Membereskan Ruang Bermain

Saya udah janji lama, ya, terutama di Instagram pas posting berhasil membereskan kamar main Menik, tapi baru sempat sekarang nulisnya. Nggak apa-apa, yaa..

Jadi begini, loh, beberes adalah salah satu terapi kewarasan untuk saya. Sejak dulu, kalau ada hal yang mengganjal dalam hati dan perlu pelampiasan untuk mengeluarkan energi negatif pilihan saya ada tiga: ngosek kamar mandi, bongkar dan rapihkan ulang isi lemari pakaian, atau beresin kamar. Jadi bukan pencitraan, emang dasarnya jiwa beberesnya sangat kuat, HAHAHA!

Anyway, sudah beberapa kali sebetulnya saya merapihkan kamar main Menik. Menik ini rezekinya alhamdulillah banget, ada aja yang kasih atau beliin mainan. Bisa kakek-nenek, bisa saudara atau bisa juga sebuah brand yang nawarin untuk endorsement. Alhamdulillah, sih, mainan 80% dapat gratis. Tapi astaghfirullah juga kalau udah lihat Menik mainin semuanya. Sejak nggak punya jatah nonton TV dan main hape, Menik jadi lebih aktif ngacak-ngacak kamar mainnya. SEMUA DIMAININ! (T____T)

Sebagai ibu yang suka bersih-bersih, saya sedih banget kalau lihat keadaan kamar main Menik. Karena ada teori mendidik anak yang bilang “Children see, children do” Saya serasa ingin teriak “MANAAA? BEBERESNYA NGGAK RAPIHHH!!” hahahhaa.. Menik bisa dan selalu saya ajak untuk merapihkan mainannya, tapi ada saat-saat Menik keburu tidur, lupa beresin, dan saya keburu gatal untuk membereskan ruangannya. Walau belakangan ini, Menik makin rajin beresin mainannya, tetap saja masih harus diingatkan kalau setiap selesai bermain, harus dirapihkan.

Karena rezeki yang saya bilang cukup tadi, mainan Menik ini makin lama makin numpuk. Lah, ruangannya kan nggak ikut jadi besar, hasilnya? Mumet mata! Pusing banget lihat volume mainan, bahkan ada mainan yang sebetulnya udah nggak kesentuh sama Menik, jadilah saya mencoba mencari cara untuk merapihkan mainannya.

Sebelum sempat merapihkannya, saya sempat jadi MC dulu di acara OLX, dan biasa, deh, kalau jadi MC suka dapet ilmu yaa.. dan kali ini dapat dari Nadya sang Psikolog Rumah Dandelion yang bercerita tentang habit tukang tumpuk barang atau hoarder dan juga metode KonMari alias melepaskan barang-barang yang sebetulnya tidak ada koneksi lagi dengan diri kita dan cara menyimpan barang-barang agar lebih rapih dan teroganisir.

Jadi dapat ide, deh, untuk membereskan ruang bermain Menik dengan metode ini. Menik diajak nggak? Ya iya, dong, kan itu barang milik Menik hahaha.. biarin aja dia yang nentuin sendiri, jadi nanti kalo tiba-tiba keinget dan nanyain, gampang jawabnya. Metode KonMari ini awalnya emang bikin kita lihat semua barang yang kita miliki.

LOOK AT THOSE STUFF!! -____-

Tiga cara utama untuk beres-beres ala KonMari adalah:

  1. Ingat-ingat bahwa tujuan akhir membereskan barang bukanlah membuang atau menyumbangkan barang sebanyak-banyaknya, tapi menyortir dan menyimpan barang yang bisa membuat kita merasa terkoneksi dan bahagia. Jadi pas beres-beres, setiap megang barang tanyakan pada diri “does this spark joy?” Pas kemarin beresin mainan Menik, saya lihat kondisinya, saya ingat-ingat juga kapan terakhir ia mainkan. Kalau sudah lebih dari 3 bulan tidak pernah disentuh berarti saatnya masuk box buang atau box sumbangkan. Kalau masih pernah dimainkan, saya tanya ke Menik “ini masih mau digunakan? mainan ini bikin Menik merasa senang nggak? Kenapa?”
  2. Sortir mainan berdasarkan kategori. Saya mulai dari Lego, kertas, alat tulis dan menggambar, puzzle, princess figures, dough, boneka, buku, dokter-dokterran mainan lain-lain (HAHAHHA ini bingung beneran, jadi kayak mesin kasir, tea set, payung, stroller mainan, dan lainnya, ada di kategori mainan lain-lain).
  3. Atur kembali mainan di tempat yang sudah diberi label sesuai kategorinya. Menurut Marie Kondo, menyimpan barang sesuai kategori dan ditata agar mudah diambil akan menghindari kita dari hoarding alias menyimpang barang tanpa digunakan kembali. Mudah dicari, mudah diambil, dan mudah dikembalikan.

Sudah, deh! Hasilnya, hari itu saya berhasil menyingkirkan dua dus mainan yang ternyata sudah tidak pernah digunakan. Ada yang saya sumbangkan, ada juga yang saya buang karena memang sudah tidak bisa digunakan. Ini dia kondisinya setelah dirapihkan:

img_0415img_0466img_0467img_0475

Sejak diajak menyortir barangnya, Menik jadi lebih bertanggung jawab mengembalikan mainan ke tempatnya. Karena saya tidak mau menjadi ibu yang harus mengingat-ingat di mana si anak meletakkan mainannya. Prinsipnya: Menik yang main, Menik yang rapihkan. Jadi kalau Menik lupa menyimpan, ya Menik ya tanggung akibatnya x))

Yuk, mainan dan ruangannya dirapihkan! 😉

Advertisements

Perfectly Perfect Life

Ada yang mengikuti serial Black Mirror? Saya mengetahui serial Netflix ini pertama kalinya dari Ajeng alias Miss Kepik. Penasaran karena biasanya yang ditonton Ajeng ini seru-seru dan berisi, gitu. Pas nonton rasanya stress, sih. YAWLA, INI SERIAL DITUJUKAN UNTUK BIKIN PENONTONNYA DEPRESI APA GIMANA? Cicipin, deh. Karena setiap episodenya, ya, nyambung banget sama kehidupan sehari-hari, kemajuan teknologi, dan media sosial. JRENG!

Anyway, salah satu episode yang paling relatable sama hidup saat ini adalah Nosedive, ada di season 3 episode 1.

nosedive1

See something familiar? Saat ini hidup kita udah begini, kan? Banyakan lihat ke ponsel atau gadget ketimbang melihat mata si lawan bicara. Settingan warnanya juga pastel mania gitu, pokoknya hidup di dunia Pinterest dan Instagram. Dan isinya tentang sentilan satir tentang citra yang ingin kita pajang di media sosial, bagaimana kita takut dinilai buruk oleh orang lain sehingga terkadang yang kita lakukan adalah palsu. Quoting the creator and writer, he said “it’s basically the world we living” -Charlie Brooker.

Terus kenapa, Ki?

Ya nggak apa-apa, sih, cuma ternyata ini bisa disambungin sama unggahan pendapat saya tentang seorang artis/penyanyi yang fotonya muncul di laman explore IG saya. Fotonya agak ganggu, buat saya yang juga menyusui anak saya. Mbaknya baru nyusuin 40 hari, saya waktu itu nyusuin 3.5 tahun :)) Fotonya memperlihatkan kalau mbaknya tidak bisa nyoblos sendiri karena sedang menyusui. Both hands were occupied and so her sister helped her to vote.

Tarik mundur dikit, saya mengalami kesulitan beradaptasi saat menyusui Menik. Butuh tiga bulanan untuk bisa ikut menyatakan kalau “menyusui itu mudah!” Tiga bulan pertama, sih, penyataan yang keluar “SIAPA YANG BILANG NYUSUIN ITU GAMPANG? HA?” x)) Nah, karena saya tahu menyusui (dan prosesnya) itu bersifat personal, saya coba cek IG mbaknya dulu, dan JRENGGGGGG… hehehehee.. Lah, kalau menurut mbaknya menyusui itu adalah hal yang natural dan mudah, kenapa susah-susah amat pas mau nyoblos? Petugas TPS juga kenapa bolehin, ya? Ceritanya pakai peraturan KPU nomor 31-32 (CMIIW) tentang keterbatasan fisik dan hak menyoblos. Yakali menyusui jadi keterbatasan fisiknya? Atau gimana?

Elena-Oliva-Photo-RS.jpg

Lihat, dong, Olivia Wilde. Nyusuin sambil makan? Not a problem!

Menyusui memang membutuhkan kekerasan kepala, menyusui memang boleh di mana saja, kapan saja, saya sering sekali menulis tentang hal ini. Ada tulisan saya untuk mendukung hal ini di sini. Lalu saya juga pernah menulis soal keputusan menyusui lebih dari 2 tahun, yup, I breastfeed my baby for 3.5 years! Dan masih banyak lagi, kenapa? Karena saya memang ingin semua ibu di Indonesia bisa menyusui, tapi menurut saya, ya nggak gitu-gitu amat, sih, hahahaha.. Memangnya mbaknya nggak mau merasakan nikmatnya menyusui sambil makan bakso, ya? Eh, itu mah saya aja kali, ya.. hauhauhaa.. skill dalam dunia ibu, tuh!

Saya nggak punya banyak foto menyusui pas Menik masih bayi, nggak ada yang motretin soalnya, HAHAHHA. Kalau yang ini, bahkan nggak pakai apron, dan saya bukan ibu-ibu pengguna daster. Saya geng kaos lebar, sih, hahaha.. but yeah, ini pilihan aja, yang penting bisa nyusuin di mana saja, kapan saja.

ebf

ebf2

Dan makin lama makin jagoan, nanti bisa gini: 


Nah, karena kaget dengan foto tersebut, saya otomatis nulis di Path. Saya cuma berbagi saran bahwasanya si mbak kudu latihan lebih giat, berbekal tangan yang sudah setrong, harusnya bisa nyusuin dengan satu tangan, hehehee.. di luar dugaan, yang komen BANYAK BANGET. I can say, that post was my top post so far in 2017, hahahaha.. Ya ampun, baru sekali itu ngepost di Path, komennya sampai 80-an. Belum lagi postingan selanjutnya dengan belasan komentar. Sampai saya bikin klaim bahwa saya nggak ada masalah apapun dengan mbak ini, tapi saya gerah dengan picture perfect di kehidupan IG-nya yang dipertontonkan ke banyak sekali followersnya.

Karena banyak sekali komentar, saya jadi scrolling ke bawah postingan mbaknya, kan. Di situlah saya jadi tahu kenapa BANYAK sekali yang ikut berpendapat di postingan saya. Hampir semua pernyataan si mbak di caption IG-nya ini terasa mengintimidasi dan snob. She even stated that baby blues doesn’t exist. Wow. I mean really wow. Mungkin baby blues-nya nggak mampir atau cuma selewat dalam hidup mbaknya, tapi jangan lupakan kasus-kasus baby blues di seluruh dunia bahkan post partus depression yang memang ada. Kalau saya mencoba jujur dan bercerita di sini. Bisa juga coba mampir ke www.scarrymommy.com  atau cek www.tovaleigh.com, deh. Bagaimana kehidupan nyata ibu-ibu di seluruh dunia ini ditulis dengan apik, dan ya.. apa adanya.

Maksudnya begini, kalau memang mau menampilkan kehidupan yang bahagia adem wangi sepanjang masa di IG-nya sih, nggak masalah, tapi yang bener aja, dong pencitraannya. Bikin deg-deggan ibu-ibu yang melahirkannya dalam jangka waktu berdekatan, loh. Nggak empati banget sama yang kena baby blues, kena seret ASI, payudara bengkak dan lainnya. Sebaik-baiknya kan saling mendukung dan berbagi, bukan membuat pernyataan snob yang mengakibatkan ibu-ibu lainnya gempeur.

Terus inti dari postingan ini apa?

Apa, ya? Hahahaha, sirik tanda tak mampu. Itu, sih kayaknya, hauauahuahaaa… Sirik karena lihat feed IG-nya sempurna banget, ibu-ibu lain mah, nggak ada seujung kukunya. Ibu-ibu yang mompa sambil ngetik di cubicle-nya atau ibu-ibu yang nyusuin sambil belanja di pasar buat masak makanan nanti di rumahnya, nggak ada apa-apanya. Pokoknya klean semua nggak ada apa-apanya karena hidup klean nggak seindah Instagram dan Pinterest. Begitu, tuh, kira-kira, ya.. rasa dari postingan foto dan captionnya.

dan saya jadi ingin mengajak mbaknya untuk nonton Nosedive dan akhirnya ingin mbaknya untuk ikut teriak “F*CK YOU WORLD” kalau memang selama ini ada banyak sekali kegundahan yang tersimpan dalam hati, dalam diri sendiri, karena tidak ingin orang lain melihat hal-hal yang sebenarnya terjadi. Lalu baca ini http://www.scarymommy.com/mothers-mental-health-is-everything/ 🙂 Yup, because it’s okay to say “I am not fine!” because we are human, and we’re full of flaws. And it’s okay. Really.

Saya baru jadi ibu selama lima tahunan, saya cuma mau bilang ke ibu-ibu di luar sana bahwa kita boleh merasa sedih. Kita boleh merasa marah, bahkan boleh merasa “kok gini amat, ya, punya anak?” Kalau baca postingan Dewa kemarin di Path “pengin gue pites deh ini anak!” Tentunya Dewa nggak akan mites anaknya beneran, it’s just a feeling. And it’s good to release it. Beneran, deh. Nggak usah takut dengan penilaian orang lain. Karena sesungguhnya sibuk dengan urusan nilai di dunia ini nggak akan ada habisnya. Bagus kita nggak hidup di dunia Nosedive, di mana semua orang bisa menilai dengan gamblang citra yang  ditangkap olehnya. Kita nggak tahu apa yang mereka lihat, mereka akan menilai kita, dan kita juga melakukan hal yang sama. Tapi yang menjalani hidup kita kan kita sendiri. Bukan orang lain. People do judge, so what?

15826558_10154492045654145_3322795877660214602_n

Menjadi ibu adalah hal yang sifatnya seumur hidup. Tidak bisa ditanggalkan dan diabaikan. So be ourselves, be kind to ourselves. Menjadi ibu yang baik dan sempurna adalah impian semua perempuan yang melahirkan, tapi bukan berarti berlebihan dan menjadi jahat ke orang lain. Untuk mbak artis yang baik, jika memang yang ditampilkan di media sosial adalah nyatanya dalam hidup Anda, saya mau menyampaikan permohonan maaf karena salah memberikan penilaian. Karena saya juga seorang ibu dan selama ini hidup bersama dengan banyak ibu-ibu lainnya, dan selama ini belum pernah ketemu sama ibu yang nyoblos dengan bantuan orang lain hanya karena sedang menyusui, hehehe..

13516175_10153935302469145_7880854504923581145_n

So mothers, stay calm, and don’t worry about being a non-flawless mom.


Tambahan cerita nih, saat awal melahirkan, buat jawab pertanyaan yang datang soal “emangnya lo langsung jagoan, ya?”:

Kelihatan bagaimana Menik bisa saya gendong hanya dengan satu tangan, ya. Sering sekali Menik saya gendong atau susuin satu tangan, dan tangan yang satunya saya gunakan untuk makan, minum, mindahin saluran tv, masukin cucian ke mesin, dan lainnya. Menik adalah bayi bau tangan, alias maunya digendong melulu. Sekaligus saya tambahkan info, hehe, kalau Menik saya urus sendirian, nggak bisa nggak karena memang tidak ada bantuan. Saya hanya tinggal bertiga dengan suami dan Menik di apartemen kecil. Jadi Menik sudah saya mandikan sendiri sejak usia 3 hari alias sejak pulang dari RS 😀 Bukan snob ya, ini, realita aja hahahaha.. dan emang sedih plus capek rasanya. Cerita bagaimana saya mendapat julukan “si susah nyusuin” sudah sering sekali saya ceritakan, online maupun offline. Cerita saya nangis di bawah blower AC?  Nanti ajalah, ya. Tapi iya, saya frustasi saat menyesuaikan diri menjadi ibu. Sampai sekarang masih, sih, hahahhaa! Dan percayalah, perjalanan masih sangat panjang 😀

 

 

Stepping Out From Comfort Zone…

“When was the last time you did something for the first time?”

Sejak jadi ibu, hidup saya menjadi cukup teratur. Dan monoton. Apalagi sejak Menik sekolah, seolah-olah semuanya sudah terprogram. Kalau ikutan kegiatan, pasti dalam lingkaran keibu-ibuan. Kalau urusan kerjaan, pasti dalam lingkaran geng komunikasi, bisa ngeMC, bisa juga jadi kacung strakom. Ya gitu-gitulah. Jadi kalau digambarin, saya berpusar di titik yang itu-itu saja.

Pas kemarin lihat postingan Anggi soal Food Plating Workshop, langsung tertarik buat ikutan. Karena bacanya sekilas, jadi yang terbayang adalah latihan mengatur makanan agar enak difoto. HAHAHAH! Ya, I know. Namanya juga ibu-ibu, baca sekilas, lalu impulsif ngajakin Anya buat ikutan, secara kami berdua sering banget ketawa cekikikan kalo soal foto makanan. Nggak usah ditanya, ya, usaha kami gimana. SUDAH SAMPAI DI TAHAP SAMPE NAIK KURSI, tapi hasilnya nggak kayak orang-orang yang udah baik kursi itu. Iya, menyedihkan.. x))

Ternyata pas sudah sampai di Selaras Guest House, tempat #FoodPlatingWorkshop diadakan, ini adalah pelatihan mengatur makanan from scratch! Yup, you read it right, hahahhaa.. and we’re hopeless. Pengajar di kelas ngatur isi piring adalah Dade Akbar dari @warteggourmet.  Selain itu, ada geng pecinta foto makanan dari @Alafoodie. Kelasnya berlangsung dari pukul 8.30 pagi hingga 12.00 siang. Acara ini dipandung oleh ibu Anggia Bonyta mylaff 😀

16508998_215122888957170_4217576824890699706_n

Makanan yang jadi center of attention adalah Karedok dan Nasi Timbel. Ketika Dade menjelaskan soal plating ini, saya beneran hopeless, loh. Karena saya ini adalah golongan yang less art, alias kurang artistik. Baju aja monokrom, kerudung aja polos, sepatu keds juga yang klasik. Iya, monoton, hahahhaa.. jadi pas tau kalau mengatur makanan ini merupakan hal yang artsy, sejujurnya saya mau makan pisang goreng sama ngopi aja! HAHAHAH.

16649288_215105235625602_5537071573385343157_n

Dade menceritakan awalnya bikin akun Warteg Gourmet karena nggak sengaja. Dade pengin memperlihatkan kalau makanan Indonesia juga bisa di-ala-ala, lah.. hehehhee.. tadinya cuma buat konsumsi pribadi dan privat di Path, tapi lama-lama  kumpulan fotonya dijadiin satu di akun IG, dan BOOM! Meledaklah si @warteggourmet. Belum lagi penjelasan di captionnya Dade yang nyebelin model ikan kembung diterjemahin bebas jadi bloating fish, iyah, suka-suka hati Dade aja, yaa.. hahahah, jadinya akun IG Warteg Gourmet hits, deh!

Kelas diawali dengan cerita Dade dan passionnya ngatur-ngatur tampilan makanan di piring. Lanjut dengan plating pertama yaitu: NASI TIMBEL. Dade bisaan banget, sih, nasi timbel dengan lauk ayam lado, tahu-tempe, lalap-sambel, bisa jadi cantik begini, nih:

16602616_215106805625445_7079815128135319620_n

dan Karedok bisa jadi begini:

16508728_215106555625470_4078379600707186455_n

HAHAHA, I am really out of my league!! Ngatur makanan Menik di kotak bekalnya aja gitu doang.

Beberapa kuncinya adalah pemilihan piring saji, potongan makanan, komposisi warna, dan kebersihan. Lalu, teknik ngepretin dan moles saos juga diajarin, nih. Nggak cuma saos, semua kuah dan sambal juga bisa jadi pemanis di piring. Tinggal diatur aja konsistensi kekentalannya, supaya bisa ditampilin cantik. Kata Minimalis juga jadi salah satu faktor di food plating ini ternyata. Jadi isi piringnya jangan keramean, supaya tampilannya tetap cantik. Untuk garnish, edible flowers bisa jadi kuncian. Biasanya warna-warni bunga ini yang akan jadi pengontras. Ya gitulah, pokoknya! HAHA.

screen-shot-2017-02-09-at-6-04-05-pm

Nah, abis Dade kasih lihat beberapa contoh plating, kami ditantang untuk berkreasi. Pertama, nasi timbel. Waktu mengatur nasi timbel, kami boleh melihat dan menjiplak kreasi Dade. Abis gitu dinilai dan dikasih masukan. Saya sama Anya beneran duduk aja di kursi kami masing-masing, saking nggak pengin kena penilaian… HAHAHHA..

giphyvia GIPHY

Anya pakai ikutan aksi tabur bunga segala ala Dade, mayan gaya, ya! Hasil platingnya yaaa.. gitu aja! ~(*_*)~

*beneran, saya nggak pede sama hasil plating saya, nih! :p*

Setelah mencoba mengatur nasi timbel jadi nasi ala-ala cantik, sekarang kami ditantang untuk mengatur karedok di atas piring Kandura. Iya, piring keramik yang cantik dan pastinya bikin tampilan makanan lebih greng, gitu, haha. Karena saya dan Anya di paling belakang, jadinya dapet sisa doang. Bumbu kacang juga udah abis, he-euh, hahhaha seadanya ajalah. Padahal ini jadi kompetisi gitu katanya, kalo menang ada hadiah piring!!

Saya nyobain pake round mold yang sudah disediakan, harapannya si karedok akan berdiri manis. Nyatanya pas diangkat ‘BYARRRR’ hahaha meleber aja. Ya udah, deh, sok dihias pake tahu dan tempe goreng plus kasih bumbu kacang sisa di pinggirannya. Biar kontras, dikasih warna kuning dan merah pakai bunga dari @sweetlovage.id 😀 Pas dibawa ke meja penilaian, Dade bilang udah oke, sih, TAPIIII si karedok ini kayaknya akan berdiri dengan baik kalau pinggirnya dikasih pegangan, seperti TIMUN TIPIS misalnya. YA APA, YAA! Mana kepikiraannn! x)) ahahahahaha dan setelah direvisi sama Pak Dade, jadinya begini, nih:

16640835_215118212290971_2067784847762405061_n

Canggih, ya! Fotonya bagus bener, makasih Sigit! HAHAHA… iyaaa, bukan saya yang motret, ini mah Sigit Hartanto itu tuh, yang motretin, hehehhee.. Karedok Fusion ceritanya :p

We had so much from Food Plating Workshop. Senang nambah ilmu dan teman baru..

16681700_215119015624224_1562320384830693603_n

So what’s the relation between this post’s title and food plating workshop? It’s all about new knowledge. It’s about expanding the vision. It’s about opening wide our mind. 

Saya sih, jujur saja, selama lima tahun ini selalu berada dalam lingkaran yang sama. Yang diomongin setiap hari nggak jauh dari masalah rumah tangga terutama perkembangan anak, dan pergaulan ibu-ibu. Saya belum pernah tahu bagaimana peliknya hidup seorang food plater (is this the right term?). Bagaimana harus mengombinasikan ini dan itu, bagaimana harus membuat makanan terlihat cantik, bagaimana membuat orang ingin memandangi makanan dan sibuk menilai presentasinya, yang mana mustahil terjadi di dunia ibu-ibu. Soalnya saya adalah tipe ibu yang tidak terlalu peduli dengan tampilan makanan yang saya sajikan. Pokoknya saya masak, ya udah, yuk di makan. Nggak mungkin saya hias-hias, hahahhaa.. Nggak pernah kepikiran bahwa di luar sana ada orang yang kerjaannya adalah membuat presentasi makanan yang disajikan menjadi luar biasa.

Habis dari workshop ini juga bukan berarti saya mau menghias  piring saji, ya. Bukan berarti juga saya mau mulai usaha yang membutuhkan skill food plating. Tapi sekarang ada satu pengetahuan baru yang saya dapatkan.

It’s about stepping out from your own zone for a while. And it feels good. 

🙂

So, thank you Selaras for your inspiring class. Always in love.

Gadget Free!

Sudah hampir satu tahun terakhir ini, Menik terbebas dari alat elektronik. Sengaja? Emm, enggak juga, sih. Hal ini sebetulnya jadi bonus dalam hidup saya sebagai Ibu. Mau nulis ini dari beberapa minggu lalu, tapi maju mundur. Biasa, takut dinyinyirin, HAHAHAHA. Takut dibilang sombong.

Monmaap kalo terbaca sombong, ini mah sebenernya beneran cuma mau berbagi.

16406517_10154579114599145_1623365554998752683_n

Tahun 2013, saya menulis bagaimana saya berusaha untuk mendetoks Menik dari gadget. This thing was totally my fault, and believe me, I’m trying to fix it. Detoks gadget ini berhasil, sih, tapi lalu ujungnya saya terlalu langsam terhadap Menik. Saya membiarkan Menik main iPad atau nonton TV, hanya saja saya batasi waktunya. Kayaknya 2013-2016 itu jadi rentang pembenaran terhadap patahnya idealisme saya sebagai ibu.

Mundur dikit, ya. Waktu Menik baru satu tahun, untuk pertama kalinya Menik mendengarkan lagu anak-anak via YouTube! Lalu karena saya punya iPad, jadi seperti anak bayi kebanyakan zaman sekarang, Menik senang sekali melihat cahaya YouTube! yang keluar dari si iPad. Perlahan tapi pasti, frekuensi menonton jadi makin sering. Belum lagi bonus “anaknya jadi anteng” ketika sedang nonton, jadi ENAK. Ya kan?

Keenakan ini bablas, hingga akhirnya saya sadar kalau Menik mulai tergantung dengan YouTube! Menik hafal lagu anak-anak yang hits di playlist YouTube! dari mulai Fingers Songs, Children Lullaby, hingga lagu wajib Sesame Street dan Barney. Selain nonton di YouTube! Menik juga mulai mengoleksi DVD!! yup, you read it right. She has her own DVD collections. And I am not proud of it. Lagi-lagi ini sebetulnya balik ke keyakinan masing-masing, ya. More about it later. Nah, selain YouTube! dan DVD, Menik juga punya aplikasi games semacam puzzle dan kumpulan lagu di iPad saya. Jadi lengkap, deh, hidupnya. Belum lagi setiap jam 8 pagi, pasti nonton Cbeebies. Seru bener kan, kontak sama alat elektroniknyaaa…

Lalu, tahun 2013, saya mencoba mendetoks Menik. Banyak yang bilang saya lebay, tapi bodo amat. Toh, yang saya lebay-in anak saya sendiri :p Bukan anak orang lain. Setelah dirasa anaknya tidak lagi ketergantungan ke gadget, saya mulai melonggarkan aturan. Menik boleh nonton dan main gadget 1-2 jam sehari. Atau biasanya ketika saya tinggal meeting. Supaya tidak rewel dan bikin capek kakek-neneknya, bolehlah main gadget. Menik memang tidak lagi tergantung pada gadget. Kalau saya bilang “tidak boleh”, maka anaknya akan biasa saja. Paling sedikit keki kalau lihat ada temannya yang main hape orang tuanya. Kalau udah melas, saya cuma bilang “Menik anaknya siapa? Ibu punya aturan, jadi ikuti aturan ibu, ya!” Lalu anaknya kesal. Bisa sebentar, bisa juga lama, tergantung suasana hatinya. Tapi biasanya kalau ada teman mainnya, kesalnya tidak akan terlalu lama.

Tahun 2016, Menik mulai sekolah, TK-A tepatnya. Sejak sekolah, saya bilang, Menik boleh nonton kalau hari libur. Alhamdulillah, sekolahnya Menik ini hari Sabtu juga masuk, HAHAHA. Jadi kesempatan nonton hanya hari Minggu. Tapiiii, sudah satu bulan ini, Menik les berenang setiap hari Minggu pagi, jadinya keburu capek, dan biasanya lupa minta nonton tv. Kalau iPad, alhamdulillah, iPad saya rusak. Nggak ada niat pengin benerin. Biarin aja rusak. This is blessing in disguise, literally. Nggak susah cari alasan, nggak perlu bohong, karena memang alatnya rusak. Kalau YouTube! bagaimana? Alhamdulillah, udah nggak pernah minta.

img_7496

Saya juga terpicu sama seorang teman baik yang bercerita bagaimana sunyi di rumahnya karena jarang menyalakan TV, anaknya juga tidak main gadget. ‘Kalau teman saya bisa, kenapa saya tidak?’  ya nggak?

Jadilah saya percaya, kalau ada banyak hal yang bisa dilakukan anak-anak selain duduk diam bercengkrama dengan gadgetnya. Saya juga percaya kalau anak-anak pasti nggak bisa duduk diam di restoran kalau lagi makan bareng teman-temannya kecuali dikasih gadget. Tapi lebih baik, saya kasih pengertian dulu kalau restoran adalah tempat makan bukan tempat teriak-teriak atau berlarian. Bisa cuma dikasih tau sekali? Emm, kalau Menik tergantung moodnya, HAHHAA. Tapi masih bisa dikendalikan-lah.

Lalu kenapa saya, kok, segitunya sama gadget, padahal kerja di dunia digital? Well, yang perlu digaris bawahi adalah ketergantungan pada gadget yang sudah tidak sehat ini akan menjadi hal yang tidak baik untuk perkembangan anak-anak. Urutin satu-satu, coba, ya.

Kesehatan mata

Yup, ini nggak bisa dipungkiri, dong? Kesehatan mata akan terganggu. Coba lihat sekeliling, ada berapa anak yang sudah menggunakan kacamata sejak usia 4-5 tahun? Menurut Anda itu normal, nggak?

Perkembangan bicara.

Gadget memberikan hiburan satu arah. Anak-anak nggak diajak ngobrol. Bolehlah ada developer yang mengklaim “aplikasi ini interaktif kok”, memangnya seinteraktif apa jika dibandingkan saat anak ngobrol dan main bersama kita?

Keterampilan tangan

Anak masih susah menggunakan gunting? Bisa melipat kertas dengan baik, nggak? Kalau sedang menggambar atau mewarnai, sekuat apa tekanan tangan si anak? Apa hubungannya sama gadget? Biasanya kalau lagi main gadget, tangan dan jari-jari nggak perlu bekerja keras. Cukup cubit dikit, kertas ceritanya terangkat. Cukup slide kanan kiri untuk mewarnai atau ceritanya menggunting.

Ketangkasan koordinasi mata dan tangan

Karena terbiasa melihat satu arah ke layar gadget, dan bermain menggunakan sedikit usaha, koordinasi mata dan tangan tidak terlatih dengan baik. Menik itu kesulitan bermain tangkap bola, hingga saat ini. Gurunya sudah bilang dalam 6 bulan ini ada perkembangan yang signifikan, namun koordinasinya masih kurang baik, dan ini berhubungan dengan rentang konsentrasi.

Rentang konsentrasi

Yup, anak akan mudah terditraksi jika sudah tergantung dengan gadget. Konsentrasi penuh hanya terjadi saat sedang bermain dengan gadgetnya. Kalau bukan gadget, anak tidak akan bisa konsentrasi penuh, dan berujung dengan rentang konsentrasi yang pendek.

Adult content.

Nah, ini juga jadi konsentrasi saya. Sejak membantu yayasan JaRI yang memang berkutat dalam hal KDRT dan kekerasan seksual, saya mendapatkan banyak sekali data soal konten digital anak. Bagaimana jahatnya para pemburu anak ini menyusupkan konten yang tidak sesuai untuk anak-anak walaupun parental lock, age lock, or whatever protection you name it, mereka tetap punya selah dan targetnya. Nyata dan menakutkan.

Kesehatan jiwa

Menik, tuh, zaman tergantung sama gadget, mudah sekali marah. Sumbunya pendek banget, cyin. Dan kalau ada keinginan yang tidak dipenuhi, maka akan susah sekali untuk memberi pengertian kenapa keinginannya tidak bisa diwujudkan. Karena apa? Karena terbiasa hal instan via gadgetnya. Ini ada pendapat ahli jiwa soal ketergantungan pada gadget. ‘When people feel an uncomfortable sense of withdrawal when not online, we know that the relationship with technology is not being managed properly,’ (Dr Graham from the Capio Nightingale Hospital, a mental health hospital based in central London). Dan ini tidak berlaku pada anak-anak tapi juga orang dewasa.

Kalau merujuk pada artikel di Daily Mail ini, untuk bisa melakukan detoks gadget, cukup dilakukan selama 72 jam. Treatmentnya mirip dengan para pecandu narkoba, karena dasarnya adalah sama-sama kecanduan. Cut the cord, deal with all distres, and heal together.

Kalau Menik bagaimana?

Seperti yang saya ceritakan di atas, sejak sekolah, mungkin karena sekolahnya setiap hari, Menik tidak ada waktu untuk bisa main gadget. Pulang sekolah biasanya Menik akan bermain di kamarnya. Bisa menggambar, mewarnai, main lego, tea party, make-up session, atau (pura-pura) baca buku.

Sekarang, saya selalu membawa buku gambar dan crayon, terkadang sama buku cerita juga, di dalam tas. Supaya kalau ada waktu kosong dan Menik terlihat bosan, maka saya akan menyarankan Menik untuk menggambar. Jadi pengganti kegiatan bersama gadgetnya adalah menggambar. Sekarang selain sekolah, Menik juga les piano, les menggambar, dan berenang.

Drama distres tanpa gadget terjadi saat detoks pertama kali tahun 2013 itu. Kalau yang sekarang memang beneran mendadak lepas tanpa drama. Ya itu tadi, mungkin karena sekolah dan gak ada kesempatan plus akses ke gadget atau tv, jadi udah aja. Sekarang kalau ditawarin nonton tv juga nggak bertahan lama. Paling 30 menit, udah gitu balik ke kamar mainnya. Lega rasanya si anak bisa enjoy dengan mainan nyata yang ada kamar mainnya. and of course, I am proud. Susah, loh, menghilangkan ketergantungan anak pada gadget, boleh ya bangga dikit sama keberhasilan ini. HAHAHA.

Sekali lagi, saya mohon maaf, kalau artikel ini terbaca menyebalkan dan sok-sok-an. Saya beneran maju mundur mau publikasi cerita ini. Kalau ada yang ngecap syombong, ya udah gapapa, hauhauhauaa. Emang nasib aja, haha! Oh iya, saya juga nggak anti sama gadget, ya gimana dong hidup akohh tanpa smartphone kesayangan. Tapi tidak anti kan bukan berarti boleh ketergantungan, kan? 

Semoga kalau ada yang sedang berusaha menghilangkan ketergantungan pada gadget, usahanya dimudahkan dan cepat berhasil, ya! Semangaaatt 😀

I-Crown, My Dream Floor Standing AC!

Bagi yang tinggal di Jakarta, AC pasti jadi salah satu hal yang paling utama dalam hidup. PANAS banget, kan, ya? Bahkan AC mobil yang terasa super dingin di Bandung, kalau dibawa ke Jakarta pasti jadi biasa aja rasanya. Jadi keingetan dulu zaman masih tinggal di Jakarta, AC merupakan kebutuhan rumah tangga yang saya perhatikan. Maksudnya dari semua peralatan di dalam rumah, AC selalu dapat perhatian lebih, karena kalau AC bermasalah, hancur dunia persilatan. Bisa bete seharian karena kegerahan.

Sejak pindah ke Bandung, saya udah nggak pakai AC di rumah. Tapi pas kemarin akhirnya punya kantor sendiri, mau nggak mau mikirin AC lagi. Mulailah browsing-browsing. Dan karena ruangan kantor kami tidak besar, saya kepikiran untuk mencari AC yang bisa disimpan di lantai saja. Ada beberapa pilihan yang nyangkut di mata, tapi merek GREE ini yang paling menghantui, hahaha!

greee

Bukan menghantui, sih, tapi paling kebayang-bayang terus nih si model I-CROWN. Ini tuh Floor Standing AC gitu, jadi selain fungsinya sebagai pendingin ruangan, juga bisa jadi aksesori, deh. Selain modelnya, apa lagi, sih, yang saya cek saya mencari AC?

Pertama, saya, tuh, mau AC yang ramah lingkungan. Ini adalah hal utama yang jadi perhatian saya perkara peralatan elektronik yang akan saya gunakan. GREE ini udah mengusung teknologi inverter yang pastinya bikin produk-produknya hemat energi yang minim polusi, lalu daya dan tegangan awalnya juga rendah. Jadi tagihan listrik juga nggak akan tiba-tiba bengkak. Selain hemat energi, ternyata GREE juga memiliki berbagai macam filter untuk menghasilkan udara bersih. Ini yang saya butuhkan, karena saya dan Menik punya love & hate relationship dengan udara. GREE punya pembersih otomatis, anti bakteri dengan Cold Plasma, filter HD, dan filter DIY.

Kedua, soal garansinya. Ini penting banget, kan? Gree punya promo “180 Hari Ganti Baru” yang beda nilainya dengan garansi teknis yang umum diberikan, semacam “garansi 3+5 tahun” itu. Promo 180 Hari Ganti Baru ini menjamin konsumen akan mendapatkan barang baru sebagai gantinya jika terjadi kerusakan pada produk mereka, asal memang sudah mengikuti arahan resmi, ya. Jadi kalau pas beli, 10 hari kemudian ada kerusakan, GREE akan kasih pengganti berupa produk baru yang sama. SENANG SEKALI, KAK! Promo 180 Hari Ganti Baru ini berlaku sampai 20 Desember 2016, aja, sih. Jadi kalau mau dapet promonya, ya cepetan aja ambil keputusannya.

gree2

Tapi GREE ini sebetulnya produk mana, sih? Gree baru saja membuka cabangnya di Indonesia pertengahan tahun 2015 kemarin. Tapi perusahaannya sendiri yang berasal dari China ini sebetulnya sudah berdiri sejak tahun 1991. GREE juga jadi salah satu official Air Conditioner di Olimpiadi RIO 2016, loh. Dan di Indonesia, GREE sudah dipercaya untuk menjadi pemasok AC oleh beberapa perusahaan ternama.

gree3

Selain tipe I-Crown, ada model-model lainnya juga yang nggak kalah cantik buat mendingingkan ruangan. Ditambah lagi fitur-fitur canggih yang seperti bisa restart otomatis, self diagnosis, 3D Fan, Soft Fan, dan juga touch control, akan menambahkan kenyamanan saat kita menggunakan AC dari GREE.

grreeee

Tapi karena saya lagi ngecengin AC dengan model berdiri, jadi pilihan utama tetap ke I-Crown ini. Pernah kepikiran nggak buat punya AC model berdiri begini di kamar atau rumah? Saya sih, beneran ngecengin, jadi nggak bosen liat AC nempel di dinding aja. Semoga nambah referensi buat yang lagi nyari AC ya! 😀

Selaras Inspiring Class : Hand Lettering Workshop!

Sebelum cerita jalan-jalan singkat di Jogja kemarin, ceritain yang tadi pagi kejadian dulu ya.

Biasa, si ambisius, baru pulang dari Jogja dan sampai di Bandung pukul 5.30an padahal tapi tetap masuk kelas belajar menulis indah, dong, yang udah susah-susah disimpenin seat-nya sama Feni alias @besinikel yang jadi mentor di Selaras Inspiring Class hari ini.

11

Jadi ternyata kelas ini merupakan rangkaian dari perayaan HUT @Emeno_Nursing yang ke lima. Emeno membuat serangkaian acara bertema Empowering Mama, untuk menyemangati para ibu terutama ibu baru melahirkan dan menyusui yang terkadang merasa useless karena nggak ada kegiatan lain selain menyusui dan menyusui. Di Bandung, Emeno bekerjasama dengan Selaras, guest house yang nyaman banget dan ada di tengah kota Bandung, menggelar kelas singkat belajar menulis indah yang kekinian: Hand Brush Lettering!

Let’s take one step back first, saya harus akui kalau saya ini ingin sekali bisa berkesenian dengan tangan. Pas SD sudah pernah les menyulam dan scrapbooking. Lalu kemarin sempat ikut workshop menyulam, dan hari ini berkesempatan ikutan kelas pendek hand lettering. Ketika hand lettering ini menjadi tren, saya takjub dam gemas melihat kelihaian tangan orang-orang menggunakan kuas dan tinta. Jangankan menulis menggunakan kuas, mewarnai pakai cat air saja susah! Rasanya emang nggak jodoh sama cat dan kuas. Kecuali cat temboh rumah dengan roller brush yang tinggal sret-sreet!

Happy banget pas nemu pengumuman Feni di IG-nya. Dan rezeki, ya, walau last minute baru bisa konfirmasi, tetap kebagian satu seat. Tadinya, saya udah mau mengundurkan diri aja, mengingat jadwal kereta sampai di Bandung jam  5.21, tapi ada suara yang bilang “kesempatan tidak datang dua kali”, jadi cuss deh ke Selaras dalam keadaan trippy alias setengah sadar karena semalam di kereta hanya tidr sekitar 3 jam, hahahaha.

Kelas dibuka oleh Adenita, Anggi, dan Feni. Lalu langsung ke materi utama yaitu Basic Strokes! Kayak gini nih:

2

Gampang, ya? IYA, GAMPANG KELIHATANNYA! Ada teknik memutar, mengangkat, dan menekan kuas untuk bisa menghasilkan garis yang indah. Eh, sebelumnya dikenalin dulu, deng, sama alat-alatnya. Ada kuas, yang banyak jenis-merek-dan nomornya, tinta cina, dan cat air. Lalu ada kertas HVS 100 gram untuk berlatih dan dua watercolor paper untuk berkreasi di akhir kelas.

Feni mengajarkan cara membuat garis lurus, miring, meliuk, tebal, dan tipis. Setelah itu boleh, deh, mencoba belajar menulis sesuai keinginan masing-masing. Ketika membuat garis, saya merasa tidak ada kesulitan. Frustasi dimulai saat membuat garis tebal yang rupanya tidak semudah tangan-tangan di video yang bertebaran di Instagram. Ada cara menyapu kuas agar tidak terputus dan konsisten.

3

Oh iya, ternyata hand lettering ini merupakan salah satu terapi ketenangan, kalau memang bisa dinikmati. Menurut Feni, setiap orang memiliki kesukaan yang berbeda, dan Feni menemukan ketenangan saat duduk diam berkreasi bersama kuas dan catnya. Ya, mungkin sama seperti saya yang merasa tenang kalau bisa makan pisang goreng, bala-bala, dan kopi susu sepuasnya, HAUHUAHUAHUAA..

 

Happy sekali hari ini bisa ikutan Selaras Inspiring Class. Semoga ada banyak kelas pendek lainnya yang bisa membuka pengetahuan, pengalaman, dan menambah pertemanan tentunya. Selamat ulang tahun buat EMENO Nursing Wear, semoga dagangan makin laris, dan makin banyak memberikan inspirasi untuk perempuan di Indonesia.

4

**

All photos taken from Selaras Guest House Facebook Page, captured by @Niseng and his friend. :))

That Good Old Days

Masih teringat dengan jelas dalam ingatan, bagaimana dulu saya bisa dengan mengkoleksi beberapa hal seperti buku dan sepatu tanpa perlu memikirkan “gimana cara bayarnya?” Hahahahaa.. Yup, that good old days which sometimes make me think that being an adult is so overrated! Tidak pernah terpikirkan kalau perubahan status menjadi ibu akan mengubah skala prioritas saya dengan drastis. Bahkan kadang niat pergi ke satu gerai untuk kebutuhan saya, ujungnya malah beliin buat anak lagi. That’s happened A LOT!

Jadi sudah hampir 5 tahun, saya nggak beli baju atau sepatu secara rutin. Kalau bisa tunggu harga diskon semaksimal mungkin, jadi budgetnya bisa dibagi beli sepatu anak sekalian. *See, anak lagi ujungnya* Suami saya sering mengingatkan, sih, kayak “Bu, beli aja. Nggak apa-apa!” Saking kasihan kali lihat istrinya, hahahaa. Padahal saya nggak merasa apapun. Memang rasanya sayang jika harus beli sesuatu dengan harga yang lumayan, padahal dengan jumlah segitu, anak saya juga bisa mendapatkan sesuatu.
Ada beberapa hal yang belum terwujud lagi karena prioritas menabung pindah posnya. Salah satunya adalah membeli mobil baru. Saya merasa butuh satu city car untuk mobilitas saya. Lagi-lagi alasannya adalah anak. Memasuki musim hujan, rasanya satu mobil kecil diperlukan buat antar jemput Menik sekolah dan les. Walau sebetulnya saya lebih senang naik kendaraan umum dan motor bersama suami, tapi kalau udah musim hujan, baru berasa butuhnya.
I really want to go back to that good old days, when I didn’t have to think hard how to make my dream come true. HAHHAHA. Ya iya, dulu juga nggak langsung terwujud, sih, tapi kan kita nggak mikirin itu uang datangnya dari mana. Taunya setelah menunggu beberapa saat, hal yang kita inginkan dan butuhkan, bisa ada di depan mata. 
Kembali ke cerita pengin beli satu mobil kecil, saya udah mulai menabung sih, maunya nggak pakai nyicil supaya nggak perlu utang lagi ke bank, cukup KPR ajah. Terus mulai kepikiran gimana caranya supaya pundi-pundi makin cepat kekumpulnya? Terus mata tertuju ke beberapa kontainer di gudang yang berisi buku-buku zaman remaja, beberapa sepatu yang jarang sekali dipakai, baju pesta sekali pakai zaman belum berhijab yang biasa dipakai ngelenong alias jadi MC, sampai perlengkapan Menik saat masih bayi dan balita yang semuanya teronggok di gudang. Nah, terus keingetan sama Pasar OLX yang waktu itu saya kunjungi di CiWalk, Bandung, dan berniat mau jual-jual beberapa barang bekas di OLX aja!

Jadi sekarang ada #BekasJadiApapun di OLX, yang bisa jadi tempat untuk jualan barang-barang tak terpakai dan bisa jadi alat untuk mewujudkan impian kita! Apapun impian kita, termasuk juga liburan! #BekasJadiApapun juga memberikan inspirasi buatku kalau barang bekas pun bisa jadi liburan. Serunya lagi, OLX bagi-bagi tiket gratis Jakarta – Singapore PP. 

 Udah ngebayangin beberapa items yang mau saya masukin ke #BekasJadiApapun dengan harapan terjual dan bisa jadi salah satu sumber tambahan tabungan.
Udah kepikiran mau pilihin barang yang udah nggak kepake buat dijual di #BekasJadiApapun belum? Coba mundur selangkah, terus lihat dengan seksama. Ada berapa banyak barang yang ‘nganggur’ dan sebetulnya sudah tidak terpakai lagi di sekitar kita? 🙂