saya akan memohon maaf lahir batin, jadi dari bulan Syawal ini, kita kembali dari Nol lagi. (APANYA?) :p

Nah, kalau sudah memasuki libur lebaran yang panjangnya suka nggak masuk akal, saya suka cari-cari kegiatan. Dari dulu, saya kurang sreg dengan konsep libur kelewat panjang. Otak suka jadi idle, kak. Mendingan cari kegiatan apa gitu, ya, yang bikin otak tetap bekerja, jadi nggak diam saja.

Kayak beberapa waktu lalu, akhirnya saya coba yang namanya Decoupage. Saya kenalan sama keterampilan ini dari Ibu, yang sudah lebih dulu kena racun tempel tissue.You know crafting can be that addicted, right?

Jadi apa, sih, Decoupage itu?

de·cou·page.
dāko͞oˈpäZH/
noun 
the art or craft of decorating objects with paper cut-outs.
Originally from France, 1960.
Ibu sudah membuat banyaaakkk sekali kerajinan menempel kertas tissue ini, dari mulai tas, dompet, box, kaleng, topi, kanvas, hingga botol kaca. Ini dia beberapa hasil karya beliau:
Tadinya saya nggak tertarik mencoba. Bukannya apa-apa, tapi takut ketagihan. Hahahaha.. Hingga kemarin, ketika mengantar ibu belanja perlengkapannya di daerah Cimahi, saya ketemu sama kertas tissue bermotif rubah. Yes, they have Fox. In the wood! Lucu banget, jadinya beli, dan akhirnya memutuskan untuk minta diajarin sama Ibu. Dan korban percobaan pertama saya adalah clear case hp dari silikon yang jarang saya gunakan. Gimana, Saz? Susah? Namanya keterampilan, jadi butuh tangan telaten dan sabar. Dari mulai ngelupasin si lapisan tissue, nungguin Gesso kering, nungguin cat kering, nungguin lem kering. Hidup nunggu! Hehehehe..

Nah, kalau mau cari tahu lebih banyak soal Decoupage, bisa Googling dulu. Kalau nggak nemu jawabannya, terus mau tanya ke sini, monggo juga, nanti saya teruskan ke ibu. Untuk perlengkapan dasarnya bisa dimulai dengan:

  • Gesso
  • Cat Akrilik
  • Lem atau Modge Podge
  • Kuas
  • Kertas Tissue yang untuk Decoupgade
  • Hair dryer kalau mau mempercepat proses pengeringan.
  • Clear Varnish

Umm, kayaknya sudah semua, sih! Semoga nggak kurang lengkap hihihihi. Jangan lupa sediakan waktu yang cukup supaya nggak banyak gangguan (seperti cucian yang harus dijemur atau nyuci piring yang numpuk, atau anak balita yang lari-lari sembarangan). Saran saya, mending pas anak tidur siang atau ya, malam hari. Karena kalau lagi bikin-bikin begini, nggak enak jika ada interupsi x)

Selamat mencoba!

 

 

#SepertinyaKualat Part Deux!

Sudah lihat videonya? Di sini, Menik bercerita tentang Three Little Pigs and The Big Bad Wolf. Menik ini mudah menghafal cerita yang saya bacakan. Cukup dibacakan 2-3 malam berturut-turut, besoknya pasti sudah hafal.

Nah, sebetulnya duluuuu waktu lagi hamil, saya suka mengernyitkan dahi setiap mendengar anak kecil di Indonesia, yang orang tuanya pure orang Indonesia, ncusnya juga orang Indonesia, tapi anak ini berbicara bahasa Inggris. Dan dicampur-campur. Misal:

“Sus, ayo kita kasih makan fishnya! Ikannya hungry, Sus!!”

“Hai cat! Look, cat-nya cute banget, Mom!”

*Rolling Eyes*

Dan karena waktu itu saya hamil, saya mengusap perut dan bilang “Duh, kalau nanti punya anak, nggak mau kayak gitu!” *nada nyinyir*

Lalu dihardik suami “Sstt, nggak boleh gitu. Kualat, nanti!”

“Iyaaa, maksudnya semoga anak kita bisa ngomong bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau mau ngomong bahasa asing juga ya, yang bener. Nggak dicampur gitu..” *nada kalem*

Waktu berlalu, dan anak yang tadinya ada di dalam kandungan sudah hampir berusiang 5 tahun. Senang dibacakan buku, dan alhamdulillah ada rezeki untuk membeli berbagai buku anak-anak. Bukunya ada yang bahasa Inggris, ada juga yang bahasa Indonesia. Campur gitu aja. TAPI, lagi-lagi sepertinya saya kualat ini. Karena udah kenalan sama YouTube dan NickJr, jadi anak ini seneng berbicara pakai bahasa Inggris! Walau kalau saya tantangin balik, lalu dia rikues “Bu, pake bahasa Indonesia saja, ya!” tapi kalau lagi main sama temennya, mereka main sambil ngobrol pake bahasa Inggris. AJAIB tapi kesel dalam hati. “Yailah, Menik. Ngemeng apaan??”

Tapi ini murni selera pribadi, sih. Menurut saya, baiknya memang anak-anak ini berbahasa ibu dulu dengan lancar. Baru setelahnya, belajar bahasa asing sebanyak-banyaknya.:)

Lagi-lagi kualat, gaesss!

#SepertinyaKualat

kualat/ku·a·lat/Jw a1 mendapat bencana (karena berbuat kurang baik kepada orang tua dan sebagainya); kena tulah; cak celaka; terkutuk

Wah, kalau lihat arti kata ‘kualat’ di KBBI, lumayan menyeramkan, ya! Kata ini sering sekali digunakan untuk mengancam atau menakuti seseorang setelah perbuatan yang kurang menyenangkan atau negatif. “Awas, loh, nanti kualat!!” Begitu, ya, biasa terdengar di telinga, sebagai sebuah peringatan setelah melakukan suatu hal yang dianggap jahat atau kurang baik.

Back to 2006, status saya single, belum punya suami. Life was about fun! Bekerja di sebuah radio anak muda nomor 1 di Bandung, berusaha menyelesaikan kuliah, dan menyelaraskan mulut yang nggak ada saringannya. Untuk yang satu ini, saya akui, saya memang kehilangan filter di mulut (dan mata. Dan wajah) Hahaha. Entahlah, seringkali kata-kata yang meluncur dari mulut saya, kabarnya menyebalkan bahkan menyakitkan. Duluuuu, malahan ada seorang kerabat yang menegur ibu saya dan bilang “Anak kamu kenapa sama saya? Kok mukanya jutek gitu?” Ibu saya bingung karena melihat saya tidak melakukan apapun, dan karena saya anaknya, ya, Ibu saya tahu bahwa raut wajah yang anaknya perlihatkan itu adalah raut asli tanpa emosi. IYA. DILAHIRIN JUTEK, maksudnya! x))

Anyway, saat saya sering sekali makan malam di luar bersama teman-teman. Makan atau sekadar ngobrol sambil ngopi. But we did that quite often.Dan jika sedang ngumpul sama teman-teman, saya sebal kalau ada anak kecil laril-lari dan berisik di seputar restoran. Ganggu! “Hih! Anak siapa, sih, ini? Ibunya di mana?” dengan pandangan tajam dan berusaha mengatur emosi, “namanya juga anak-anak!” Situasi ini membuat saya berjanji pada diri sendiri, “Kalau nanti punya anak, saya akan berusaha mendidiknya dengan baik. She or he will behave! But you know that talking is cheap, right?

Tahun 2011 saya melahirkan seorang anak perempuan, tahun ini usianya hampir 5 tahun. Dan anak perempuan saya ini ternyata membuat saya merasa #SepertinyaKualat !! HAHA! Jadi, Menik ini punya teman dekat, yang nggak tahu kenapa kalau setiap ketemuan, pasti reaksinya lebayatun alias berlebihan. Bisa pelukan lama dan saling menyapa rindu, seolah sudah puluhan tahun tidak ketemu. Lalu lanjut dengan teriak-teriak dan lari-larian.Kayak begini:

HADEEEEUUUUHHHH! Anak siapa sih itu?? Kebayang kan, gimana ganggunya mereka di sana? *salim satu-satu*

Bener-bener, deh. Rasanya malu. Saking malunya dan karena susah ngasih taunya (abis dikasih tau, diem 3 menit. Terus diulangi lagi), kami udah berusaha cuek. Dan kalau ada tatapan mata menghardik, kami cuma bisa melemparkan tatapan “punten, ya!” Ehe.. ehe.. ehe! Sepertinya saya beneran kualat ini, sih. Karena dulu, sebelnya luar biasa.. Haha!

Pernah merasakan kualat juga? x)